
"Bapak peduli, tapi kita sebagai orang tua mau berbuat apa Bu kalau Ilham sendiri yang mau memilih jalannya untuk sendiri dulu." tutur Pak Darman.
"Iissh Bapak."
"Bapak sama anak mirip kelakuannya. Sama-sama cuek!" geram Bu Susi menyindir suami dan anaknya.
Sedangkan Pak Darman hanya tersenyum saja menanggapi perkataan istrinya.
Di kamar, Ilham selesai mandi dan ingin segera tidur untuk badannya yang lelah karena telah bekerja pagi sampai malam.
Namun, di saat merebahkan tubuhnya di tempat tidur Ilham tetap tidak bisa tidur. Entah apa yang dipikirkannya, apakah karena memikirkan pertemuan tak terduganya beberapa bulan yang lalu.
Akhirnya Ilham memilih keluar kamar lalu menuju dapur untuk membuat kopi.
Selesai membuat kopi, Ilham menuju ruang tamu dan menonton televisi sendirian. Bapak dan Ibunya sudah tidur, hanya Ilham meratapi kesendiriannya.
Biasanya dulu, selalu ada Kirana yang menemani. Kini, Ilham menyesali perbuatannya yang begitu egois dan buta akan cinta.
__ADS_1
"Kirana, bagaimana kabarmu sekarang? Apakah kamu baik-baik saja? Aku sangat rindu padamu? Maafkan perbuatan Mas yang begitu egois Kirana." lirih Ilham mengatakan isi hatinya yang paling dalam.
Satu jam kemudian, Ilham melihat jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Lalu, Ilham menghabiskan kopinya yang tersisa sedikit. Waktunya Ilham untuk istirahat, sebab besok harus berangkat pagi untuk bekerja memenuhi kebutuhan hidupnya dan juga keluarga.
Ilham berjalan menuju dapur meletakkan gelas kosong di meja dapur. Lalu, kembali ke kamar untuk menuju tempat tidurnya yang nyaman. Tak lama Ilham sudah terlelap dalam tidurnya dan menuju ke alam mimpi indahnya berharap mendapatkan bidadari yang mau berkenalan dengannya kelak.
***
Keesokan paginya, Kirana seperti hari biasanya masih membantu melayani pembeli di toko kue Ibunya. Padahal calon pengantin tidak boleh kelelahan sedikit pun.
Sedangkan cabang toko kue Bu Lastri masih buka seperti hari biasanya. Sebab, disana sudah ada pegawai yang sudah dipercayakan menghandle toko kue tersebut.
"Tidak apa-apa Bu, Kirana gak merasakan lelah sedikit pun. Daripada Kirana hanya duduk diam dan melihat kalian berjalan kesana kemari, malah bikin Kirana bosan dan pusing." ujar Kirana seraya tersenyum menatap wajah keriput Ibunya.
"Ya sudah, tapi ingat jangan terlalu lelah ya? Ini hari terakhir Ibu berjualan, karena besok sudah banyak kegiatan untuk menyiapkan segala hal pernikahanmu." ucap Bu Lastri mengingatkan Kirana.
" Iya Bu, siap dilaksanakan." ucap Kirana sambil memeluk Ibunya.
__ADS_1
Wajah Kirana tampak bahagia dan tersenyum dengan pembeli. Sebab, tinggal menghitung hari saja dirinya akan menikah dengan lelaki yang baik dan sangat menyayangi serta menerima apa adanya Kirana.
Siang hari tak terasa begitu cepat, Kirana segera istirahat untuk makan siang dengan Ibunya. Pegawai yang lain pun juga istirahat secara bergantian.
"Kak, aku gak sabar melihat Kak Kirana tampil cantik dengan gaun yang begitu cantik di hari pernikahan nanti." tukas Laras yang begitu bersemangat saat kakaknya menikah dan mendapatkan lelaki yang baik.
"Kakak yang menikah, kenapa kamu yang begitu semangat dek?" tanya Kirana pada adiknya yang ada disampingnya.
"Kamu pengen nikah juga?" tanya Kirana lagi.
"Enggaklah Kak, Laras belum siap. Laras masih ingin bekerja dulu mengumpulkan uang, setelah itu baru memikirkan menikah." kata Laras dengan mantap.
"Iya…iya…. Kuliah yang benar dan cari pekerjaan yang benar juga, setelah itu baru nikah." ucap Kirana seraya mengusap rambut adiknya dan menatapnya dengan sendu.
Tak lama, Pak Tono datang bergabung di meja makan bersama anak dan istrinya tanpa Andika yang sedang bekerja. Lalu, mereka makan bersama dan menikmatinya dengan santai.
Maaf ya author baru bisa update, beberapa hari yang lalu sempet drop. Jadi baru bisa up sekarang. Selamat Membaca ya 🤗
__ADS_1
Hai teman-teman semua, disini aku mau promoin karya temanku yang tak kalah bagusnya. Karya teman saya Tie tik, mohon dukungannya ya dan mampir 😘