
"Bagaimana? Apakah kamu suka?" tanya Fahiz tersenyum.
Kirana sungguh sulit percaya, bahwa lelaki yang ada di sampingnya ini benar-benar sulit di tebak. Baru kenal beberapa kali, tetapi sudah membuat hidangan spesial seperti ini.
"Iya Mas, aku suka. Tapi, kenapa harus di kantor?" heran Kirana memandang sekitar ruangan Fahiz yang lumayan luas.
"Tidak apa-apa. Aku belum sarapan, jadi sekalian disini dan temani aku sarapan ya," ucap Fahiz berjalan menuju meja makan lalu menarik kursi untuk Kirana duduk.
Kirana kemudian berjalan menghampiri Fahiz dan duduk, lalu Fahiz ikut duduk di hadapan Kirana.
"Ayo, sarapan. Mumpung masih hangat." kata Fahiz yang langsung mengambil piring dan nasi juga lauk pauk diikuti Kirana.
"Iya Mas."
Kini, keduanya makan dengan santai. Beberapa kali, Fahiz memandang Kirana dan membuat Kirana merasa risih. Namun, Kirana berusaha tenang saat menyadari Fahiz terus menatap dirinya.
Selesai makan, Fahiz kemudian mengajak Kirana duduk di sofa dan membahas ulang tahun kantornya.
"Kirana, maaf membuatmu tidak nyaman. Tetapi, sesungguhnya aku ingin membahas ulang tahun kantorku nanti yang akan diadakan hari minggu lusa. Bisakah kamu menemaniku di acara tersebut?" tanya Fahiz sekaligus sebagai permintaan kepada Kirana.
"Tapi Mas…" ujar Kirana ragu akan ajakan Fahiz.
"Ayolah Kirana, aku tahu kita baru kenal. Akan tetapi, aku sudah merasa nyaman bila dekat denganmu." sahut Fahiz tersenyum.
Setelah mendengar apa yang dikatakan Fahiz, bahwa ini hanya untuk acara ulang tahun. Kirana menerima ajakan Fahiz untuk datang bersamanya nanti.
Setelah lama mengobrol, akhirnya Kirana berpamitan pulang dan Fahiz mengantar Kirana ke toko kue.
"Deni, bereskan ruanganku. Terimakasih, hidangannya sangat enak," kata Fahiz yang kemudian berlalu meninggalkan Deni dan menyusul Kirana yang sudah berjalan lebih dulu.
__ADS_1
"Memang ya, kalau sudah cinta apapun dilakukan demi seorang gadis yang dicintainya." ucap Deni saat masuk ruangan Fahiz.
Di dalam mobil, Kirana merasa canggung setelah apa yang dilakukan Fahiz tadi. Hanya keheningan di antara keduanya tanpa ada yang bicara sama sekali.
"Apakah aku terburu-buru?" ucap Fahiz dalam hati.
"Kenapa Kirana hanya diam saja dari tadi?" ucapnya lagi dalam hati.
Tak berapa lama, akhirnya sampai di toko kue Kirana.
"Terimakasih Mas sudah mengantarku. Makasih juga untuk sarapan paginya," ucap Kirana tersenyum walau dalam hati agak berdegup sedari tadi.
"Iya sama-sama. Bolehkan aku kapan-kapan datang ke rumahmu!" kata Fahiz.
"Iya Mas, tentu boleh." sahut Kirana.
"Iya. Terimakasih Kirana." kata Fahiz tersenyum lebar.
Fahiz kemudian melajukan mobilnya membelah jalanan kembali ke kantor.
***
Hari yang ditunggu telah tiba.
Fahiz beserta keluarganya datang ke kantor untuk merayakan hari jadi kantor Fahiz yang telah menjalankan bisnis selama lima tahun.
"Pa, Ma. Kalian berangkat saja dulu, Fahiz masih ada urusan yang harus di selesaikan disini." kata Fahiz saat melihat jam tangannya.
"Baiklah. Papa dan Mama juga Dwi berangkat, ingat segera datang ke kantor. Sebab, kamu adalah pemiliknya." ujar Mama Heni mengingatkan putranya itu.
__ADS_1
"Iya Ma. Hati-hati di jalan."
Setelah kepergian Papa dan Mamanya, Fahiz tak lama segera keluar menjemput Kirana untuk datang kantornya.
Fahiz masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraannya membelah jalanan menuju rumah Kirana.
Beberapa saat kemudian, Fahiz sampai dan tampaklah Kirana sudah menunggu Fahiz di teras rumah.
Fahiz turun dari mobil dan berjalan menghampiri Kirana yang sedang duduk di temani oleh Bapak dan Ibunya.
"Selamat Pagi," sapa Fahiz kepada ketiga orang tersebut.
"Selamat pagi juga Nak Fahiz," sahut Bu Lastri yang sudah mengenal pelanggan kuenya tersebut.
Pak Tono hanya diam dan tersenyum akan kedatangan lelaki tersebut. Pasalnya, Pak Tono sudah mengetahui dari cerita istrinya kalau Fahiz adalah langganan lama kue Bu Lastri.
"Pak, Bu. Saya Fahiz ijin pamit untuk mengajak Kirana keluar ke acara ulang tahun kantor saya." pamit Fahiz.
"Iya Nak Fahiz, Bapak mengijinkan kalian pergi." jawab Pak Tono memandang lelaki gagah di depannya.
"Terimakasih Pak. Ya sudah Kirana, ayo berangkat nanti telat dan semuanya sudah menunggu." kata Fahiz mencium tangan Pak Tono dan Bu Lastri bergantian.
Begitu juga Kirana yang berpamitan dan mencium tangan kedua orang tuanya.
Jangan lupa like, komen vote ya
Terimakasih yang sudah mampir 🤗
Selamat Membaca 😘
__ADS_1