
Mama Heni terkejut saat tiba - tiba Kirana jatuh pingsan. Padahal sebelumnya baik - baik saja.
"Kirana … Kirana … ! Bangun sayang, kamu kenapa Kirana!" ucap Mama Heni panik seraya menepuk pelan pipi Kirana. Akan tetapi, Kirana tak kunjung bangun.
Mama Heni pun menghubungi sang sopir untuk membantu Kirana dibawa ke mobil.
Tak berapa lama, mereka masuk ke mobil dan membawa Kirana ke rumah sakit.
Dalam perjalanan, Mama Heni menghubungi Fahiz kalau Kirana pingsan dan sedang perjalanan. Sedangkan Fahiz seketika panik saat mendengar istrinya pingsan.
"Hallo Fahiz! Kirana pingsan dan Mama sedang perjalanan ke rumah sakit Bunda Kasih. Cepat datang ya? Mama tunggu." kata Mama Heni.
"Baik Ma, Fahiz segera kesana." tukas Fahiz yang langsung bergegas kerumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit, Mama Heni memanggil perawat untuk membantu Kirana ke ruang IGD.
Perawat yang melihat kedatangan pasien pun segera membawakan brankar dan menuju ruang IGD.
Mama Heni tampak khawatir takut akan keadaan menantunya itu.
Kemudian Fahiz datang setengah berlari melihat Mamanya duduk di kursi menunggu Kirana.
"Ma, bagaimana keadaan Kirana? Kenapa bisa pingsan?" tanya Fahiz duduk disamping Mamanya.
"Mama tidak tahu Hiz, saat selesai makan dan berjalan beberapa langkah Kirana langsung pingsan." tukas Mama Heni saat mengingat kejadian tadi.
__ADS_1
Di ruang IGD, Kirana yang sedang pingsan diperiksa oleh Dokter. Namun, tak lama Kirana terbangun dan membuka matanya perlahan lalu melihat atap berwarna putih serta sekelilingnya.
"Dimana aku?" Kirana bingung saat berada dirumah sakit.
"Nyonya, saat ini berada dirumah sakit dan tadi pingsan waktu dibawa kesini." ucap Dokter tersebut.
"Pingsan!"
"Iya Nyonya. Oya, selamat anda sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu." ucap Dokter tersebut yang membuat Kirana terkejut.
"Apa Dok, seorang Ibul!" kata Kirana yang masih bingung.
"Benar, anda hamil Nyonya." ucap Dokter itu lagi.
"Saya hamil Dok!" ucap Kirana yang menahan airmata bahagianya.
Dokter pun keluar ruangan, Fahiz segera berdiri menghampiri Dokter Galih.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Fahiz.
"Istrimu sudah sadar dan selamat Pak, sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah." kata Dokter Galih.
"Maksud Dokter, istri saya hamil!" tanya Fahiz yang terkejut mendengar perkataan Dokter Galih.
"Benar Pak."
__ADS_1
"Fahiz apa benar yang diucapkan Dokter tadi?" tanya Mama Heni campur bahagia dan juga cemas.
Kemudian, Mama Heni dan Fahiz segera masuk ke ruang IGD dimana Kirana berada.
"Sayang, bagaimana keadaanmu?" cemas Fahiz menghampiri Kirana.
"Iya Mas, aku baik - baik saja." ujarnya memeluk suaminya sambil menangis.
"Sayang, kenapa menangis!" heran Fahiz mendengar istrinya menangis.
"Mas, aku hamil. Kehamilan ini adalah hadiah terindah dan juga impianku selama ini yang aku tunggu." ujar Kirana dengan senyum mengembang.
"Sayang, terimakasih kamu telah memberiku hadiah yang sangat istimewa." ungkap Fahiz ikut bahagia mendengar berita kehamilan Kirana.
"Selamat ya sayang. Mama sebentar lagi akan menjadi seorang nenek, akhirnya Mama mendapatkan cucu juga." ucap Mama Heni seraya memeluk dan mencium Kirana.
Haiii jangan lupa like, komen dan hadiahnya ya.
Sekali lagi Author mau promosi nih. Karya Author Emmarisha dengan judul Gara - gara Nafkah. Jangan lupa mampir ya
Selamat Membaca 🤗
Mas Pras menarik tanganku, dan membawaku masuk ke dalam kamar. "Kamu itu apa-apaan sih, berdebat seperti itu dengan ibuku, Dek?"
"Mas, tapi ibu yang mulai. Ibu mengungkit uang itu lagi. Apa aku harus selalu diam? Apa selama ini aku kurang mengalah pada ibu?" ujarku dengan parau, rasanya untuk mengungkapkan kesesakan yang kurasa begitu sulit sekali. Aku hanya bisa meneteskan air mata. Aku lelah menjalani situasi rumit ini.
__ADS_1
Melihat air mataku, mas Pras mendekatiku dan mengusapnya. Dia tidak jadi memarahiku saat aku mengatakan semua isi hatiku. Dia harusnya paham betul apa yang sebenarnya aku rasakan. Sudah tidak pernah diberi nafkah tapi masih harus dirong-rong oleh keluarganya.