Suamiku Bukan Jodohku

Suamiku Bukan Jodohku
bab 75


__ADS_3

Di toko, Kirana yang sibuk melayani pembeli mendapat pesan dari nomor yang tidak dikenal. Kemudian, Kirana membuka pesan tersebut dan hanya membaca tanpa membalas.


Bu Lastri semenjak toko kue nya begitu ramai pembeli, telah membuka cabang di dekat perkantoran dan kampus saja.


Di samping harganya murah, kualitas rasa juga sangat enak. Banyak pembeli yang menyukai kue buatan Bu Lastri. Tentunya, Kirana juga belajar membuat kue dari Ibunya.


Andika dan Laras, sukses berkat kerja keras dari kedua orang tuanya.


Di toko, Bu Lastri yang menjaga agar dekat dengan rumah. Sedangkan, di cabang yang lain di pegang Kirana dan juga Laras. Untuk Andika, sudah memiliki pekerjaan walau sambil kuliah.


"Mbak Santi, saya titip toko. Saya mau pulang kerumah dan istirahat." kata Kirana yang berpesan kepada karyawannya dan pergi.


"Baik Mbak Kirana," ucap Santi tersenyum melihat kepergian majikannya.


Kirana segera menuju parkiran dimana motornya berada. Kemudian, melajukan kendaraanya membelah jalan raya dengan kecepatan sedang.


Perjalanan yang ditempuh lumayan jauh, membuat Kirana rela menjalaninya.


Fahiz, yang akan meeting bersama salah satu klien di luar kantor. Tak sengaja, matanya menatap keluar jendela mobil saat melihat dan mengenal siapa sosok yang berhenti salah satu lampu merah.


"Bukankah itu Kirana?" ucapnya dalam hati.


"Mau kemana dia?" gumam Fahiz lirih.


Lampu telah berganti warna hijau, tanda kendaraan saatnya berjalan.


"Pak, ikuti motor di depan itu!" pinta Fahiz kepada sopir.


"Baik Pak."


Bukannya pergi ke tempat dimana pertemuannya dengan klien, Fahiz malah mengikuti kemana Kirana pergi.


Setelah beberapa saat, ternyata Fahiz telah sampai di rumah Kirana.


"Kenapa aku malah mengikutinya sampai kesini?" ucapnya tersenyum tanpa sadar membuat dirinya melakukan hal bodoh.


"Kita kembali ke alamat yang aku berikan tadi Pak!" kata Fahiz seraya menatap Kirana dari jauh yang telah masuk kerumah dengan selamat.


Mobil mulai melaju meninggalkan rumah Kirana menuju restoran yang akan dituju oleh Fahiz.


Saat akan masuk kerumah, Kirana menoleh ke belakang. Sebab, Kirana merasa ada yang mengawasinya dari tadi.


"Mungkin hanya perasaanku saja." Lalu, Kirana masuk ke dalam dengan ucapan salam. "Assalamualaikum."


"Waallaikumsalam," sahut seseorang dari dalam.


"Bagaimana harimu Kirana?" tanya Bu Lastri yang duduk menonton televisi.


"Cukup melelahkan Bu," ucap Kirana duduk di sofa dengan memejamkan matanya.

__ADS_1


Ya, semenjak.perpisahannya dengan Ilham. Kirana berusaha mencari kesibukan untuk melupakan mantan suami yang telah menghianatinya tanpa perasaan. Baginya, enam tahun bukan waktu yang mudah untuk melupakan sesosok Ilham di dalam hatinya.


Bu Lastri yang melihat Kirana begitu sedih. Semenjak menyandang status janda, Kirana lebih banyak melakukan pekerjaan di toko dan rumah saja, sampai tak sempat untuk memikirkan mengenal laki-laki lain agar hidupnya lebih berwarna lagi.


"Bu, Kirana masuk ke dalam kamar dulu!" ucap Kirana beranjak berdiri menuju kamar.


Bu Lastri hanya mengangguk dan memandang punggung Kirana dengan wajah sendu.


"Andai saja, Kirana gak gila kerja dirinya pasti akan memikirkan hidupnya dan bisa menikah lagi dengan laki-laki yang tepat." gumam Bu Lastri sambil menonton televisi lagi.


Di dalam kamar, Kirana langsung masuk ke kamar mandi membersihkan badannya yang lengket. Selesai mandi, Kirana keluar dengan wajah segar dan rambut basah.


Kirana menyisir rambut di depan cermin, dirinya menatap wajah cantiknya dengan lekat. Semenjak berstatus janda, Kirana banyak yang mendekati. Namun, tak ada satupun yang menyentuh hatinya sama sekali.


"Aku masih ingin fokus membahagiakan kedua orang tua dan juga adik-adikku. Aku belum ingin mencari pendamping untuk sementara waktu sampai hatiku benar-benar kesepian dan membutuhkan sandaran hati." gumam Kirana saat melamun di depan cermin.


