Suamiku Bukan Jodohku

Suamiku Bukan Jodohku
bab 06


__ADS_3

"Mas Dika, mau pedes atau yang sedang-sedang saja?" tanya Laras pada kakak keduanya Andika.


"Pedes dua sendok ya, Ras," jawab Andika seraya melihat ke kanan dan kiri melihat suasana taman.


"Aku beli empat ribu saja tapi yang pedes ya, Ras," timpal Kirana ikut menyahut.


"Oke."


"Mas Dika, sekalian tolong belikan Es Boba disana ya," tunjuk Laras yang melihat penjual es Es Boba.


"Baiklah,"


Andika berjalan enam langkah menuju penjual es dari tempatnya berdiri. Mereka berbagi tugas masing-masing untuk membeli jajanan.


Sedangkan Kirana duduk manis di taman seraya menunggu adik-adiknya sambil melihat media sosial di ponselnya.


"Bang, cilok empat ribuan tiga bungkus ya," ucap Laras yang menunjuk cilok yang ada dihadapannya.


"Baik, neng," ujar pedagang cilok sambil melayani pembeli.


Setelah membeli cilok dan es boba mereka berdua menyusul kakaknya yang lagi asik duduk di taman sendirian.


Di taman, teman-teman Kirana yaitu Intan, Meli dan Ana juga berada ditaman. Saat mereka asyik berjalan-jalan, dari kejauhan nampak oleh mereka bahwa mengenali salah satu temannya yaitu Kirana.


Sudah lama mereka tak pernah bertemu semenjak kelulusan sekolah.


"Eh…lihat, bukankah itu Kirana ya Mel, An?" tanya Intan pada teman-temannya sambil menunjuk dari tempat mereka berdiri.


Dari kejauhan nampak Kirana sedang bersama adik-adiknya duduk di taman.

__ADS_1


"Yuk, kita kesana," ajak Intan pada dua temannya.


"Ayok,"


Berjalan beberapa langkah akhirnya mereka sampai ditempat Kirana berada.


"Kirana…" panggil beberapa teman Kirana yang datang menghampirinya.


"Ya..."


Kirana yang merasa terpanggil langsung menoleh ke kiri. Dan betapa kagetnya dia mendapati teman-temannya juga berada di taman dan langsung memeluk ketiga temannya satu per satu.


"Apakabar Kirana?" tanya ketiga temannya yang langsung duduk disebelah Kirana.


"Aku baik," 


"Kalian apakabar? Dan bagaimana kalian bisa ada disini juga?" tanya Kirana balik kepada ketiga temannya.


"Dah lama loh kita gak pernah ketemu semenjak perpisahan sekolah," timpal Ana sambil duduk di bangku taman yang kosong di sebelah Intan.


"Iya, ya, dah lama kita gak bertemu. Kalian tampak makin cantik," canda Kirana pada teman-temannya.


Untuk adik-adik Kirana sedang bermain, di mana di taman tersebut ada fasilitas bermain untuk anak-anak dan berpamitan kepada Kirana karena kedatangan teman-temannya.


Mereka berempat mengobrol, bercanda tawa, menceritakan kisah-kisah sewaktu di sekolah. Mereka saling melepas rindu satu sama lainnya. Dan diantara mereka berempat hanya Kirana yang tidak melanjutkan pendidikan ke universitas karena terkendala biaya.


Ketiga teman Kirana merasa terharu dan sedih karena Kirana harus di jodohkan oleh kedua orang tuanya. Namun disisi lain juga sangat disayangkan kalau diusia muda harus menikah.


"Terus hubunganmu dengan Ibrahim bagaimana, Kir?" tanya Meli pada Kirana yang penasaran kisah cinta sahabatnya itu.

__ADS_1


"Ya, mau gak mau aku harus mengakhiri hubunganku dengannya Mel," gumam Kirana yang merasa sedih harus berpisah dengan mantan kekasihnya itu.


"Tetapi sudah sebulan ini aku sering berhubungan lewat telepon dengan Ibrahim dan dia bekerja di Riau sekarang," ujar Kirana.


"Apa! Jadi, Ibrahim sekarang di Riau." sahut Meli yang kaget mendengar berita tersebut.


"Ya, ampun Kirana yang sabar ya," Meli yang mendengar bahwa Kirana dan Ibrahim harus putus demi perjodohan merasa kasian sekaligus sedih.


Ketiga teman Kirana seketika langsung memeluk Kirana seraya memberi semangat bahwa jodoh tidak akan kemana.


"Jadi, tiga bulan lagi kamu menikah, Kir? Dan bagaimana calon suamimu itu? Ganteng 'kan?" tanya Intan sambil menggoda Kirana.


Kirana yang digoda teman-temannya, hanya mampu menunduk tersipu malu dan kedua pipinya sudah merah merona. Seketika mereka tertawa karena Kirana tidak seperti biasanya selalu blak-blakan semasa sekolah dahulu.


"Ganteng sih, tetapi gak tau deh gimana sifatnya!" sahut Kirana menjawab pertanyaan Intan.


"Terus calon suamimu bekerja dimana? Terus namanya siapa? Dan sudah berapa lama bekerja?" tanya Meli pada Kirana.


"Satu persatu dong, Mel kalau nanya? 'kan, Kirana bingung nanti jawabnya!" canda Intan sambil geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan dari Meli.


Kirana hanya tersenyum mendengar pertanyaan beruntun tertuju padanya.


"Mas Ilham, bekerja di perusahaan sawit tepatnya di Lampung dan sudah tiga tahun," jawab Kirana seraya mencubit Meli gemas pada temannya itu.


"Jangan lupa undangan pernikahan ya! awas loh kalau sampai lupa!" Ana ikut menimpali obrolan mereka.


"Beres," sahut Kirana.


Hari tak terasa sudah semakin sore, Kirana dan kedua adiknya serta sahabat Kirana berpamitan pulang. Tak lupa Kirana meminta ketiga temannya untuk bermain kerumahnya kalau senggang.

__ADS_1


Dan akhirnya mereka pulang menuju rumah masing-masing.


***


__ADS_2