
Perpisahan tidak semua orang menginginkannya. Namun, perpisahan itu ada karena ulah manusia itu sendiri.
***
Kirana tak kuasa menangis di pelukan Ibunya. Betapa hancur dan merana nasibnya. Kini, Kirana telah berpisah dengan Ilham yang saat ini telah menjadi mantan suaminya.
"Ibu…"
"Maafkan Kirana, Bu. Kirana telah gagal mempertahankan pernikahan yang telah berjalan enam tahun. Jujur, Kirana telah berusaha sabar dan menahan semua rasa sakit hati ini sudah lama." ucap Kirana di pelukan Ibunya.
"Ibu paham Kirana akan perasaanmu saat ini. Tapi, tegarlah dan kuat menghadapi kenyataan. Semoga, kejadian ini membuatmu lebih dewasa dan memilih lelaki yang jujur dan baik juga menyayangimu setulus hati." tutur Bu Lastri menasehati Kirana.
Pak Tono terdiam membisu dan ikut memeluk istri dan juga Kirana. Sebagai seorang Bapak, Pak Tono tidak rela melihat putrinya disakiti apalagi sampai menangis. Pak Tono, berjanji dalam hatinya. Setelah bercerai, Pak Tono membiarkan Kirana memilih jodohnya sendiri.
Kejadian perjodohan beberapa tahun lalu, biarlah menjadi kenangan. Sungguh, kejadian ini membuat Pak Tono dan Bu Lastri merasa bersalah.
Kirana melepas pelukannya dan melihat mantan mertua juga suaminya berdiri tak jauh dari Kirana. Namun, Kirana hanya diam terpaku menatap keluarga itu dengan perasaan yang tak menentu.
"Ayo, lebih baik kita pulang. Andika dan Laras sebentar lagi pulang," ajak Pak Tono yang merasa sedih dan bersalah.
"Ayo."
Ketiganya berjalan beriringan keluar gedung pengadilan agama. Lalu, pulang kerumah dan melanjutkan aktifitas mereka yang tertunda.
Saat Ilham selesai mengobrol dengan kedua orang tuanya. Ilham berbalik dan melihat sekeliling. Tak ada Kirana dan juga keluarganya di gedung ini.
Ilham kemudian mencari keluar dan menuju parkiran.
"Ilham, mau kemana kamu!" teriak Bu Susi memanggil Ilham.
Ilham tidak mendengar panggilan dari Ibunya yang sudah berkali-kali memanggil.
"Sudahlah, Bu. Biarkan Ilham, kita tunggu saja disini," ujar Pak Darman yang menenangkan istrinya dan mengajak istrinya duduk.
Kirana, kamu dimana? Aku masih ingin berbicara denganmu. Aku menyesali semuanya. Maafkan aku, Kirana," batin Ilham.
Setelah tak menemukan keberadaan Kirana dimana-mana. Ilham berjalan kembali ke gedung, dimana orang tuanya menunggu.
"Bagaimana Ham? Sudah ketemu dengan Kirana?" tanya Pak Darman yang melihat wajah Ilham begitu kusut.
__ADS_1
"Tidak Pak. Ilham tidak menemukan Kirana juga keluarganya. Ini semua salah Ilham Pak. Andai, Ilham tidak egois dan mementingkan diri sendiri mungkin tidak ada perceraian." ucap Ilham dengan mengusap wajahnya secara kasar.
"Lebih baik kita pulang dulu, tenangkan pikiran dan hatimu." ajak Pak Darman seraya menepuk bahu Ilham pelan.
"Iya Pak."
Kemudian mereka segera berdiri dan berjalan menuju parkiran. Ilham melajukan kendaraan membelah jalanan.
Menempuh perjalanan yang jauh, Kirana beserta keluarga akhirnya sampai dirumah.
"Kirana masuk ke kamar dulu ya Pak, Bu," ucap Kirana saat sudah berada di teras rumah.
"Iya, Kirana." ucap Bu Lastri mengusap kepala Kirana.
Kirana berjalan ke kamar yang sangat dirindukannya walau hanya beberapa jam kamar tersebut di tinggalkan.
Memasuki kamarnya, Kirana merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan meletakkan tas di nakas.
Kirana menerawang sambil menatap langit-langit kamar, memikirkan masa depannya. "Untuk sementara, aku membantu Ibu dulu berjualan kue. Lumayan, mencari kesibukan daripada harus mencari pekerjaan di luar." monolog Kirana.
