
Setelah menghubungi Deni, Fahiz melanjutkan pekerjaan dan mengecek laporan di laptopnya.
Restoran yang di kelolanya kini semakin berkembang pesat, dan laporan dari setiap karyawannya membuat Fahiz puas akan kinerja para karyawan yang selama ini telah bekerja dengan restoran milik Fahiz.
Banyak para karyawan yang senang bekerja dengan Fahiz. Di samping Fahiz ramah, harga makanan juga terjangkau di kantong pembeli yang mampir di restoran Fahiz.
Sampai malam hari tiba, Fahiz baru selesai dengan pekerjaannya. Lalu, Fahiz keluar dari ruang kerjanya dan saat berjalan menuju kamar untuk mandi, Fahiz melihat papa dan mamanya sudah berada di rumah.
"Malam Pa…Ma!" ucap Fahiz kepada kedua orang tuanya.
"Malam juga, Fahiz."
"Fahiz mandi dulu ya Pa, Ma!" ucapnya seraya berlalu dari hadapan Papa dan Mamanya.
"Pa, kapan Fahiz bawa calon menantu kita ya?" tanya Heni pada suaminya.
"Mama tenang saja, nanti kalau sudah tiba waktunya Fahiz akan membawanya ke dalam rumah kita." ujar Ilyas yang menenangkan istrinya.
"Semoga saja dalam waktu dekat ini Fahiz bisa membawa keinginan Mama." ucapnya dengan mata berbinar dan senyum lebarnya.
"Aamiin. Semoga do'a Mama dikabulkan." ucap Ilyas dengan memeluk Heni istrinya.
Di dalam kamar mandi, Fahiz mandi dibawah guyuran air shower yang membasahi tubuh kekarnya. Bayangan wajah Kirana seakan tak mau terlepas dari kepala Fahiz, membuat Fahiz berdecak kesal sendiri.
__ADS_1
"Ck...Kenapa bayangan wajah gadis itu sulit sekali keluar dari isi kepalaku ini!" ucapnya dengan memutar kran dengan kencang dan air mengalir dengan deras di atas kepalanya.
Lima belas menit kemudian, Fahiz keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit pinggangnya. Lalu berjalan menuju lemari mengambil kaos oblong dan juga celana pendek.
Fahiz, lalu berdiri di depan cermin menatap wajah tampannya.
"Kirana, kenapa wajahmu selalu hadir di dalam isi kepalaku ini?" ucap Fahiz bermonolog.
"Ini juga Deni, kenapa sampai sekarang belum juga menghubungiku," ujarnya sambil melihat jam di tangannya.
"Ngapain saja sebenarnya Deni ini. Punya asisten kenapa bikin kepalaku tambah pusing saja. Lama sekali memberi kabar!" gerutu Fahiz sambil keluar dari kamar.
Fahiz berjalan menuju ruang keluarga dimana Papa dan Mamanya berkumpul.
****
Di tempat berbeda, Ilham telah kembali dari Lampung dan saat ini dirumah hanya menganggur. Hanya, diam meratapi nasibnya yang berantakan setelah bercerai dari mantan istrinya Kirana.
"Pak, lihat Ilham. Semenjak kembali dari Lampung, kenapa jadi sering melamun begitu?" tanya Bu Susi memperhatikan Ilham yang duduk di sofa.
"Iya…ya Bu, Bapak juga melihatnya dan merasa kasihan juga sejak bercerai dari Kirana, menjadi tak bersemangat hidupnya." sahut Pak Darman ikut melihat Ilham.
Ilham yang mendengar orang tuanya berbicara, seketika tersentak. Walau jarak mereka sedikit jauh, tapi Ilham masih bisa mendengarnya. Hatinya berdenyut sakit saat mengingat mantan istrinya Kirana.
__ADS_1
Begitu banyak kenangan indah bersama Kirana di rumah ini. Membuat Ilham semakin pusing dan memilih pergi ke kamar meninggalkan orang tuanya di dapur.
"Kasihan Ilham, Pak. Apa sebaiknya kita carikan jodoh lagi buat Ilham, agar tidak sendiri lagi." ucap Bu Susi dengan rencana perjodohan lagi.
"Kali ini Bapak tidak setuju, Bu! Ibu ini main menjodohkan anak, memangnya Ilham mau dijodohkan lagi!" cerca Pak Darman menolak keputusan istrinya.
"Tapi Pak, kasihan Ilham daripada merenung sendiri dan gak jelas apa yang dilakukannya." kata Bu Susi mencoba memberi pengertian kepada suaminya.
"Iya Bapak tahu, tapi untuk saat ini biarkan Ilham berpikir dan merenung kembali apa kesalahannya itu." tegas Pak Darman menjelaskan.
Kemudian, kedua orang tua tersebut melanjutkan aktifitas mereka yang tertunda.
Ilham di kamar, hanya bisa memandang wajah mantan istrinya di dalam foto di meja nakasnya. Kemudian, Ilham mengambil dan membelai wajah mulus putih Kirana di bingkai foto tersebut.
Seketika, Ilham menangis menyesali perbuatannya yang dengan begitu kejam dan egois lebih memilih perempuan lain hanya karena ingin memiliki anak.
Kini, takdir tak bisa dirubah kembali. Ilham terpuruk dalam penyesalannya, lalu tak lama Ilham tertidur dengan memeluk foto mantan istrinya itu.
********
Dukung karya author ya dengan like komen, vote dan hadiah 😘
Agar author terus semangat dalam berkarya.
__ADS_1
Selamat Membaca 🤗