Suamiku Bukan Jodohku

Suamiku Bukan Jodohku
bab 55


__ADS_3

Ilham dan Ani, mengobrol bersama kedua orang tua Ani. Mereka berbagi cerita dan bercanda tawa lepas saat mengenang masa kecil Ani.


Tak terasa waktu jam makan malam tiba. Kemudian, Pak Doni dan Bu Rini segera mengajak Ilham ke ruang makan di rumah sederhana mereka.


"Mari, Nak Ilham, makan malam bersama. Kebetulan, yang masak adalah Ani sendiri." ucap Pak Doni seraya tersenyum.


"Benarkah, Pak?" tanya Ilham.


"Iya, Ani dari kecil sudah kami ajari untuk memasak, agar kelak menikah nanti tidak merasa gugup dan malu." ujar Pak Doni saat duduk di meja makan.


"Wah, pintar memasak dan cantik pula," puji Ilham melirik Ani sambil tersenyum.


Ani yang mendengar kata-kata Ilham, seketika wajahnya merona merah karena malu. Sebab, Ilham dari tadi tak henti-hentinya memuji.


"Ya, sudah, ayo kita makan bersama-sama." pinta Pak Doni.


Ani pun segera mengambil piring dan nasi juga lauk untuk Ilham, begitu pula dengan Bu Rini.


Mereka berempat, makan dengan di selingi candaan dan sesekali Ilham mampu membuat keluarga Ani tertawa bahagia.


***


Ilham yang saat ini tengah bahagia, akan tetapi di tempat berbeda, Kirana merasakan kesedihan.

__ADS_1


Sebab, saat ini Kirana terbangun dengan memeluk foto Bapak dan Ibunya. Kirana menoleh kesamping dan dilihatnya suaminya belum pulang.


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Perut Kirana, terasa lapar sebab dirinya menangis tiada henti.


"Astaga, aku ketiduran! Sampai aku lupa makan." celetuk Kirana.


Kirana segera pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah selesai, Kirana pergi ke dapur untuk makan, sebab cacing di perutnya meronta minta diisi.


Kirana, segera menghangatkan sayur yang telah dingin. Menunggu beberapa saat, Kirana segera mengambil nasi dan juga sayur.


Kirana, makan sendirian tanpa ditemani suaminya. Baru beberapa suap sendok, Kirana menangis bahkan air matanya menetes di atas nasi yang sedang dia makan.


Ruangan yang sunyi dan sepi ini menambah kegelisahan dan kesedihan Kirana.


Kirana segera mengusap air matanya. Dirinya sudah tak nafsu makan lagi. Lalu, segera pergi ke dapur untuk mencuci piringnya yang kotor. Kemudian, melanjutkan tidurnya.


Saat akan memasuki kamar, terdengar suara motor dari luar. Ternyata suaminya telah pulang.


"Assalamualaikum, Dek! Mas, pulang," sapa Ilham dari luar.


"Waallaikumsalam," sahut Kirana dari dalam seraya membuka pintu.


Kirana mencium tangan suaminya. Ilham berjalan masuk lalu pergi ke kamar untuk mencuci kaki dan tangannya yang dingin.

__ADS_1


"Kok, sampai malam begini, Mas?" tanya Kirana sambil menutup pintu.


"Iyalah, urusan pekerjaan pasti sampai malam, kau kira apa?" sahut Ilham setelah selesai dari kamar mandi.


Kirana hanya bisa tersenyum kecut dan merasakan sesak di dadanya, mendengar jawaban dari suaminya yang penuh dengan kebohongan.


Ilham yang telah buta mata hatinya seakan lupa dengan janji manisnya dulu yang diberikan kepada Kirana.


Ilham segera pergi ke kamar dan merebahkan tubuhnya yang lelah setelah menempuh perjalanan. Kemudian, Kirana menyusul dan tidur di samping suaminya.


Tanpa Ilham sadari, Kirana semakin yakin ingin berpisah dengan suaminya. Sebab, kepercayaan Kirana pada Ilham sudah luntur dan awal kebohongan sudah terjadi dan begitu seterusnya.


Keduanya, tertidur pun saling memunggungi. Tiada lagi pelukan seperti awal pernikahan. Betapa Kirana hancur melihat suami yang dulu dipuja, berubah menjadi hina dimatanya.


Kirana pun tak bisa tidur, ingin membicarakan masalahnya dengan Ilham, rasanya tak mungkin. Akankah, Ilham akan jujur akan sikapnya selama ini. Atau, berbohong sampai Kirana mengatakan kebenaran nantinya.


Dua jam telah berlalu, Kirana juga belum bisa tidur. Sampai akhirnya, Ilham menggeliat dan berbalik badan namun dengan mata terpejam.


Kirana melihat wajah teduh suaminya. Suami yang sudah dinikahinya enam tahun. "Kenapa, Mas, kenapa kamu tega! Lagi dan lagi kamu sudah berbohong padaku!" lirih Kirana berucap dengan air mata yang menetes.


Ingin sekali Kirana mengatakan pada suaminya, kalau aku sudah tahu perselingkuhanmu.


Akan tetapi, Ilham sudah tidur dan kemungkinan untuk membicarakan sekarang bukan waktu yang tepat.

__ADS_1


Kirana, bingung sendiri apa yang harus dilakukannya. Sampai larut malam, Kirana tak bisa tidur. Jam satu dini hari, barulah Kirana tertidur.


__ADS_2