Suamiku Bukan Jodohku

Suamiku Bukan Jodohku
bab 76


__ADS_3

Dalam perjalanan, Kirana tak henti-hentinya memikirkan pengirim bunga misterius dan juga dua kali dirinya mendapat pesan misterius.


Menempuh perjalanan selama empat puluh lima menit, Kirana sampai di toko.


"Selamat pagi mbak Kirana," ucap salah satu karyawan.


"Selamat pagi juga, mbak Rini," sahut Kirana.


Kirana masuk ke dalam ruangannya setelah menyapa karyawannya.


Duduk di kursi, Kirana segera mengecek beberapa laporan keuangan dan juga pesanan kue.


Di tempat berbeda, Fahiz melajukan kendaraannya setelah sarapan pagi bersama kedua orang tuanya.


Fahiz sengaja sarapan cepat, karena ingin mengetahui dimana Kirana bekerja sekarang, setelah mendapat informasi dari asisten pribadinya Deni bahwa Kirana sudah bekerja.


Kini, disinilah Fahiz berada. Di depan toko kue cabang milik Ibu Kirana.


Fahiz ternyata diam-diam mengikuti Kirana dari belakang saat berangkat dari rumahnya.


"Ternyata, disini kamu bekerja." ucap Fahiz melihat toko yang kecil tapi cukup ramai.


Kemudian, Fahiz melajukan kendaraannya menuju kantor yang di kelolanya.


Sampai di kantor, Fahiz keluar dari mobil dan masuk ke dalam menuju ruangannya.


"Deni, ke ruanganku!" ucap Fahiz lewat telepon.


Tak lama kemudian, Deni masuk dan duduk di sofa.


"Deni, pesankan kue ulang tahun yang besar untuk kantor kita nanti yang akan diadakan seminggu lagi." kata Fahiz memberi perintah.


"Ada lagi!"


"Pesan kue di tempat Kirana bekerja sekarang," pinta Fahiz.


"Baiklah. Aku pergi dulu." ucap Deni seraya tersenyum.


Deni beranjak berdiri dan meninggalkan Fahiz sendirian di kantor.

__ADS_1


"Dasar bucin. Kalau sudah cinta kenapa tidak datang dan pesan sendiri ke tempat Kirana. Selalu saja merepotkan." gerutu Deni saat duduk di meja kerjanya.


Kemudian, Deni menghubungi toko kue Kirana bekerja.


"Hallo, dengan toko kue Bu Lastri. Ada yang bisa dibantu?" tanya Santi.


"Saya ingin pesan kue berukuran besar, untuk ulang tahun kantor bos saya seminggu lagi." ucap Deni.


"Baiklah, atas nama siapa?" tanya Santi.


Setelah, Deni memberitahu nama dan alamat kantornya. Deni melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


Di dalam ruangan, Fahiz tak bisa fokus dalam bekerja. Bayang-bayang Kirana selalu saja datang di dalam kepala Fahiz.


"Ck, susah sekali menghilangkan bayang-bayangnya dari pikiranku. Kalau begini, bisa gila aku." kesal Fahiz meremas kertas dan membuangnya asal.


Fahiz lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya, agar lebih segar.


Keluar dari kamar mandi, Fahiz melanjutkan pekerjaannya dan segera pulang.


Selesai mengurus laporan dan menandatangi beberapa dokumen, Fahiz keluar dari ruangan karena ingin pulang dan memberitahu kepada mamanya perihal Kirana.


"Oke."


Fahiz, kemudian berlalu meninggalkan Deni sendirian yang sedang belerja.


"Bilang saja, mau menemui Kirana." ucap Deni saat Fahiz telah pergi.


Fahiz, masuk ke mobil dan melajukan kendaraannya menuju tempat Kirana bekerja.


Beberapa saat kemudian, sampailah Fahiz di depan toko Kirana.


Keluar dari mobil, Fahiz menutup pintu dan berjalan masuk ke dalam toko.


Saat masuk ke dalam, Fahiz tak melihat Kirana. Hanya beberapa karyawan yang berada di depan etalase kue dan juga kasir.


Beberapa karyawan Kirana langsung menoleh dan berbisik-bisik saat Fahiz masuk.


"Ada yang bisa dibantu Pak?" ucap Reni saat pembeli datang.

__ADS_1


"Apa Kirana ada? Maksud saya, Bu Kirana ada?" tanya Fahiz yang begitu gugup saat menanyakan Kirana.


"Mbak Kirana sedang keluar. Apa Bapak sudah membuat janji dengan Mbak Kirana?" ucap Reni.


"Belum. Lain kali, saya datang kembali lagi kesini. Tolong, empat bungkus kue itu," ucap Fahiz seraya menunjuk kue brownies yang ada di depannya.


"Baiklah, ditunggu."


Fahiz kecewa, kedatangannya ternyata terlambat. Niat hati ingin bertemu, akan tetapi malah gagal.


"Ini Pak! Semuanya dua ratus ribu."


"Terimakasih." ucap Fahiz seraya menyerahkan dua lembar uang merah dua ratus ribu kepada karyawan Kirana.


Keluar dari toko, Fahiz melanjutkan pulang ke rumah orang tuanya.


Tak berselang lama, Fahiz datang di kediaman orang tuanya dengan membawa dua kantong plastik kue yang di belinya tadi.


Masuk ke dalam rumah, Fahiz berteriak memanggil mamanya.


"Mama…" teriak Fahiz berjalan masuk ke dalam rumah.


"Astaga Fahiz, kamu kira rumah ini hutan. Teriak-teriak memanggil mama." ucap Heni saat berada di ruang keluarga mendengar teriakan Fahiz.


Fahiz hanya menyengir saat di omelin mamanya. Lalu, meletakkan dua kantong plastik di meja.


"Apa ini?"


"Kue Ma, Fahiz membeli dari toko kue Kirana tadi." ucap Fahiz saat duduk di samping mamanya.


"Kirana…"


Heni mengernyit bingung saat Fahiz menyebut nama Kirana.


"Siapa Kirana, Fahiz?" tanya Heni yang mulai penasaran.


Jangan lupa like, komen dan vote.


Terimakasih. Dukung karya author agar tetap terus berkarya.

__ADS_1


Selamat membaca 🤗


__ADS_2