
Di kamar, Ilham sedang menelan kekecewaan terhadap orang tuanya. Dimana, Bapak dan Ibunya tidak memberitahu sama sekali tentang pernikahan Kirana yang kedua.
Sungguh Ilham merasa tidak habis pikir. Bagaimana orang tua yang di sayanginya begitu tega. Ilham, kali ini tidak berpikir secara jernih.
Dirinya diliputi emosi dan kekecewaan yang besar dalam hatinya. Sampai saat ini, Ilham tidak bisa melupakan mantan istrinya itu walau sudah berusaha mencoba.
Akan tetapi, semenjak tahu bahwa Kirana menikah, Ilham semakin gila dan ingin bertemu Kirana setelah beberapa tahun tak bertemu.
"Kirana…! Dek, Mas masih sayang padamu, Mas gak bisa melupakan kenangan kita dulu walau berusaha melupakan." lirih Ilham berucap.
"Tapi kamu dan orang tuaku sama saja. Kalian tega tidak memberitahuku. Mas ingin bertemu sekali lagi Dek!" monolog Ilham di tempat tidurnya.
Setelah beberapa saat berbicara sendiri, Ilham akhirnya tertidur sambil bergumam menyebut nama Kirana.
***
Di tempat lain, Fahiz dan Kirana yang telah menyelesaikan makan malam bersama keluarga. Segera menuju kamar mereka untuk mempersiapkan keberangkatan ke Bali sesuai keinginan Kirana.
"Mas, setelah sampai disana. Aku ingin ke Pantai Kuta Bali. Aku ingin, bermain pasir sampai sepuasnya." ucap Kirana seraya menata pakaian suami dan dirinya.
"Iya sayang, akan kukabulkan permintaanmu," ucap Fahiz tersenyum memandang wajah istrinya.
"Terimakasih Mas."
__ADS_1
"Sama - sama sayang,"
Setelah semuanya beres dan lengkap, keduanya segera tidur agar perjalanan besok lancar dan tidak ada halangan apapun.
***
Keesokan harinya, Fahiz dan Kirana bersiap - siap berangkat. Akan tetapi, Mama Heni seakan gak rela ditinggal pergi menantunya tersebut.
"Ma, kita pergi ke Bali hanya empat hari saja! Lagian, Fahiz ingin berdua dengan Kirana tanpa ada gangguan sama sekali." tegas Fahiz memberi pengertian kepada mamanya itu.
"Baiklah, janji ya hanya empat hari saja!" sahut Mama Heni balas menjawab perkataan Fahiz.
"Kalian berdua hati - hati di jalan. Jangan lupa kabari Mama kalau sudah sampai di Bali." pinta Mama Heni.
"Iya sayang."
Lalu, Fahiz dan Kirana masuk ke mobil diantar oleh sopir pribadi Mama Heni.
Selama menempuh perjalanan, Kirana dan Fahiz saling memeluk satu sama lainnya. Keduanya, saling memberi kenyamanan untuk menyalurkan perasaan mereka.
Fahiz dan Kirana hanya saling diam dan kepala Kirana bersandar di bahu Fahiz. Kirana ingin merasakan pelukan hangat seorang suami yang selama ini dia inginkan.
"Kenapa hanya diam saja sayang?" tanya Fahiz.
__ADS_1
"Sebentar saja Mas, biarkan Kirana merasakan detak jantungmu, hangatnya pelukanmu." ucap Kirana lirih kepada suaminya, agar hanya suaminya saja yang mendengar kata - katanya.
"Baiklah Tuan Putri, apapun keinginanmu pangeran akan mengabulkannya." ujar Fahiz seraya menggenggam tangan Kirana dan tersenyum bahagia.
Perjalanan menuju bandara masih jauh, ternyata Kirana tertidur dalam dekapan suaminya.
Sesampainya di bandara, Fahiz segera membangunkan istrinya karena sudah sampai.
"Sayang …! Dek, kita sudah sampai bandara. Ayo turun, kasihan Pak Seto menunggumu lama bangunnya." ucap Fahiz pelan menepuk pipi Kirana.
Beberapa kali membangunkan Kirana, akhirnya bangun juga.
"Sayang, tidurmu nyenyak sekali. Sampai bahuku kebas rasanya." ucap Fahiz yang berpura - pura merasa sakit saat bahunya di buat sandaran oleh Kirana.
"Benarkah! Berapa lama aku tertidur? Masih sakit ya? Maafkan aku sayang membuatmu sakit." cemas Kirana seraya memijat bahu Fahiz pelan.
Fahiz hanya tersenyum senang dalam hati saat menjahili istrinya itu. Betapa Kirana masih polos dan itu yang membuat Fahiz makin mencintai Kirana.
Jangan lupa like, komen dan hadiahnya yak.
Selamat Membaca 🤗
Author mau rekomendasikan nih karya yang menarik punya author Age Nairie dengan judul Kamuflase Cinta Sang CEO. Jangan lupa mampir ya gaes.
__ADS_1