Suamiku Bukan Jodohku

Suamiku Bukan Jodohku
bab 64


__ADS_3

Kini, Ilham dan Kirana sudah bersiap berangkat menuju pengadilan agama. Keduanya, berpamitan kepada kedua orang tua.


"Pak, Bu, kami berdua berangkat dulu!" pamit Kirana kepada orang tuanya.


"Baiklah, hati-hati dijalan ya," tutur Bu Lastri.


Ilham dan Kirana masuk ke dalam mobil. Kemudian, Ilham segera melajukan kendaraan membelah jalanan.


Setelah setengah jam perjalanan, sampailah mereka di pengadilan agama. Kemudian, Kirana masuk ke dalam untuk mendaftarkan perceraian, sedangkan Ilham menunggu di mobil.


Tak berselang lama, Kirana keluar dari kantor pengadilan agama. Dirinya berharap, setelah perceraian ini, Kirana akan menata hidupnya kembali dan fokus pada pekerjaan.


Saat, Kirana keluar dari kantor pengadilan agama. Kirana, langsung masuk ke dalam mobil dan melajukan kendarannya menuju rumah orang tuanya.


Di dalam mobil, suasana terasa begitu hening, tak ada percakapan sama sekali. Sampai akhirnya, Kirana membuka obrolan tersebut. "Mas, begitu sampai di rumah Ibu, ku harap kita bersikap biasa saja. Orang tuamu belum tahu 'kan, soal perceraian kita ini." ucap Kirana dengan santainya.


"Belum, dek, orang tuaku belum tahu, soal masalah kita ataupun perceraian kita ini." sahut Ilham sambil menyetir dan menoleh sekilas kepada Kirana.


"Kita, beli oleh-oleh dulu untuk Ibu, ini adalah bentuk pengabdianku yang terakhir sebagai menantu terhadap mertuanya." sindir Kirana kepada Ilham.


Ilham yang mendengar kata Kirana, hanya tersenyum pahit. Ada rasa sakit, saat kata sindiran itu terucap.


Ilham, kemudian menghidupkan mesin mobil dan segera mencari oleh-oleh buat Ibunya tercinta.


Tak berapa lama, mereka membeli buah-buahan saat menemukan penjual buah. Mereka membeli buah tersebut


Beberapa saat kemudian, sampailah Ilham dan Kirana di rumah Pak Darman.

__ADS_1


Keduanya, turun dari mobil dan berjalan bersama menuju rumah.


"Assalamualaikum," sapa Ilham.


"Waallaikumsalam," sahut orang dari dalam yang ternyata adalah Bu Susi.


"Ilham…Kirana…, kalian pulang kenapa tidak memberitahu Bapak dan Ibu." ujar Bu Susi yang terkejut saat melihat putra dan menantunya berada di hadapannya.


Ilham tersenyum, kemudian menggandeng tangan Kirana lembut dan masuk ke dalam rumah yang akan menjadi persinggahan terkahir untuk Kirana.


Ilham dan Kirana duduk di sofa, disusul Bu Susi dari belakang. "Ini, Bu, sekedar oleh-oleh kecil kami." ucap Kirana seraya menyerahkan bingkisan buah tersebut di atas meja.


"Aduh, Kirana, kenapa kamu harus repo-repot beli buah." ucap Bu Susi tersenyum bahagia, putra dan menantunya datang ke rumah.


 "Ya sudah, kalian istirahat dulu. Kalian menginap disini, 'kan?" tanya Bu Susi.


"Iya, Bu, kami menginap disini," sahut Kirana.


Pak Darman, yang sedang keluar rumah tidak mengetahui, kalau Ilham dan Kirana sedang berada di rumah.


Setengah jam kemudian, Pak Darman sampai di rumahnya. Kemudian, Pak Darman segera masuk dan memberi salam.


"Assallamualaikum, Bu, Bapak pulang," sapa Pak Darman yang membuka pintu rumahnya.


"Waallaikumsalam," sahut Bu Susi yang sedang menyiapkan bahan untuk memasak.


"Sedang apa, Bu? Di luar, kok ada sandal baru, ya? Sandal siapa, Bu?" tanya Pak Darman yang sedang duduk di kursi, lalu mengambil gelas dan menuangkan air minum ke dalam gelas tersebut.

__ADS_1


"Oh, itu, sandal Kirana dan Ilham, Pak," ucap Bu Susi santai.


"Apa…! Ilham dan Kirana pulang, Bu?" tanya Pak Darman yang sedikit bingung.


"Iya, Pak, Ilham dan Kirana pulang. Saat ini, mereka sedang di kamar istirahat." timpal Bu Susi.


Daripada Bapak duduk santai di situ, lebih baik Bapak bantuin Ibu masak. Ibu, ingin masak banyak kali ini, sebab menantu Ibu pulang, Pak." ujar Bu Susi dengan senyuman lebarnya yang menghiasi wajah cantiknya itu.


Satu jam kemudian, Bu Susi yang di bantu Pak Darman akhirnya menyelesaikan hidangan makan siang sekaligus makan malam itu. Mereka berdua kompak dalam segala hal. Pak Darman dan Bu Susi menata makanan tersebut di meja makan bersama.


Saat malam tiba, Kirana dan Ilham berjalan menuju ruang keluarga dimana kedua orang tua Ilham berada.


"Selamat malam, Pak, Bu," sapa kedua pasangan tersebut.


"Selamat malam juga," sahut Pak Darman dan Bu Susi.


"Kenapa baru keluar kamar? Kalian, melewatkan jam makan siang, padahal Ibu masak banyak sekali." kata Bu Susi dengan wajah memelasnya.


"Iya, Bu. Kami kelelahan dan dan capek sekali. Ya sudah, kita makan malam bareng-bareng sekarang." ajak Ilham lalu beranjak berdiri menuju meja makan, disusul Kirana dan kedua orang tua Ilham.


Mereka berempat pun makan dengan tenang dan tak ada suara selama makan. Itulah aturan di rumah keluarga Pak Darman.


***


Maaf, baru update ya🙏 masih dalam rangka lebaran, 2 hari ini author sibuk keliling dan alhasil agak sedikit tumbang.


Semalam nulis, eh malah ketiduran 🤭. Maaf bila tulisannya agak terburu-buru. Bila ada salah kata dan typo, mohon saran dan kritiknya🙏. 

__ADS_1


Jangan lupa, like, komen, hadiah dan vote yak😘 Dukungan kalian sangat berarti.


Selamat membaca 🤗


__ADS_2