
"Ini mas silahkan diminum dulu." Kirana sambil meletakkan minuman dan ikut duduk di hadapan Fahiz.
"Sekali lagi terimakasih Mas Fahiz, Kirana malah merepotkan Mas Fahiz terus." ucap Kirana yang merasa tidak enak selalu di bantu untuk urusan hal-hal kecil.
"Mas Fahiz tidak merasa direpotkan, justru aku senang membantu demi dirimu Kirana." kata Fahiz tersenyum.
Fahiz kemudian meminum teh yang telah dibuatkan Kirana dan segera berpamitan karena masih ada urusan yang harus diselesaikan.
"Pikirkan kembali apa yang aku katakan tadi ya? Aku akan selalu menunggu jawaban darimu." kata Fahiz saat masuk ke mobil.
"Iya Mas, nanti Kirana pikirkan kembali!" ucap Kirana tersenyum canggung.
Lalu, Fahiz segera menyalakan mesin mobil dan melajukan kendaraan untuk menuju rumahnya.
Setelah kepergian Fahiz, Kirana masuk ke rumah dan ternyata sudah ada Bapak dan Ibunya di sofa. Begitu juga dengan kedua adiknya sedang makan jajan yang dibelikan Fahiz tadi.
"Bagaimana keputusan kak Kirana? Diterima gak Mas Fahiz!" ucap Andika yang sudah penasaran dengan jawaban kakaknya itu.
"Apa sih Dek! Kakak juga gak bisa jawab sekarang, kakak juga harus bicarakan hal ini dengan Bapak dan Ibu." jawab Kirana dengan tegas.
Kirana gak bisa main-main soal perasaannya kali ini. Dirinya harus benar-benar yakin akan hatinya sudah mantap dan siap menikah nanti dengan Fahiz.
__ADS_1
"Ah… kak Kirana kelamaan mikir, keburu tua kalau nunggu beberapa tahun." sahut Andika membalas perkataan kakaknya itu.
Sedangkan Laras hanya diam mendengarkan apa yang terjadi antara kakaknya dan juga teman barunya itu.
"Jadi, dari tadi kalian menguping dan melihat apa yang sedang Kirana bicarakan dengan Mas Fahiz." heran Kirana terhadap keluarganya.
"Kirana, Bapak dan Ibu selalu ingin kamu bahagia. Bila memang lelaki itu yang dikirimkan jodohnya buatmu, apalagi yang kamu pikirkan. Ingat Kirana pesan Ibu dulu, jodoh tidak akan kemana dan semua itu tergantung dari manusia itu sendiri yang menjalaninya." tutur Bu Lastri menasehati Kirana.
"Iya Bu, Kirana masih ingat pesan Ibu." ucap Kirana sambil memegang tangan Ibu yang telah melahirkan ke dunia.
"Kirana ke kamar dulu Pak, Bu," pamit Kirana pada kedua orang tuanya.
Masuk ke kamar, Kirana segera mencuci kaki dan tangannya. Keluar dari kamar mandi, Kirana merebahkan tubuhnya yang lelah.
Sambil memikirkan apa yang diucapkan Ibunya dan juga Mas Fahiz yang baru di kenalnya beberapa minggu.
"Haruskah aku menerimanya? Bila memang Mas Fahiz jodoh yang dikirim untukku, aku akan berusaha menjalaninya dulu." gumam Kirana sambil melihat langit-langit kamarnya.
Kemudian tak lama Kirana tertidur dan terbawa ke alam mimpinya.
***
__ADS_1
Kirana yang tertidur terlelap, sedangkan Fahiz harus berusaha keras membuat Kirana untuk bisa menjadi istrinya kelak di usianya yang sudah memasuki fase pernikahan.
Fahiz yang tak bisa tidur lebih memilih keluar kamar dan menuju ruang kerjanya untuk tak memikirkan hal itu.
Bila memang nanti Kirana jodohnya, pasti akan mengabarinya langsung.
Berbagai laporan lewat email pun dia kerjakan dan berkas-berkas di ruang kerjanya yang menumpuk agar tak memikirkan Kirana terus menerus.
Akhirnya Fahis berada di ruang kerjanya sampai pukul satu dini hari. Fahiz pun kembali ke kamar dan langsung tidur dengan nyenyak.
***
Hai semuanya, author hadir kembali.
Maaf ya bila partnya ini pendek.🙏 Author masih dalam tahap pemulihan.
Jangan lupa like, komen, dan hadiahnya ya.
Terimakasih yang sudah membaca karyaku.
Selamat Membaca 🤗
__ADS_1