
Tak terasa hari sudah sore, Ilham dan Kirana sudah bangun. Mereka bergantian mandi untuk menyegarkan badan.
Setelah keduanya selesai mandi dan berpakaian. Mereka keluar kamar dan segera bergabung dengan Bapak dan Ibunya.
"Kak Kirana!" panggil adik Kirana yang bungsu bernama Laras.
Laras sudah diberitahu oleh Ibunya, kalau kakaknya pulang. Begitu juga Andika saat mereka berdua pulang ke rumah saat hari sudah sore.
"Dek Laras," balas Kirana langsung memeluk adiknya saat sedang berjalan menuju ruang keluarga.
"Mana oleh-olehnya, Kak?" tanya Laras dengan wajah berbinar bahagia.
"Kamu ini, bukannya tanya kabar kakak, malah makanan yang ditanyakan," sahut Kirana seraya mencubit pelan pipi adiknya.
"Hanya Laras saja nih, yang dipeluk! Aku enggak dipeluk!" timpal Andika saat ikut bergabung dengan keluarganya.
"Andika, kamu sudah sangat ganteng dan besar, Dek," ujar Kirana saat melihat adik laki-lakinya.
"Andika, gitu loh, pasti ganteng dan gagah," ucap Andika dengan tingkat kepercayaan dirinya yang tinggi.
Semua orang yang melihat tingkah Andika, hanya geleng-geleng kepala, kecuali Laras.
"Halah, Kak Andika ganteng apanya! Ditolak cewek saja, sudah mewek," ledek Laras dengan tertawa terbahak-bahak.
"Dek Laras!" geram Andika yang seketika memelototkan matanya, saat mendengar penuturan dari Laras.
"Sudah-sudah, kalian berdua ini, kalau sudah bertemu selalu saja seperti kucing dan tikus. Ribut melulu!" ucap Bu Lastri yang menghentikan kedua anaknya.
"Ya, sudah. Ayo, kita makan malam bareng-bareng." ajak Bu Lastri kepada anggota keluarganya. Kebetulan, Ibu masak banyak kali ini.
Keluarga tersebut segera menuju meja makan. Pak Tono dan yang lainnya segera mangambil tempat duduk seperti biasanya
Kirana mengambil piring kemudian nasi juga lauk pauk untuk Ilham. Begitu juga, Bu Lastri mengambilkan nasi untuk suaminya. Lalu, Andika dan Laras mengambil nasi masing-masing.
Mereka berlima makan dengan tenang dan hanya suara sendok yang saling bersahutan.
Setelah selesai makan, mereka semua berkumpul di ruang keluarga dan mengobrol bersama-sama. Tak lama kemudian, Andika dan Laras segera berpamitan ke kamar. Sebab, mereka ada tugas yang harus diselesaikan dari sekolah mereka.
Saat Andika dan Laras pergi, Pak Tono dan Bu Lastri ingin segera menanyakan perihal tadi siang, saat mereka sedang mengobrol di dapur.
"Nak Ilham dan Kirana, ada yang ingin Bapak tanyakan? Beberapa hari yang lalu, Kirana sudah menceritakan soal rumah tangga kalian! Apakah, keputusan kalian sudah bulat? Apa tidak bisa diperbaiki lagi?" tanya Pak Tono sedikit khawatir dengan pernikahan putrinya.
"Begini, Pak! Kami….," ucapan Ilham terpotong saat akan mengatakan sesuatu.
__ADS_1
"Keputusan kami sudah bulat, Pak! Aku sudah tidak kuat dan mampu lagi berdampingan dengan Mas Ilham." tegas Kirana menjelaskan kepada kedua orang tuanya.
Ilham seketika membisu dan hatinya sedikit sakit, saat istrinya tidak memberi kesempatan bicara sama sekali.
Pak Tono dan Bu Lastri saling berpandangan. Bu Lastri merasa sedih mendengar penuturan putrinya.
Apalah daya, sebagai orang tua. Merekalah yang telah menjodohkan putrinya. Namun, mereka tak menyangka, kalau pernikahan putrinya berakhir tidak bahagia.
"Besok, Kirana dan Mas Ilham akan pergi ke kantor pengadilan untuk mendaftarkan surat perceraiannya." ucap Kirana dengan tegas.
Setelah mengobrol dengan putri dan menantunya. Pak Tono dan Bu Lastri segera pergi ke kamar, karena hari sudah malam.
Sedangkan, Ilham dan Kirana memilih duduk di teras rumah. Kirana membawakan kopi untuk suaminya agar mengobrol santai. Ini sebagai bakti dirinya untuk suaminya yang terakhir kali.
