Suamiku Bukan Jodohku

Suamiku Bukan Jodohku
bab 25


__ADS_3

Setelah lebih tenang, Kirana segera keluar dari kamar dan menemui Ibrahim.


Dalam hati, Kirana senang bertemu mantan kekasihnya. Akan tetapi, dirinya tidak mau mengecewakan kedua orang tuanya.


Setibanya di ruang tamu, Kirana berdiri mematung melihat mantan kekasihnya berada di rumahnya. 


Nampak kedua orang tuanya berbicara sangat santai dengan Ibrahim. Seolah-olah tak terjadi apa-apa.


Ibrahim yang melihat Kirana datang begitu senang dan tersenyum. Namun, melihat wajah Kirana yang datar membuat senyum Ibrahim menghilang.


"Nah, Kirana sudah datang, kalau begitu Bapak dan Ibu tinggal dulu. Kalian lanjutkan mengobrolnya," kata Pak Tono seraya berdiri di ikuti Bu Lastri pergi meninggalkan Kirana bersama Ibrahim.


"Hai, Ibrahim, apakabar? Sudah lama sekali kita tidak bertemu," sapa Kirana dengan senyum yang dipaksakan.


"Hai, juga Kirana, kabarku alhamdulillah baik. Lalu bagaimana denganmu, Kirana?" jawab Ibrahim dengan senyum di kedua sudut bibirnya.


"Kabarku alhamdulillah juga baik," balas Kirana sambil melirik ke kanan dan kiri, takut orang tuanya mendengar apa yang dibicarakannya dengan Ibrahim.


Sejujurnya, Kirana saat ini ingin mengajak Ibrahim keluar rumah dan pergi ke tempat lain membicarakan maksud kedatangannya.


"Him, ada apa kamu datang kesini?" lirih Kirana bertanya.

__ADS_1


"Aku kesini karena kangen sama kamu, Kirana. Lalu kenapa pesanku tak pernah kamu balas semenjak kedatanganku di Jakarta," balas Ibrahim menjawab.


Mendengar kata-kata Ibrahim, seketika Kirana tak mampu membalas pernyataan Ibrahim pada dirinya.


Kirana nampak merasa bersalah dan langsung menangis. Akan tetapi, dirinya juga bimbang menentukan pilihan di antara Ibrahim yang pernah menjadi tambatan hatinya.


Atau Ilham yang akan menjadi suaminnya dua minggu lagi.


Tak sabar, Kirana bergegas mengajak Ibrahim keluar dari rumahnya, lalu pergi ke taman tanpa berpamitan kepada kedua orang tuanya.


Tanpa mereka sadari, kedua orang tua Kirana mendengar pembicaraan mereka berdua sedari tadi.


Kini, Ibrahim dan Kirana duduk di sebuah taman yang kebetulan suasana taman tampak sepi.


"Kirana, kenapa kita datang ke taman? Padahal, aku ingin berbicara kepada kedua orang tuamu ten…" tanya Ibrahim dengan bingung kemudian menatap wajah Kirana.


"Kamu ingin membicarakan tentang apa?" sela Kirana saat Ibrahim belum selesai mengatakan maksud kedatangannya.


"Kamu sudah lupa dengan janjiku padamu dulu!" ujar Ibrahim mengingatkan janjinya dulu pada Kirana.


"Aku tidak lupa dengan janjimu, Him. Namun, saat ini keadaan telah berubah dan semua tak sama," lirih Kirana mengatakan pada Ibrahim agar melupakannya.

__ADS_1


"Dua minggu lagi aku akan menikah, kumohon lupakan aku, Him!" pinta Kirana dengan berderai air mata.


"Apa."


"Aku tak bisa berbuat apa-apa tentang hubungan kita. Kalau orang tuaku tahu, mereka akan sangat marah padaku dan pastinya menentang hubungan kita." tegas Kirana mengatakan pada Ibrahim.


Mendengar kata-kata Kirana akan menikah dalam kurun waktu dua minggu, membuat seluruh tubuh Ibrahim lemas tak bertenaga.


Ibrahim lalu meremas rambutnya dan mulai menahan emosinya yang membuncah.


Kedatangannya ke Jakarta, ternyata sudah terlambat dan sia-sia. Pujaan hatinya sebentar lagi akan menikah dengan orang lain.


Impian dan cita-citanya menikah dengan wanita pujaan hatinya, seketika sirna begitu saja.


Kirana nampak menangis dan tak mampu berbuat apa-apa, saat tanggal pernikahan telah ditentukan.


Kini keduanya hanya diam membisu dengan pikiran mereka masing-masing.


Ibrahim pergi begitu saja, tanpa berpamitan pada Kirana.


Kirana yang melihat kepergian Ibrahim semakin menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


__ADS_2