
Hari pernikahan.
"Aku tak menyangka, bahwa diriku akan menikah untuk yang kedua kalinya. Berharap pernikahan ini adalah yang terakhir seumur hidupku. Berharap pernikahan ini adalah yang terakhir seumur hidupku. Aku tak ingin gagal lagi dalam mengarungi rumah tanggaku. Aku ingin bahagia bersama suamiku yang sebentar lagi sah." batin Kirana saat sedang dirias di dalam kamarnya.
Di rumah Kirana saat ini tampak ramai sekali, tamu undangan mulai dari tetangga, teman-teman Kirana dan juga teman dari kedua adiknya pun datang di acara pernikahan.
Suasana nampak begitu meriah disertai acara musik yang menggelegar dan para tamu begitu menikmati acara tersebut.
Acara akad nikah akan segera di mulai pukul delapan pagi. Kirana dan Fahiz saat ini sedang dirias di tempat berbeda.
Selesai dirias, keduanya bersiap-siap untuk melakukan acara akad nikah dimana penghulu sudah menunggu.
Kini kedua pengantin sudah berada di hadapan penghulu dan juga Bapak Kirana sebagai wali nikahnya.
Fahiz tampak begitu gugup saat berhadapan dengan Bapak Kirana yang gagah. Sama seperti Kirana yang juga gugup dan berdebar hatinya saat melihat calon suaminya yang begitu tampan dan gagah.
"Saudara Fahiz, apakah sudah siap?" tanya Pak Tono.
"Sudah siap Pak." jawab Fahiz yakin.
"Baiklah, acara akan segera dimulai." kata Pak Tono seraya memandang menantunya.
"Saudara Fahiz Pratama Handoko bin Ilyas Handoko saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya yang bernama Kirana Putri Ayundia binti Sutono dengan mas kawin uang tunai sebesar lima juta rupiah dibayar tunai," Pak Tono menghentakkan tangan diikuti Fahiz mengikuti ucapan Pak Tono.
__ADS_1
"Saya terima nikah dan kawinnya Kirana Putri Ayundia binti Sutono dengan maskawin tersebut tunai."
"Bagaimana saksi? Sah?"
"Sah."
"Sah."
Kedua mempelai beserta keluarga masing-masing saling mendoakan pasangan pengantin agar bahagia sampai maut memisahkan mereka.
Begitu pula semua orang turut bahagia akan pernikahan yang sangat meriah ini.
Lalu, Fahiz dan Kirana menandatangani buku nikah yang telah mereka pegang. Kemudian keduanya berfoto untuk mengabadikan momen tersebut sebagai kenang-kenangan.
Selesai acara akad nikah, kedua mempelai kemudian segera berganti pakaian sebab nanti siang akan mengadakan acara resepsi pernikahan di gedung.
Untuk orang tua Fahiz sudah berpamitan kepada besannya. Sebab, mereka juga akan dirias disana nanti. Begitu juga orang tua Kirana akan menyusul setelah acara di rumah selesai.
Untuk kedua mempelai ikut bersama orang tua Fahiz dimana mereka nanti akan dirias sebab, mereka adalah raja dan ratunya.
Kini, disinilah Fahiz dan Kirana berada. Di hotel yang telah mereka sewa untuk resepsi pernikahan nanti.
"Mas, lelah gak?" tanya Kirana saat duduk di tepi ranjang hotel.
__ADS_1
"Buat Dek Kirana, apa sih yang gak lelah. Mas tetap kuat walau sampai besok pagi." ujar Fahiz memandang wajah istrinya yang begitu cantik.
"Mas Fahiz suka sekali menggodaku, 'kan aku jadi malu Mas." ucap Kirana saat sedang duduk yang hatinya berdebar tak karuan dari acara akad nikah.
Tok…tok…tok
"Mas buka pintu dulu ya!" Fahiz berjalan seraya membuka pintu.
Mama Heni langsung masuk saat pintu terbuka.
"Kalian istirahat saja dulu, tiga jam lagi akan Mama panggil bila sudah siap dirias." kata Mama Heni mengingatkan.
"Baiklah Ma, terimakasih."
"Kirana, Mama sungguh senang dapat menantu seperti dirimu. Semoga kalian bahagia selalu dan Mama akan menanti cucu Mama," tukas Mama Heni yang membuat Kirana dan Fahiz wajahnya merona merah.
Hai-hai author datang lagi. Jangan lupa like, komen dan hadiah yak.
Selamat Membaca 🤭
Author mau rekomendasikan karya teman saya yang sangat menarik dan bagus. yuk intip karya Author Yanktie Ino. Dukung dan mampir ya teman-teman.
__ADS_1