Suamiku Bukan Jodohku

Suamiku Bukan Jodohku
bab 69


__ADS_3

"Assallamualaikum," sapa Fahiz saat memasuki rumah rumah mewah milik orang tuanya.


"Waallaikumsalam" sahut orang dari dalam yang ternyata adalah pembantu rumah tangga.


"Eh, Tuan Muda Fahis." ucap pelayan rumah yang melayani keluarga Fahiz.


"Mama ada bi?" tanya Fahiz yang berjalan masuk ke dalam rumah.


"Nyonya Heni, sedang ada arisan bersama teman-temannya Tuan Muda," saya permisi dan kembali ke dapur dulu.


"Baiklah. Ini, tolong simpan di dapur dulu. Aku ingin memberi kejutan kepada Mama nanti malam." kata Fahiz menyerahkan kue ulang tahun kepada pembantunya tersebut.


"Baik Tuan Muda,"


Lalu, Fahiz pun berjalan masuk ke kamarnya yang berada di lantai dua.


Fahiz masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, Fahiz merebahkan tubuh lelahnya sampai terlelap.


***


Di tempat yang jauh.


Ilham telah berada di Lampung dan bertemu Erik di tempat dirinya bekerja. Besok, Ilham akan menemui atasannya, lebih tepatnya mantan atasannya.


Erik adalah sahabat yang mengerti akan keadaan Ilham. Berkat Erik, Ilham mengetahui bahwa Ani telah pergi meninggalkan Perkebunan Sawit dengan kedua orang tuanya. Tanpa memberi kabar atau pun menelpon Ilham untuk meminta penjelasan.


Namun, kenyataan pahit harus diterima Ilham. Sampai saat ini, Ani tidak pernah menghubungi dirinya sama sekali. Bahwa kisah cintanya dengan Ani berakhir semenjak kejadian itu.


Sedangkan Candra, semenjak pemecatan Ilham dan Ani lebih memilih menemani Ani pergi ke kampung halamannya dan melamar Ani saat itu juga.


Berdasarkan dari cerita Erik, Ilham semakin yakin bahwa Candra memang yang membuatnya malu dan berakhir dengan pemecatan dirinya.


"Setelah dari sini, kamu kerja dimana Ham?" tanya Erik saat sedang menyeruput kopi hitamnya.


"Entahlah, Rik. Aku bingung dan tak tahu lagi. Mungkin aku akan kerja di Jakarta saja, agar dekat dengan orang tuaku." ucap Ilham yang merasa lelah memikirkan nasibnya.


"Semoga setelah ini, kamu bisa lebih belajar memahami arti kesetiaan Ham." tutur Erik menasehati Ilham.


"Terimakasih Rik. Aku berhutang budi padamu. Maafkan aku yang selama ini selalu merepotkanmu." ucap Ilham dengan menepuk bahu Erik pelan.


"Santai aja bro!" ucap Erik yang tersenyum lalu memeluk Ilham.

__ADS_1


"Yuk tidur, Hari sudah malam dan besok kamu harus menemui Pak Beni 'kan!" kata Erik yang beranjak berdiri dan disusul Ilham masuk ke dalam rumah.


***


Malam hari telah tiba. Fahiz sudah menyiapkan segala hal kejutan untuk mama tercintanya, dan tentunya dibantu oleh adik tercinta yang saat ini sedang kuliah di Jakarta di kampus ternama.


Heni, mama fahiz sudah pulang dari acara kumpul bersama teman-temannya begitu juga Pak Ilyas yang sudah pulang dari kantor. Sebab, sebelum pulang Ilyas ditelpon oleh Fahiz bahwa akan memberi kejutan pada mamanya.


Tentu, Ilyas sangat senang dengan kejutan tersebut dan menyetujui permintaan Fahiz.


"Selamat malam Pa…Ma," sapa Fahiz kepada kedua orang tuanya saat berada di ruang keluarga.


"Selamat malam juga sayang," sahut Heni dan Ilyas bersamaan.


"Dimana Dwi ma?" tanya Fahiz saat duduk di sofa.


"Adikmu pasti sebentar lagi juga pulang. Maklum, memasuki semester akhir pasti sibuk mengerjakan skripsi bersama teman-temannya." kata Bu Heni sambil tersenyum menatap Fahiz.


Dwi adalah adik Fahiz. Dwi kuliah di universitas ternama mengambil jurusan ekonomi bisnis semester akhir. Dwi anak yang pandai bergaul, cuek namun juga tegas terhadap lawan yang berani menyinggungnya.


Tak berselang lama, yang dinanti akhirnya datang.


"Assalamualaikum," sapa seseorang dari pintu masuk dan dia adalah Dwi Pertiwi Handoko.


