Suamiku Bukan Jodohku

Suamiku Bukan Jodohku
bab 28


__ADS_3

"Iya Mas, yang sabar ya, masih dua minggu lagi 'kok acaranya," ucap Kirana sambil menahan isak tangis dan merasakan sesak didadanya.


Tak ingin kesedihannya berlarut, Kirana sebisa mungkin bangkit dari keterpurukan dan mencoba menghibur dirinya sambil mengobrol dengan calon suaminya walau lewat telepon.


"Mas Ilham, Kirana boleh bertanya sesuatu?" tanya Kirana


"Boleh, apa yang ingin 'dek Kirana tanyakan, akan Mas jawab dengan jujur." ucap Ilham dengan tersenyum.


"Setelah menikah nanti, bolehkah aku ikut ke Lampung, Mas? Aku ingin menemanimu nanti selama disana," tanya Kirana dengan perasaan was-was.


Saat ini, walau dalam hati Kirana masih mencintai Ibrahim. Akan tetapi, cinta pertamanya akan dia kubur dalam-dalam. Dirinya akan melupakan Ibrahim seiring berjalannya waktu nanti.


"Tentu saja boleh, 'Dek!" ujar Ilham dengan senyum yang mengembang di kedua sudut bibirnya.


"Setelah menikah nanti, Mas akan mengajak 'Dek Kirana keliling perkebunan sawit," sahut Ilham dengan perasaan bahagia.


Mereka berdua mengobrol saling mencurahkan isi hati untuk mengenal satu sama lainnya.


Ilham menyudahi obrolannya setelah Kirana merasa ngantuk dan ingin tidur.


"Ya, sudah Mas, Kirana ngantuk mau tidur dulu. Sampai ketemu nanti di hari pernikahan kita," ucap Kirana seraya menguap menahan rasa kantuknya.


"Baiklah 'Dek, selamat tidur dan jangan lupa mimpiin Mas, ya, assalamualaikum," ucap Ilham seraya menutup telepon.


"Waallaikumsalam, Mas,"

__ADS_1


Setelah berbicara dengan Ilham lewat telepon, Kirana nampak merasa lega walau menyisakan sesak didada akan bayang-bayang mantan kekasihnya itu.


Selang beberapa menit, Kirana nampak sudah terlelap sambil memeluk guling kesayangannya.


Di dapur, Bu Lastri sudah menyeselesaikan masakannya seraya menata makanan di meja makan.


Lalu, Bu Lastri segera menuju ke kamarnya menemui suaminya yang dilanda amarah.


Setibanya di depan kamar, Bu Lastri langsung membuka pintu dan melihat suaminya nampak berbaring di ranjang dengan posisi membelakangi Bu Lastri.


Bu Lastri lalu berjalan menghampiri dan melihat suaminya tidur terlelap.


"Pak," ucap Bu Lastri duduk lalu membangunkan suaminya seraya memegang lengannya.


"Pak, ayo makan siang dulu!" ajak Bu Lastri kepada suaminya.


"Ini sudah jam berapa, Bu?" tanya Pak Tono seraya mengerjapkan matanya berkali-kali sambil duduk di sandaran ranjang. Namun, rasa lelah dan emosinya tadi membuat Pak Tono tertidur lelap.


"Sudah jam setengah satu siang, Pak! Ayo kita makan dulu, Pak," ajak Bu Lastri lagi.


Saat akan beranjak berdiri, Bu Lastri ingat sesuatu dan langsung menanyakan tentang Kirana kepada suaminya.


"Pak, apakah Kirana tadi kesini?" tanya Bu Lastri.


"Iya, tadi Kirana kesini dan mengetuk pintu kamar. Akan tetapi, Bapak masih kecewa dan marah, Bu!" ucap Pak Tono yang masih dilanda kekecewaan.

__ADS_1


Bu Lastri hanya menggelengkan kepala, melihat tingkah suaminya yang tak mau membuka pintu kamar dan memahami perasaan putrinya itu.


"Pak, jangan menyalahkan Kirana akan kejadian ini." kata Bu Lastri berusaha berbicara baik-baik dengan suaminya.


"Apa maksud Ibu!" ketus Pak Tono mendengar perkataan istrinya.


"Maksud Ibu! Ibu mohon pahami perasaan dan mengertilah, bahwa Kirana menderita karena perjodohan ini. Tanpa kita bertanya dahulu kepadanya, apakah menerima perjodohan ini atau tidak," kata Bu Lastri menasehati suaminya.


"Bapak tahu 'kan, Kirana selalu menuruti apa yang kita minta selama ini. Namun, soal jodoh ini kita telah membuatnya menangis dan sedih. Kita sebagai orang tua tak pernah menanyakan apa yang dia mau dan kehendaki, Pak." timpal Bu Lastri lagi.


Pak Tono yang mendapat nasehat dari istrinya, mulai nampak berpikir kembali setelah apa yang terjadi tadi pagi.


Setelah berpikir lama, akhirnya Pak Tono menyadari kesalahannya telah memarahi putrinya. 


"Kamu benar, Bu. Kita sebagai orang tua terkadang tak boleh terlalu egois dan memaksakan kehendak." kata Pak Tono.


"Namun, bagaimana lagi Bu, perjodohan ini sudah terjadi dan pernikahan kurang dua minggu lagi." ucap Pak Tono menyesali perbuatannya yang telah memarahi Kirana tanpa memikirkan perasaannya.


"Tadi Ibu sempat khawatir kalau jantung Bapak kumat lagi bagaimana? ujar Bu Lastri menunjukkan raut wajah cemas kepada suami tercintanya.


"Maafkan, Bapak, ya Bu! Maaf telah membuat Ibu khawatir dan cemas. Bapak janji akan merubah sikap Bapak." ucap Pak Tono seraya memegang jemari istrinya.


"Ya sudah, nanti kita bicarakan lagi sama Kirana. Sekarang sudah waktunya makan siang. Nanti kesehatan Bapak terganggu lagi!" pinta Bu Lastri.


"Ayok, Bu."

__ADS_1


__ADS_2