
Pagi hari telah tiba. Matahari telah menampakkan sinarnya.
Fahiz tidur larut malam bersama keluarganya. Seperti saat ini di tempat tidur, Fahiz masih sangat nyaman dengan bantal dan gulingnya yang merasa berat mau bangun.
Fahiz mengerjapkan matanya, dan melihat jam di nakas sudah menunjukkan jam tujuh pagi. Untung saja hari ini hari libur, dirinya bebas melakukan apapun.
Kemudian, Fahiz bangun dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan badan.
Selesai dengan ritual mandi. Fahiz keluar dengan handuk yang melilit pinggangnya dan berjalan menuju lemari pakaian.
Setelah memilih pakaian dengan celana panjang, kaos oblong dan juga jaket hodie. Fahiz siap dengan penampilannya yang keren dan cool. Fahiz memandang wajahnya di cermin.
"Sebenarnya aku ini ganteng dan banyak cewek yang mengejar, tapi entah kenapa aku merasa belum ada yang cocok." ucap Fahiz bermonolog sambil tersenyum.
Setelah itu, Fahiz keluar dari kamar. Nampak, mama dan papanya sudah berada di ruang keluarga menonton acara favorit mama drama korea.
"Selamat pagi, Ma…Pa!" sapa Fahiz seraya berjalan menghampiri kedua orang tuanya.
"Selamat pagi juga Fahiz!" ucap kedua orang tuanya bersamaan.
"Si Dwi belum bangun, Ma?" tanya Fahiz saat tak melihat adiknya di ruang keluarga.
"Belum, kamu tahu sendiri semalam tidur sampai larut malam." ucap Bu Heni memandang drama korea kesukaannya di televisi.
"Cewek jam segini belum bangun, nanti jodohnya jauh loh!" ujar Fahiz.
"Biarin saja, ini hari minggu. Jadi, biarkan Dwi menikmati tidurnya. Mungkin, Dwi kelelahan setelah mengurus skripsi selama hampir dua minggu." ucap Pak Ilyas yang merangkul pundak istrinya.
"Oya, hari ini kamu kemana Hiz?" tanya Pak Ilyas yang melihat penampilan Fahiz sudah rapi dan wangi..
"Hari ini Fahiz mau keluar Pa, bosen dirumah terus." ujar Fahiz sambil menatap layar ponselnya.
"Iya, buruan kamu cari pasangan biar mamamu ini gak cerewet dan papa yang jadi bahan amarahnya." canda Pak Ilyas melirik istrinya disamping.
Seketika Bu Heni mencubit pinggang suaminya. "Aarrgh sakit, Ma!" ucap Pak Ilyas meringis mendapat cubitan dari istrinya.
"Papa sih, kalau bercanda suka terlalu." geram Bu Heni.
"Ya sudah Pa, Fahiz pamit keluar dulu mau cari calon menantu untuk mama tercinta." ucap Fahiz sambil tertawa.
Heni hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putranya itu.
"Kamu tidak sarapan dirumah Hiz?" tanya Bu Heni saat Fahiz berjalan menuju pintu.
__ADS_1
"Tidak Ma, Fahiz makan dirumah calon menantu mama saja!" canda Fahiz sambil berjalan keluar menuju mobil.
"Dasar Fahiz!"
Fahiz melajukan kendaraannya keluar gerbang dan membelah jalanan kota Jakarta.
Fahiz mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Semalam, dirinya benar-benar tidak bisa tidur. Fahiz selalu terbayang-bayang wajah Kirana. Wajah cantik alami tanpa polesan, membuat seorang Fahiz tersenyum dan kepikiran.
Beberapa saat kemudian, Fahiz berhenti di taman dan memarkirkan kendaraannya. Namun, Fahiz mencari warung dekat taman dulu karena perutnya sudah lapar minta diisi.
Berjalan beberapa langkah, Fahiz memilih menu Soto Ayam. Kemudian, Fahiz masuk dan memesan semangkok Soto Ayam dan teh hangat.
Setelah selesai makan dan membayar makanan, Fahiz berjalan menuju taman dan duduk di kursi taman tersebut.
Fahiz memikirkan ucapan mamanya semalam, membuat Fahiz frustasi. Namun, semenjak pertemuannya dengan seorang gadis di toko kue langganan mamanya, membuat Fahiz ingin mengenal lebih dekat.
Akan tetapi, Fahiz bingung mau memulainya darimana. Sedangkan, Fahiz belum mengetahui nama gadis itu dan tidak mempunyai nomor ponselnya.
