
"Sayang, tempatnya bener - bener indah. Terimakasih sudah mengajakku ke tempat yang aku impikan." ujar Kirana dengan mata terpejam.
"Oke sayang, sebagai gantinya bantu aku menata pakaian ke lemari dan kita mandi. Setelah itu aku akan mengajakmu keluar jalan - jalan." pinta Fahiz.
Lalu Kirana segera bangun dan mengambil pakaian di koper lalu meletakkannya di lemari bersamaan dengan pakaian suaminya.
"Mas, aku lapar pesankan makanan!" teriak Kirana saat memasuki kamar mandi.
"Oke sayang."
Fahiz menghubungi lewat telepon dan memesan makanan hotel untuk mengganjal perutnya yang memang sedari tadi juga lapar selama dalam perjalanan.
Sambil menunggu Kirana selesai mandi, Fahiz menghubungi mamanya di Jakarta bahwa telah sampai di Bali.
"Assallamualaikum Ma," sapa Fahiz duduk bersandar di kasur.
"Waallaikumsalam sayang, bagaimana? Apakah sudah sampai?" tanya Mama Heni yang mengubah ke video call untuk melihat wajah putra dan menantunya.
"Sudah Ma, baru saja sampai!" kata Fahiz.
"Lalu dimana menantuku Kirana Fahiz?" tanya Mama Heni lagi.
"Ada Ma, sedang mandi." jawab Fahiz sambil tersenyum.
Mereka mengobrol satu sama lain. Tak berselang lama Kirana keluar setelah membersihkan badannya.
"Nah, itu Kirana baru keluar Ma. Mama ngobrol sama Kirana ya? Fahiz mandi dulu, sebab sebentar lagi kencan Ma." ucap Fahiz tenang di depan Mamanya.
Sedangkan Kirana nampak bersemu merah merona wajahnya setelah mendengar perkataan suaminya di depan Ibunya sendiri.
__ADS_1
"Fahiz memang begitu Kirana, suka usil dan bercanda. Harap maklum dan semoga cinta kalian abadi." kata Mama Heni yang melihat wajah cantik menantunya itu.
"Aamiin Ma."
"Bagaimana kabar Mama?" tanya Kirana yang masih canggung saat berhadapan dengan mertuanya.
"Mama baik - baik saja sayang. Jadi, tenang saja ada Papa dan juga Dwi disini. Andai Mama bisa menyusul kalian, mama pasti tidak kesepian." jawab Mama Heni dengan wajah sendunya.
*Iya Ma, kapan - kapan kesini lagi," jawab Kirana yang masih merasa canggung.
Fahiz keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar dan maskulin.
Fahiz lalu menghampiri istrinya yang sedang mengobrol dengan Mamanya.
"Ma, sudah dulu ya? Fahiz dan Kirana mau bikin Fahiz junior." canda Fahiz di depan Mamanya yang langsung mendapat cubitan dari Kirana.
"Aaw sayang, sakit tau!" keluh Fahiz merasakan panas saat di cubit.
"Nanti Fahiz hubungi lagi Ma, kalau gak sibuk." canda Fahiz dengan tertawa kecil.
"Iya … iya … mama memahami. Mama tutup dulu teleponnya. Semoga pulang dari Bali dapat kabar baik ya." kata Mama Heni dengan tersenyum lebar.
"Assalamualaikum."
"Waallaikumsalam."
Setelah menutup telepon, terdengar bunyi ketokan pintu.
"Pesanan makanan datang." ucap pegawai tersebut.
__ADS_1
Fahiz segera membuka pintu kamar dan pegawai tersebut meletakkan makanan di meja.
Lalu, Fahiz memberi tips ke pegawai tersebut dan langsung berterimakasih kepada Fahiz dan berlalu pergi dari kamar itu.
"Sayang, makanan sudah datang." ucap Fahiz.
Kirana menghampiri suaminya yang ternyata Kirana telah berganti pakaian saat Fahiz berbicara dengan pegawai tadi.
Lalu, keduanya pun makan dengan santai. Saling menyuapi satu sama lain adalah bentuk awal mereka menjalani rumah tangga.
Selesai makan, Fahiz berjanji akan mengajak Kirana keluar jalan - jalan menikmati suasana Bali di malam hari.
Kirana yang telah siap hanya menunggu suaminya mengganti pakaian yang lebih rapi.
Beberapa saat kemudian, keduanya keluar kamar dan menggandeng tangan Kirana agar tidak hilang.
Jangan lupa like, komen dan hadiahnya ya.
Selamat Membaca 🤗
Author mau promosi lagi nih karya teman. Dijamin menarik dan bagus loh. Karya Author Aveii dengan judul CEO Dingin Kau Milikku. Jangan lupa mampir ya.
“I Love You Alexander!” teriak Hanum pada pria tampan yang sedang menggiring bola basket saat pertandingan persahabatan di sekolahnya. Kejadian itu membuatnya jadi bahan tertawaan semua siswa di sekolah, karena ia yang kuno dan berpenampilan norak serta tidak menarik, berani menyatakan cinta pada Alexander, seorang pria tampan pewaris perusahaan property terbesar di daerahnya.
“Apa kelebihanmu selain produksi minyak di wajahmu dan tumpukan lemak yang berlebihan?”
“Alexander, aku pastikan semua bayi yang aku lahirkan nanti akan memanggilmu Papa,” tekad Hanum.
Bukan Hanum namanya, jika tidak bisa membuat Alexander Putra, CEO yang dingin bertekuk lutut di hadapannya.
__ADS_1