
Fahiz pun menyeselesaikan pekerjaan dengan penuh semangat.
Siang hari sudah tiba, Fahiz bersiap-siap untuk pulang kerumah demi mewujudkan keinginan Mamanya.
Keluar ruangan, Fahiz menyapa asistennya. "Deni, saya pulang dulu dan ingat pesanku ya!" kata Fahiz mengingatkan.
"Baik Pak. Pesan Pak Fahiz sudah saya sampaikan kepada karyawan dan staff lainnya." ujar Deni.
"Bagus."
Kemudian Fahiz berlalu dari hadapan Deni dan menuju parkiran dimana mobilnya berada dan masuk kemudian melajukan kendaraannya membelah jalanan.
Satu jam kemudian, Fahiz sampai di rumah. Turun dari mobil masuk ke rumah dan menyapa Mamanya yang kebetulan berada dirumah bersama adiknya Dwi.
"Assallamualaikum," sapa Fahiz kepada keluarganya.
"Waallaikumsalam," jawab Mama dan Dwi kompak.
"Nah, begitu dong calon pengantin harus duduk dirumah dan santai. Sebab besok sudah jadi pengantin.
"Iya Ma, Fahiz sudah sudah disini dan duduk bareng Mama. Dwi, gimana kabar kuliahmu?" tanya Fahiz pada adiknya.
"Aman dan lancar Mas. Tinggal menyelesaikan skripsi saja dan wisuda." tukas Dwi dengan senyuman.
"Bagus dan lanjutkan."
__ADS_1
"Papa masih di kantor Ma?" tanya Fahiz saat melihat Papanya gak ada dirumah.
"Iya Papamu gila kerja, padahal Mama sudah menyuruhnya pulang. Padahal besok hari pernikahanmu, tapi apa jawabannya selalu bilang sebentar lagi Ma, ada rapat yang tidak bisa ditunda." kata Mama Heni yang menirukan gaya bicara suaminya saat ditelepon.
Fahiz hanya tersenyum menanggapi perkataan Mamanya itu.
"Makan siang dulu yuk, Mama sudah masak banyak nih," ajak Mama Heni kepada anak-anaknya.
"Ayok Ma,"
Mereka bertiga kemudian berjalan menuju meja makan dan bersama-sama makan siang bersama walau tanpa papanya.
"Fahiz, jarang banget kita bisa kumpul makan siang bareng begini. Kadang, Mama merasa kesepian disaat kalian sibuk bekerja dan Dwi yang sibuk kuliah." ujar Mama Heni mengungkapkan isi hatinya kepada anak-anaknya.
Fahiz dan Dwi yang mendengar hal tersebut langsung memeluk Mamanya dengan erat serta mencium pipinya.
"Aduh Fahiz, tidak perlu seperti itu. Nanti malah Kirana yang tidak enak hati. Soal itu nanti bicarakan saja sama Kirana bagaimana kedepannya nanti." ucap Mama Heni agar Fahiz jangan terburu-buru mengambil keputusan.
Selesai mengobrol, mereka makan siang dengan tenang dan hanya suara sendok yang berdenting.
Setelah makan siang, Mama Heni memilih kembali ke ruang keluarga untuk menonton televisi acara siang kesukaannya melihat drama korea yang saat ini disukainya.
Dwi dan Fahiz memilih ke kamar mereka masing-masing untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah setelah beraktifitas dari pagi.
Namun, Fahiz tidak langsung tidur. Fahiz menghubungi Kirana karena besok hari pernikahan mereka, membuat Fahiz merasa gugup dan berdebar tak karuan. Sebab, ini pertama kalinya menikah dengan seorang wanita yang sangat dicintainya.
__ADS_1
Fahiz kemudian mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Lalu, mencari kontak Kirana yang dinamainya My Wife.
Kemudian Fahiz mendial nomer Kirana dan nada tersambung.
Begitu tersambung, Kirana yang sedang tidur nampak terbangun akan suara ponselnya yang berdering dari tadi. Lalu, Kirana mengangkat ponselnya dan menerima panggilan calon suaminya itu.
"Assallamualaikum sayang," sapa Fahiz lewat telepon.
"Waallaikumsalam Mas Fahiz," sahut Kirana.
"Sedang apa dan melakukan kegiatan apa hari ini?" tanya Fahiz.
"Sedang tidur Mas! Mas Fahiz sendiri lagi apa?" tanya Kirana dengan suara khas orang bangun tidur.
"Mas Fahiz sedang dirumah barusan makan siang bersama Mama dan Dwi. Wah…wah… tidur! Aduh suara calon istriku sangat menggoda Mas bila mendengarnya seperti ini. Bikin Mas Fahiz gak sabar pengen cepat-cepat nikah.
Kirana yang masih mengantuk langsung membuka matanya lebar saat mendengar perkataan calon suaminya itu.
"Mas Fahiz jangan mulai menggoda deh!" sahut Kirana yang wajahnya mulai merah merona.
Jangan lupa like, komen dan hadiah ya.
Selamat Membaca 🤗
Dan disini author mau rekomendasika karya teman saya karya Unoop judul Triple K. Mohon dukungannya dan mampir ya.
__ADS_1