
"Pagi Dek Kirana!" sapa Ilham melihat Kirana saat duduk di sampingnya.
"Pagi juga Mas Ilham!" sahut Kirana seraya menoleh dan tersenyum pada Ilham.
"Ini rencana kalian kemana?" tanya Pak Tono pada sepasang calon pengantin dihadapannya.
"Hanya jalan-jalan Pak!" jawab Ilham tersenyum seraya meremas jari-jarinya.
Kirana yang mendengar akan diajak keluar Ilham hanya terdiam merenung dan mendengarkan rencana Ilham mau dibawa kemana sebenarnya.
Sambil melihat jam di tangannya Ilham segera berpamitan kepada orang tua Kirana karena tak ingin kesiangan.
Karena Ilham sudah merencanakan kencan spesialnya sudah sejak semalam, Ilham tak ingin gagal rencananya.
Beberapa hari sebelum bertemu Kirana, Ilham kembali ke toko emas yang ada di mall lalu menelpon salah satu temannya yang kebetulan bekerja di Ancol dan sekaligus memesan tempat spesial untuk calon istrinya.
Ilham tak jadi mengajak Kirana ke mall akan tetapi akan memberi sesuatu yang spesial buat calon istrinya itu di tempat romantis.
Dan disinilah Ilham dan Kirana sekarang di kafe Ancol Jakarta. Tempat yang telah dipesan Ilham.
Kirana yang selama perjalanan selalu berkelana dengan pikirannya sendiri dan penasaran akan ajakan Ilham.
Seketika Kirana terharu dan terpana melihat tempat kafe yang indah dengan di suguhi pemandangan laut yang sejuk.
Juga meja makan yang telah di desain dengan sangat cantik oleh Ilham.
__ADS_1
Ilham melihat Kirana langsung menggenggam tangan Kirana untuk mengajaknya duduk di tempat yang telah disediakan.
"Bagaimana, kamu suka Dek tempatnya?" tanya Ilham seraya menggenggam tangan Kirana kemudian menatap dalam mata indahnya dengan mesra.
Deg…deg…deg…
Kirana nampak gugup dan jantungnya berdetak dengan cepat seirama musik dangdut.
"Su…suka Mas!" jawab Kirana dengan tergagap karena saking gugupnya.
Kirana tak pernah pergi ke tempat romantis seperti saat ini.
Ini pertama kalinya dia berkencan dengan laki-laki dengan suasana romantis.
"Dek Kirana!" panggil Ilham lembut namun tenggorokannya seakan tercekat dan kata-kata yang di susun sejak semalam seketika buyar.
"Ehmmm…!"
Saat Ilham ingin mengatakan sesuatu kepada Kirana, pelayan datang membawa makanan yang telah di pesan Ilham.
"Kita makan dulu ya?" ajak Ilham dan di angguki oleh Kirana.
Semoga setelah makan, ungkapan perasaan cintaku pada Kirana kali ini berhasil dan terbalas. batin Ilham seraya berdoa dalam hati juga penuh semangat.
Mereka berdua makan dengan tenang dan di suguhi pemandangan laut yang indah.
__ADS_1
Tempat yang mereka duduki saat ini adalah menghadap ke laut namun di bawah pohon yang rindang.
Serta menunjang suasana yang romantis dan siapapun yang melihat akan merasa iri.
Banyak pasang mata yang melihat ke arah meja mereka.
Kirana nampak merasa malu dan berdebar sedari tadi karena banyak yang melihat ke arah mereka.
Namun Ilham meyakinkan Kirana, kedepannya akan terbiasa dengan suasana romantis ini.
"Mas kenapa banyak yang melihat kearah kita?" tanya Kirana yang nampak malu dan gugup dengan suasana romantis di luar ruangan.
"Dek Kirana tenang dulu ya! Suatu saat nanti setelah kita menikah, Mas akan sering mengajak Dek Kirana pergi ke tempat romantis lainnya," kata Ilham kepada calon istrinya itu.
Kirana hanya menanggapi pernyataan Ilham dengan menganggukkan kepala seraya tersenyum.
Lagi-lagi Kirana mendengar kata menikah membuat hatinya berdesir dan tak bisa berbuat apa-apa selain menerima takdir.
Ilham dan Kirana telah menyelesaikan makanan mereka.
Kini mereka sedang duduk seraya menikmati indahnya alam semesta dengan angin semilir yang begitu tenang menerpa wajah mereka serta ditemani minuman jus jeruk.
Ilham ingin mengungkapkan sekali lagi perasaannya pada Kirana yang sempat tertunda tadi.
Kini Ilham nampak semangat dan semoga perasaannya cintanya terbalas.
__ADS_1
"Dek Kirana!" ucap Ilham saat memanggil Kirana dengan lembut.
"Ya Mas!" sahut Kirana dengan hati yang berdebar-debar.