
Selesai makan mereka pun check out dari hotel.
Untuk kedua orang tua Kirana dan juga adiknya berpamitan kepada besannya tersebut.
"Kirana, jaga kesehatan dan juga patuhi suamimu ya? Nak Fahiz, titip Kirana dan beri dia kebahagiaan selalu ya?" pinta Bu Lastri seraya memandang Kirana dan juga menantunya.
"Iya Bu pasti, Fahiz akan membuat Kirana bahagia juga tersenyum." ucap Fahiz memeluk Ibu mertuanya.
"Ya sudah, Bapak dan Ibu pulang dulu. Jaga diri baik-baik." ucap Pak Tono menimpali.
"Kak Kirana, rumah akan terasa sepi tanpa kakak," ujar Andika yang sedih berpisah dengan kakaknya. Begitu juga Laras yang langsung memeluk kakaknya Kirana.
"Nanti kakak akan sesekali berkunjung ke rumah." ujar Kirana memeluk erat adiknya yang bungsu itu.
Kemudian, masing-masing keluarga pulang ke rumah. Akan tetapi tidak untuk Kirana, dirinya ikut bersama suaminya di rumah mertuanya.
Setelah menempuh perjalanan panjang, mereka sampai di rumah Pak Ilyas yang begitu mewah.
Turun dari mobil, Kirana disambut oleh beberapa pelayan yang sudah berada di teras. Kirana merasa canggung di perlakukan seperti ratu.
Masuk ke rumah, Kirana langsung duduk di sofa bersama Fahiz juga papa, mama dan juga Dwi.
__ADS_1
"Kirana, mulai hari ini rumah ini anggap saja sebagai rumahmu juga." kata Pak Ilyas menatap menantunya.
"Iya Kirana, anggap mama dan papa sekarang adalah orang tuamu juga. Jujur mama sangat senang karena Fahiz telah menikah, mama selalu kesepian di rumah bila semuanya berangkat kerja dan Dwi yang pergi kuliah." ucap Mama Heni menceritakan segala kesedihannya.
"Iya Ma, terimakasih sudah menerima Kirana disini." ucap Kirana sambil tersenyum.
Fahiz yang mendengar hal itu memeluk istrinya dengan mesra dan mencium keningnya.
"Ma, Pa… Fahiz dan Kirana ke kamar dulu mau istirahat." ucap Fahiz meminta ijin mau ke kamar.
"Iya Fahiz, ajak istrimu istirahat di kamar." pinta Mama Heni.
Keduanya, berjalan bersama menuju kamar Fahiz yang belum pernah Kirana lihat.
Nampak desain elegan dengan warna abu - abu dan sofa juga meja rias yang telah disiapkan Fahiz jauh sebelum hari pernikahan tiba. Tempat tidur mereka pun juga telah dihias dengan bertaburan bunga mawar.
Fahiz mengajak Kirana duduk di sofa dan memandang wajah istrinya yang masih cantik, membuat Fahiz ingin sekali lagi melakukan aksinya tersebut.
"Sayang, Mas mau lagi! Boleh ya?" tanya Fahiz membisikkan tepat di telinga Kirana yang membuat si empunnya merinding bulu romanya. (Author juga geli nih dibisikkin 🤣🤣🤣)
"Mas, kita baru sampai. Memang Mas Fahiz gak capek?" tanya Kirana yang langsung tertunduk malu.
__ADS_1
"Buatmu, Mas gak merasa capek sekali. Malah tambah semangat sayang," ujar Fahiz yang mencium leher jenjang Kirana.
Kirana hanya diam dengan apa yang dilakukan suaminya itu. Kini, dirinya telah sah menjadi istri seorang Fahiz seorang pengusaha restoran ternama.
Keduanya saling memagut bibir dengan lembut. Fahiz pun memberi jeda pada istrinya agar bisa bernafas saat saling berciuman.
Fahiz, lalu mengajak Kirana ke tempat tidur king size yang sudah diatur oleh Deni atas perintah Fahiz saat menginap di hotel.
"Mas, Kirana ke kamar mandi dulu untuk ganti baju." pinta Kirana yang langsung disetujui oleh Fahiz.
Kirana bergegas ke lemari pakaian mengambil baju gantinya dan berlari kecil ke kamar mandi.
Fahiz hanya tersenyum memandang istrinya yang masih malu - malu itu.
Di dalam kamar mandi, Kirana tentu saja masih merasa gugup saat berhadapan dengan suaminya.
"Kenapa jantungku masih saja berdegup kencang saat dihadapannya." ucap Kirana mengatakannya di depan cermin.
Jangan lupa like, komen dan hadiahnya ya.
Author mau rekomendasikan lagi nih teman karya author Samy Noer judul Senja di Ujung Jalan. Jangan lupa mampir ya gaes.
__ADS_1