"Besok, kita akan pergi kantor pengadilan, Mas. Setelah itu, aku ingin berpamitan kepada kedua orang tua Mas Ilham untuk yang terakhir kalinya." ucap Kirana datar.
"Dek, maafkan Mas. Kamu tahu 'kan, apa yang aku inginkan." ucap Ilham tanpa merasa bersalah sedikitpun mengatakan hal tersebut dihadapan Kirana.
"Mas, tenang saja. Setelah ini, Mas bebas melakukan apapun yang ingin Mas lakukan. Akupun, juga sudah bertekad bulat. Bahwa, keputusan ini adalah yang terbaik untuk kita." tukas Kirana menjelaskan.
Ilham yang mendengar kata-kata Kirana, seakan hanya bisa diam seribu bahasa. Pikirannya pun kacau saat ini.
Bahkan, saat pergi dari Lampung. Ilham bahkan lupa mengabari Ani, kalau dirinya ijin cuti karena mengantarkan istrinya.
Kirana pun segera kembali ke kamar tidur, untuk menyegarkan pikirannya yang sedang kacau.
Sedangkan, Ilham memilih duduk sendirian setelah Kirana berpamitan untuk tidur.
***
Keesokan harinya, di tempat yang jauh. Ani, yang awalnya mendapat kabar dari Ilham kekasihnya. Kalau, Ilham pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun. Nampak marah dan kecewa, namun setelah mendapat kabar dari Ilham semalam, hatinya merasa lega kalau ternyata Bapak dari kekasihnya sedang sakit.
Namun, baik Ani dan Ilham tidak tahu kalau kehidupan mereka sebentar lagi akan berubah drastis setelah berita yang membuat keduanya malu dan jadi bahan cemoohan orang-orang.
Sedangkan, Candra sudah berencana akan mengirim video tersebut ke atasannya. Agar, Ilham dan Ani mendapat balasan yang setimpal atas perbuatan mereka.
Candra segera melajukan motornya ke kantor pusat dengan menyunggingkan senyum iblisnya.
Setelah sampai di depan kantor, Candra memarkirkan motornya. Memasuki kantor tersebut, Candra menyapa semua staff karyawan disana, terlebih kepada Ani.
"Selamat Pagi, Ani?" sapa Candra saat berada di depan meja kerja Ani.
"Selamat Pagi juga, Pak Candra!" sahut Ani dengan senyum dipaksakan.
__ADS_1
Candra yang melihat wajah Ani hanya bisa tersenyum tipis.
"Kemana, kekasih hatimu yang kamu banggakan itu?" tanya Candra dengan memasang wajah jengahnya.
"Dia sedang pergi cuti!" jawab Ani sekenanya, lalu kembali fokus mengerjakan laporan.
"Oh…" Candra hanya menjawab dengan ber o ria dan kemudian berlalu dari hadapan Ani.
Tok … tok … tok
"Masuk," sahut orang dari dalam.
"Permisi, Pak Beni." ucap Candra seraya berjalan menuju sofa ruang kerja atasannya.
Pak Beni yang sedang menandatangi berkas laporan, kebetulan sudah menyelesaikan semua yang menumpuk di meja kerjanya.
"Silahkan duduk, Pak Candra," pinta Pak Beni beranjak berdiri dari kursi kebesarannya.
"Begini, Pak Beni! Maksud kedatangan saya kesini. Ada sesuatu yang penting ingin saya beritahukan kepada Bapak." ucap Candra dengan tenang.
"Apa itu, Pak Candra?" tanya Pak Beni dengan raut wajah kebingungan.
Candra kemudian mengeluarkan ponsel dari saku kemejanya, dan membuka galeri untuk mencari video panas Ilham dan Ani saat beberapa hari yang lalu.
Saat menemukan video tersebut, Candra segera menyerahkan ponsel tersebut kepada Managernya. "Ini, Pak. Bapak buka saja video tersebut. Setelah itu, semua keputusan ada pada Bapak." ucap Candra dengan penuh keyakinan.
Pak Beni pun, menerima ponsel Candra dan membuka video tersebut.
"Apa ini…!" teriak Pak Beni yang membelalakkan matanya lebar, saat melihat video panas tersebut.
Seketika, wajah Pak Beni merah padam karena dipenuhi amarah dan kekecewaan terhadap karyawan yang di percayainya itu.
***
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443 H
Minal Aidzin wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Batin para reader ku🙏 🙏
Jangan lupa, like, komen, hadiah dan vote yak..😘😘 dukungan kalian sangat berati.🤗
Selamat membaca😘
__ADS_1