
Di saat Ilham sedang termenung dan memikirkan pernikahannya yang akan berakhir dengan Kirana.
Di rumah, Kirana sudah memberitahu orang tuanya. Bahwa besok dirinya akan pulang dan mengurus surat perceraian setibanya di Jakarta.
Kedua orang tua Kirana, nampak terkejut mendengar apa yang diceritakan putrinya. Sungguh sangat disayangkan, pernikahan putrinya yang baru berjalan enam tahun harus berakhir dengan perceraian.
Keesokan harinya, Kirana sudah bersiap-siap menuju kantor divisi.
Sedangkan, Ilham menunggu Kirana dirumah. Sebab, dirinya akan mengantar istrinya pulang kerumah orang tuanya. Dirinya juga sudah ijin tadi pagi ke manager, akan mengantar istrinya pulang dengan alasan rindu kepada orang tuanya.
Ternyata, manager tersebut mengijinkan dirinya pulang. Sebab, sudah enam tahun ini Ilham belum pulang ke kampung halamannya.
Ilham sudah memesan tiket online bus dan juga kapal setelah pertengkaran dirinya dengan Kirana semalam. Lalu, dirinya dan Kirana akan berangkat pagi ini.
Sesampainya di kantor, Kirana bertemu Bu Ira yang sedang mengerjakan laporan dari para mandor.
"Assalamualaikum, Bu Ira!" sapa Kirana seraya duduk di hadapan Bu Ira.
"Waallaikumsalam, Kirana!" balas Bu Ira menjawab salam dari Kirana.
"Begini, Bu, Kirana mau mengundurkan diri sebagai kerani." ucap Kirana seraya menyerahkan surat pengunduran dirinya.
Bu Ira nampak terkejut dan juga begitu sedih akan pengajuan pengunduran Kirana yang begitu tiba-tiba.
"Kamu sudah yakin akan pilihanmu, Kirana?" tanya Bu Ira melihat Kirana lekat.
"Aku sudah yakin, Bu! Ini pilihan yang terbaik buatku." ucap Kirana dengan mantap.
Bu Ira tersenyum dan tentunya tahu bahwa rumah tangga Kirana dengan suaminya tidak baik-baik saja. Namun, dirinya tidak ingin ikut campur urusan orang lain.
__ADS_1
"Kalau itu memang keputusan kamu, Ibu hanya bisa mendo'akan, semoga setelah dari sini kamu mendapat pekerjaan yang lebih baik lagi. Masa depanmu masih panjang." tutur Bu Ira lembut sambil menggenggam tangan Kirana.
"Iya, Bu. Aku sangat berterimakasih dengan Bu Ira, Ibu sudah mengajariku banyak hal dan mempunyai banyak teman disini." ucap Kirana dengan tersenyum.
Keduanya saling berpelukan dan memumpahkan rasa sedih dan bahagia di saat mereka harus dipisahkan jarak.
"Jangan lupa kabari Ibu, kalau sudah sampai di Jakarta," ucap Bu Ira seraya melepas pelukan mereka.
"Iya, Bu. Nanti aku kabari kalau sudah sampai." ucap Kirana.
"Ya sudah, Bu. Aku pamit, salam kepada teman-teman kerani yang lain." kata Kirana beranjak berdiri ditemani Bu Ira yang mengantar Kirana hanya sampai luar kantor divisi.
Bu Ira hanya menanggapi dengan menganggukan kepala saja.
Jujur Bu Ira merasa sedih akan kepergian Kirana. Namun, dirinya tak bisa berbuat apa-apa.
Kini, Kirana sudah berada dirumah. Ilham yang menunggu Kirana dirumah ditemani Erik hanya bisa tersenyum canggung.
Erik baru mengetahui masalah Ilham dan istrinya dari cerita Ilham sendiri. Sungguh, Erik awalnya sangat marah pada Ilham. Akan tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Semuanya, tidak akan bisa kembali seperti semula lagi.
Kini, Erik pun akan mengantar Ilham dan Kirana menuju kota kecil. Jarak antara Perusahaan sawit ke kota kecil tersebut hanya tiga jam perjalanan.
Selebihnya, Ilham dan Kirana akan pergi naik travel menuju terminal Kota Lampung.
Begitu sampai di kota tersebut, Erik segera memeluk sahabatnya tersebut dengan erat.
"Oke, Bro. Sudah sampai di tempat. Hati-hati selama di perjalanan nanti." ucap Erik seraya menepuk bahu Ilham.
"Iya, thank ya, sudah mengantar kami berdua." sahut Ilham.
__ADS_1
"Sama-sama."
Begitu juga Kirana ikut bersalaman kepada Erik dan mengucapkan terimakasih.
Kini, Ilham dan Kirana segera berangkat. Sebab, mobil travel sudah menunggu beberapa penumpang untuk menuju Kota Lampung.
Mobil travel pun segera melajukan kendaraannya menuju Kota Lampung.
Erik melambaikan tangannya untuk kepergian Ilham dan Kirana.
Semoga, sahabatnya itu bisa lebih dewasa setelah berpisah dari istrinya.
Setelah beberapa jam menempuh perjalanan. Ilham dan Kirana segera turun dari mobil travel.
Keduanya, pun mencari makan terlebih dahulu karena lapar.
Setelah mencari Depot Makanan Padang. Keduanya masuk dan segera pelayan meletakkan berbaga menu.
Keduanya, tidak ada yang bicara sama sekali selama dalam perjalanan. Ilham dan Kirana saling diam dalam pikiran mereka masing-masing. Mereka pun makan dengan tenang hanya suara sendok dan garpu yang saling bersahutan.
Setelah selesai makan, keduanya segera membayar makanan dan keluar menuju bus tujuan Jakarta.
Akhirnya, bus yang dituju sudah tampak terlihat. Lalu, keduanya masuk ke dalam bus dan duduk berdua tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari bibir mereka.
Kini, bus pun berangkat menuju Pelabuhan Bakauheni dan akan menyeberang lautan menuju Pelabuhan Merak.
***
Jangan lupa, like, komen, vote dan hadiah yak. Yang belum fav silahkan fav di novel recehanku ini.🤗
__ADS_1
Selamat membaca😘😘