
"Pak," ucap Kirana kemudian bersimpuh lagi di kedua kaki Bapaknya.
Pak Tono yang melihat putrinya, seketika membelai kepala Kirana yang sedang menangis.
Melihat Kirana menangis, membuat hati Pak Tono luluh dan teringat akan perkataan dari istrinya.
Pak Tono kemudian mengangkat bahu Kirana, agar duduk di sampingnya.
"Maafkan Kirana, Pak! Kirana janji akan menuruti semua keinginan Bapak," ucap Kirana sambil menangis sesenggukan.
"Tidak, Kirana, ini bukan kesalahanmu. Akan tetapi, Bapak yang salah!" ujar Pak Tono.
"Tanpa memikirkan perasaanmu, Bapak telah menjodohkanmu dengan lelaki anak sahabat Bapak," kata Pak Tono menyesali saat mengingat perjodohan itu.
"Maafkan Bapak juga, ya, Nak!" Pak Tono menimpali seraya memeluk Kirana yang masih menangis di pelukan Bapaknya.
Seketika, hati Kirana langsung merasa lega dan memeluk Bapaknya erat-erat.
Pak Tono kemudian melepaskan pelukan dan melihat wajah Kirana lalu menghapus sisa air mata di wajah cantiknya.
Kemudian, mereka berdua mengobrol, bercanda tawa layaknya teman.
Bu Lastri yang sejak tadi mengintip, ikut terharu dan menangis melihat Bapak dan anak sudah berbaikan.
Ternyata usahanya menasehati suami dan putrinya berhasil dan mereka berdua nampak tertawa bahagia.
__ADS_1
"Eheeem!" Bu Lastri berdehem saat Bapak dan anak tertawa bersamaan.
Pak Tono dan Kirana yang sedang asik bercanda, seketika berhenti tertawa dan menoleh ke belakang bersamaan. Ternyata Ibunya sudah berdiri di belakang mereka.
"Ibu, gak diajak nih bercandanya!" rajuk Bu Lastri sambil memasang wajah cemberut.
"Ayo, Bu, ikut bergabung," Kirana segera berdiri dan menarik Ibunya untuk ikut duduk disamping Kirana.
"Kelihatannya asik, nih, sejak tadi Ibu lihat kalian berdua tertawa senang," ujar Bu Lastri.
"Anak kita, ternyata udah semakin dewasa ya, Bu," kata Pak Tono tersenyum senang.
"Iya, Pak, dan pastinya cantik seperti Ibu," sahut Bu Lastri dengan tersenyum malu.
"Jadi, Bapak dan anak sudah baikan 'nih, ceritanya," tanya Bu Lastri memandang suami dan putrinya bergantian.
Kebahagiaan nampak terpancar di wajah keluarga kecil Pak Tono.
Di tempat yang berbeda, Ibrahim merasakan kesedihan yang begitu menyayat hatinya.
Setelah tahu pujaan hati akan menikah dua minggu lagi dengan orang lain, Ibrahim segera memesan tiket untuk kembali ke Riau setelah berpisah dengan Kirana saat di taman, dan berusaha melupakan Kirana selamanya.
***
Dua minggu telah berlalu.
__ADS_1
Hari pernikahan pun diadakan dengan sangat meriah dan mewah. Elekton, catering dan berbagai desain dekorasi ditata dengan warna putih yang begitu cantik.
Menjelang hari pernikahan. Acara pagi hari ini, diadakan akad nikah Ilham with Kirana.
Kirana dan Ilham saat ini, sedang dirias di tempat yang berbeda. Dikamar, Kirana saat ini sedang ditemani Laras.
"Kakak, cantik banget seperti bidadari dari kayangan," canda Laras saat melihat kakaknya sedang dirias.
Kirana hanya tersenyum menanggapi candaan dari adik bungsunya.
"Lalu dengan Mas Ilham, kira-kira makin ganteng gak, 'Kak?" tanya Laras seraya tangannya memegang dagunya seperti membayangkan pangeran impiannya.
"Kakak tidak tahu 'dek! Kalau kamu mau lihat, sana temui saja Mas Ilham dan bayangin wajah pangeran impianmu seperti di poster artis korea dikamar yang kamu pajang.
Laras hanya tertawa menunjukkan deretan giginya. "Mas Ilham pasti ganteng 'kak, dilihat dari bentuk wajahnya saja sudah ganteng dan sempurna. Cocoklah dengan kakakku yang cantik ini," goda Laras pada kakaknya.
"Kamu ini ya, 'dek, dari tadi menggoda kakak saja." cetus Kirana nampak semburat merah merona di kedua pipinya.
"Tuh, 'kan, kakak wajahnya langsung memerah," goda Laras lagi seraya tertawa senang.
"Sudah ya, ' dek bercandanya! Kakak gak akan selesai ini diriasnya!" ucap Kirana.
"Baiklah, 'kak! Laras tunggu di luar saja ya." ujar Laras segera keluar dari kamar.
Setelah beberapa menit, Kirana kini tampil beda dan nampak anggun dengan balutan kebaya putih dan sedikit polesan saja sudah membuatnya semakin cantik.
__ADS_1
Kirana segera keluar kamar saat sang perias pengantin memintanya keluar, dan acara akan segera dimulai.