Ting


Ponsel Kirana berbunyi. Menandakan ada pesan masuk dari seseorang.


📩Selamat sore cantik, bagaimana kabarmu? Kenapa pesanku tidak dibalas kemarin?"


📩Aku ingin mengenalmu lebih dekat. Bolehkah kita bertemu?"


Kirana mengernyit membaca pesan tersebut. Kembali lagi, dirinya hanya membaca pesan tanpa membalas pesan dari seseorang yang sudah membuatnya gelisah.


Sedangkan di restoran, Fahiz kembali tersenyum kecut melihat pesannya hanya dibaca saja oleh Kirana. Membuat asisten pribadinya bergidik ngeri akan senyuman dan wajah yang menahan amarah sejak kemarin.


"Deni, aku ingin kamu melakukan sesuatu besok pagi. Kirimkan bunga ke toko Bu Lastri atas nama Kirana." pinta Fahiz tegas.


"Baik."


Kemudian, Fahiz kembali melanjutkan negoisasi bersama klien nya di restoran tersebut.


***


Keesokan paginya, Fahiz menepati janjinya mengirim bunga ke Kirana di rumahnya.


"Permisi, kiriman bunga!" kata kurir.


Kirana yang sedang menyapu halaman dibuat terkejut oleh seorang kurir yang mengirim bunga yang sangat besar datang pagi-pagi sekali ke rumahnya.


"Silahkan tanda tangan disini," ucap kurir tersebut.


Kirana lalu menandatangi kertas dan sang kurir berlalu pergi meninggalkan rumah Kirana.


"Wangi sekali," Kirana menghirup wangi bunga yang dikirim seseorang.


Lalu, Kirana melihat ada pesan tersebut di dalam kertas itu. "Selamat pagi, Kirana cantik. Teruslah tersenyum di saat pagi hari, karena hidupmu akan lebih berwarna. Dari sang pujangga hati." isi pesan tersebut membuat Kirana bingung, darimana dia tahu namaku Kirana.

__ADS_1


Sebab, selama ini Kirana tak pernah mengenal lelaki manapun walau hanya sekedar teman, tapi tak pernah sampai seperti ini.


Kemudian, Kirana segera membawa masuk bunga tersebut kedalam. Nampak, Bu Lastri dan Pak Tono juga kedua adiknya tampak berkumpul di ruang keluarga.


"Bunga dari siapa Kirana?" tanya Pak Tono heran Kirana membawa bunga mawar besar ke dalam rumah.


"Tidak tahu Pak. Gak ada nama pengirimnya, tetapi pesannya buat Kirana." ucap Kirana datar dan membawa bunga tersebut ke dalam kamarnya.


"Wangi sekali bunganya, pasti dari pujaan hati kakak ya?" timpal Laras saat mencium wangi bunga itu.


Dengan cepat Kirana menjitak kepala Laras.


Pletak


"Aduh…kak, sakit kepalaku tahu!" gerutu Laras dengan wajah cemberut memegang kepalanya di jitak kakaknya sendiri.


"Kalau ngomong jangan asal, dek! Kakak tuh gak punya pacar, siapa yang mau sama janda kayak kakak," ucap Kirana dengan wajah sendu.


"Maaf kak,"


Kirana lalu berlalu dari hadapan keluarganya menuju kamar. Dirinya merasa heran, pagi-pagi sudah dibuat heboh dengan bunga mawar besar di rumahnya.


Ting


Pesan masuk dari ponsel Kirana saat masuk ke kamar.


📩"Bagaimana, bunganya sudah datang?" ucap seseorang di dalam pesan tersebut.


📩"Terimakasih bunganya." balas Kirana.


📩"Semoga harimu menyenangkan dan teruslah tersenyum. Sebab, senyummu sudah membuat hariku gelisah." kata orang tersebut di pesan.


"Dasar gila."


Kirana tak membalas pesan tersebut. Dirinya hanya membalas sekenanya saja. Kirana tak habis pikir, bagaimana orang itu tau nomor telepon dan alamat rumahnya.


Tak ingin memikirkan hal siapa pengirim misterius itu, Kirana memilih keluar kamar dan melanjutkan pekerjaan. Lalu segera berangkat bekerja di toko kue milik Ibunya yang berada dekat kampus Laras.


Di tempat lain, Fahiz tersenyum senang. Akhirnya, pesan tersebut dibalas oleh Kirana walau singkat.


Fahiz tidak peduli, Kirana janda atau gadis. Yang pasti hatinya sudah tak karuan setiap kali melihat wajah Kirana saat pertama kali bertemu.


"Lihat saja, suatu hari nanti kamu akan menjadi milikku Kirana." gumam Fahiz memantapkan hatinya.


***


Jangan lupa like, vote dan komen 😘


Selamat membaca 🤗

__ADS_1


__ADS_2