"Baiklah, sekarang waktunya tidur. Tetapi, lebih baik mencuci wajah, kaki dan tangan dulu sebelum tidur." gumam Kirana berjalan menuju kamar mandi.
Tak lama, Kirana pun terlelap dalam tidurnya dan masuk ke alam mimpi yang indah, berharap bertemu pangeran pujaan hatinya.
***
Di tempat berbeda, Ilham dan kedua orang tuanya juga sudah tiba di rumah. Ilham, setelah sampai di rumah pun segera berpamitan kepada orang tuanya untuk istirahat di kamar saja.
"Pak, lihat Ilham. Sejak tadi diam saja tak banyak bicara selama perjalanan, setelah sah bercerai dari Kirana." lirih Bu Susi bertanya kepada suaminya saat melihat Ilham pergi menuju kamar.
"Iya Bu. Bapak juga bisa merasakan perasaan Ilham, akan tetapi perasaan Kirana juga hancur akibat ulah Ilham sendiri, Bu." tutur Pak Darman.
"Tapi, Pak…" ucapan Bu Susi terpotong saat ingin membantu menenangkan putranya.
"Sudah, Bu. Biarkan, Ilham berpikir dan merenungi kesalahannya. Untuk sementara, jangan ganggu Ilham sampai Ilham tenang." jelas Pak Darman memberi pengertian kepada istrinya, untuk sementara waktu Ilham jangan di ganggu dulu.
Di kamar, Ilham setelah membersihkan diri memilih memandang foto di album pernikahan. Kenangan demi kenangan teringat jelas di ingatannya, betapa Ilham memuja Kirana dan begitu menyayanginya.
"Dek, maafkan Mas. Mas menyesal telah melukai hati dan perasaanmu. Apa yang harus Mas lakukan? Mas telah di pecat dari pekerjaan, Dek!" gumam Ilham seraya memandangi wajah Kirana yang berada di foto.
__ADS_1
Seketika, airmata Ilham meluncur di kedua sudut matanya yang telah memerah. Memeluk foto album dengan perasaan hancur dan kacau.
Tak berselang lama, Ilham pun terlelap tidur dengan memeluk foto album yang di pegangnya.
Kedua pasangan yang telah berpisah beberapa jam yang lalu itu, kini telah memilih jalan hidupnya masing-masing.
***
Babak awal kehidupan mereka akan segera berubah saat berada ditangan author🙈😂
Keesokan harinya.
Kirana, bangun lebih pagi dan segera membantu Ibunya di dapur.
"Selamat pagi, Bu," sapa Kirana saat berada di dapur dengan wajah penuh senyuman.
"Selamat pagi, Kirana," sahut Bu Lastri dengan memandang wajah Kirana.
"Kenapa Ibu, memandangi wajah Kirana terus?" heran Kirana saat ditatap Ibunya terus menerus.
"Ibu hanya senang, akhirnya putri Ibu telah bangkit ceria seperti dulu." ujar Bu Lastri mengusap kepala Kirana lembut.
"Iya Bu. Mulai saat ini, Kirana tak mau terlalu lama bersedih. Kirana ingin membantu Ibu berjualan kue." ujar Kirana dengan memeluk Ibu tercinta.
"Apa kamu tak ingin kuliah, Nak?" tanya Bu Lastri.
"Tidak Bu. Usia Kirana sudah terlalu tua untuk kuliah. Biar Andika dan Laras yang meneruskan impian Kirana." kata Kirana dengan senyuman menghiasi wajahnya.
"Ibu sangat bangga padamu, Kirana. Ternyata, putri Ibu yang cantik ini sudah lebih bijak dalam bertutur kata," ujar Bu Lastri yang membelai wajah Kirana.
"Ini semua berkat didikan Ibu." ucap Kirana mencium Bu Lastri di wajahnya.
Kemudian, Bu Lastri dan Kirana melanjutkan kegiatan mereka membuat kue di dapur, sebab pesanan kue selalu membuat Bu Lastri kewalahan.
"Usaha Ibu semakin lancar dan Kirana akan membantu Ibu berjualan kue di rumah saja." ucap Kirana dengan penuh keyakinan.
"Kamu yakin?" tanya Bu Lastri memastikan keputusan Kirana.
"Iya Bu, Kirana yakin seratus persen," tegas Kirana menjelaskan Ibunya.
__ADS_1