Dwi berjalan menghampiri keluarganya, lalu mencium tangan kedua orang tuanya bergantian. Namun, tidak dengan Fahiz.


"Loh, kakak kok tidak di cium tangannya?" tanya Fahiz heran melihat tingkah adiknya.


"Gak mau!" ketus Dwi yang pura-pura ngambek karena Fahiz tidak menjemputnya.


"Wah, adik gak ada akhlak nih!" geram Fahiz yang ingin berdiri namun Dwi berhasil kabur dan menuju kamarnya.


"Sudah-sudah. Kalian ini, kalau bertemu sudah kayak kucing dan tikus. Selalu saja berantem. Mama pusing lihatnya Fahiz." ucap Bu Heni yang pusing melihat tingkah kedua anaknya.


Sedangkan, Pak Ilyas hanya tersenyum melihat perdebatan kedua anaknya tadi.


Di dalam kamar, Dwi segera membersihkan badannya yang lengket sehabis pulang kuliah.


Dwi dan kakaknya berencana akan memberi kejutan ulang tahun untuk mama tercintanya. Tentunya, dibantu sang papa yang ikut andil dalam kejutan ini.


Selesai mandi, Dwi segera memakai baju santai dan keluar dari kamar untuk makan malam bersama keluarganya.

__ADS_1


Berjalan menuju meja makan, Dwi duduk di samping kakaknya. Keluarga bahagia itu berkumpul dan makan malam tepat waktu.


Peraturan di keluarga Ilyas. Tidak ada yang boleh bersuara saat makan. Jadi, hanya suara sendok yang saling bersahutan.


Selesai makan, mereka berkumpul di ruang keluarga dan membahas kegiatan sehari-hari setelah melakukan aktifitas seharian.


"Oya Ma, dapat salam dari Bu Lastri. Beliau katanya sudah kangen sama mama. Sudah lama mama tidak pernah kesana membeli kue." tukas Fahiz saat baru mengingat pesan dari Bu Lastri tadi sore.


"Benarkah? Iya juga ya, mama sudah lama tidak pernah kesana. Kamu tahu sendiri 'kan mama akhir-akhir ini sibuk banget dengan acara sosialita dan arisan Ibu-ibu." jawab Bu Heni menjelaskan.


"Kapan-kapan, mama akan mampir ke toko Bu Lastri. Ibu juga sudah rindu kue buatan Bu Lastri. Rasanya sangat memanjakan lidah mama." ujar Bu Heni seraya membayangkan kue buatan Bu Lastri, toko langganan kue yang sangat ramah pemiliknya.


"Iya Ma. Lain kali aku diajak Ma ke toko Bu Lastri," ucap Dwi yang penasaran dengan toko kue langganan mamanya.


"Iya tentu, sayang." ucap Bu Heni dengan tersenyum.


Pak Ilyas yang mendengar pembicaraan istri dan putrinya, langsung teringat dan memberi kode pada Fahiz untuk melakukan aksinya sekarang juga.


"Ma, Fahiz ke dapur dulu ya, haus nih! Mama dan papa mau sekalian dibawakan minuman?" ucap Fahiz bertanya sambil berjalan menuju dapur.


"Boleh Hiz."


"Aku ikut, Mas!" teriak Dwi yang langsung berdiri menyusul kakaknya ke dapur.


Saat berada di dapur, Fahiz dan Dwi berbagi tugas. Dwi menyiapkan minuman, sedangkan Fahiz membawa kue yang dibelinya tadi di toko langganan mamanya. Bibi membantu majikannya menata piring dan sendok untuk acara kejutan untuk Nyonya Heni.


Bibi ikut tersenyum dan bahagia, melihat anak dari majikannya begitu menyayangi orang tuanya. Bu Marsinah begitu beruntung memiliki majikan seperti mereka, dan sudah puluhan tahun bekerja di keluarga ini, membuat Bu Marsinah mampu membiayai putranya di kampung hingga lulus perguruan tinggi.


Bu Marsinah menangis haru dan ikut merasakan kebahagiaan diantara keluarga yang penuh kehangatan ini.


"Ayo Bi Mar, ikut membawa piring dan juga beberapa camilan ke ruang keluarga ya!" pinta Fahiz berjalan diikuti Dwi disampingnya.


"Baik Tuan Muda," ucap Bi Marsinah berjalan mengikuti majikannya dari belakang.


Beberapa langkah berjalan.


"HAPPY BIRTDHAY MAMA"


Jangan lupa fav, like, komen, hadiah dan vote ya. Yang belum fav silahkan fav.🤗


Dukungan kalian sangat berarti😘

__ADS_1


Selamat Membaca😍


__ADS_2