Seketika, Fahiz tersenyum sendiri membayangkan kebodohannya itu.
"Kenapa, kemaren aku tidak meminta kartu nama Bu Lastri saja ya!" ucap Fahiz berbicara diri sendiri sambil tertawa kecil.
"Baiklah. Untuk saat ini, aku datangi saja toko kue tersebut. Siapa tahu dia ada disana." ujar Fahiz lagi.
Masuk ke dalam mobil, lalu Fahiz menyalakan dan melajukan kendaraannya keluar taman menuju rumah Kirana.
Setelah menempuh perjalanan satu jam, Fahiz sampai di depan rumah Kirana. Namun, Fahiz masih memandang dari dalam mobil dan belum keluar.
"Kenapa, jantungku berdebar tak karuan begini ya? Apa yang terjadi padaku?" tanyanya pada diri sendiri.
Fahiz merasa heran dengan keadaannya, padahal sebelumnya setiap dekat dengan perempuan manapun tidak seperti saat ini.
Setengah jam di dalam mobil, Fahiz masih memikirkan alasan tepat untuk bertemu gadis tersebut atau lebih baik membeli kue.
Akhirnya, Fahiz memutuskan untuk membeli kue demi bertemu seorang gadis yang belum diketahui namanya.
Fahiz keluar dari mobil dan menutup pintu. Lalu, berjalan menuju toko kue tersebut.
"Selamat pagi!" sapa Fahiz saat masuk ke dalam toko dan tak menyangka ternyata gadis tersebut yang melayaninya.
"Selamat pagi! Ada yang bisa dibantu?" tanya Kirana tersenyum, saat melihat pembeli kemarin datang lagi untuk membeli kue.
Fahiz lagi-lagi terpesona akan kecantikan Kirana yang nampak alami tanpa polesan.
__ADS_1
"Subbahanallah, cantiknya gadis ini." ucap Fahiz dalam hati.
"Mas…?" tanya Kirana sampai melambaikan tangan dihadapan Fahiz yang sedang menatap dirinya dengan melamun.
"Eh…!" Fahiz tersadar saat Kirana beberapa kali memanggil.
"Maaf…maafkan saya yang sedang melamun!" ucap Fahiz tersenyum malu seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tidak apa-apa, Mas! Ada yang bisa saya bantu?" tanya Kirana sekali lagi.
"Ah, iya. Saya kesini mau membeli kue donat. Bungkus sepuluh ya," ucap Fahiz sambil menunjuk kue donat.
"Baiklah, ditunggu."
Setelah beberapa saat, kue donat telah siap dan Kirana berjalan menuju pembeli tadi.
"Dua puluh ribu," ucap Kirana menyerahkan bungkusan kue donat tersebut.
"Terimakasih, Mbak." kata Fahiz tersenyum dan kemudian pergi meninggalkan toko Bu Lastri.
Baru beberapa langkah, Fahiz berhenti dan mengingat sesuatu yang terlupakan. Akhirnya, Fahi kembali lagi ke toko itu.
"Permisi."
Kirana yang sedang duduk si kasir segera berdiri dan kaget melihat pembeli tadi kembali lagi.
"Apa ada yang tertinggal, Mas?" tanya Kirana.
"Iya Mbak, ada yang tertinggal. Boleh saya meminta kartu nama toko Bu Lastri? Bila nanti di kantor ada acara penting, saya bisa pesan di toko ini 'kan?" tanya Fahiz sambil tersenyum berharap mendapatkan nomer ponsel gadis ini.
"Bisa Mas, bisa!" kata Kirana berlalu menuju meja kasir dan mengambil kartu nama.
Kirana lalu kembali dan menyerahkan kartu nama tersebut ke pembeli tadi.
"Ini Mas kartu namanya!" ucap Kirana.
"Terimakasih Kirana. Perkenalkan saya, Fahiz." ucap Fahiz saat memandang kartu nama itu dan tersenyum kepada Kirana seraya memperkenalkan dirinya.
"Baiklah Mas Fahiz. Terimakasih sudah menjadi langganan toko kami." ucap Kirana tersenyum.
"Saya permisi dulu Mbak Kirana." ucap Fahiz yang kemudian meninggalkan toko itu dengan senyum lebarnya, karena berhasil mendapatkan nama sekaligus nomer ponsel Kirana.
"Yes, akhirnya dapat juga nama dan nomer ponselnya." ujar Fahiz dengan terus memandang kartu nama itu.
__ADS_1