Suamiku Bukan Jodohku

Suamiku Bukan Jodohku
bab 07


__ADS_3

Di tempat lain yang jauh diseberang, Ilham yang berada di Lampung sedang mengurus beberapa hal, termasuk surat izin cuti lagi untuk menikah yang akan diadakan tiga bulan lagi.


Ilham yang tiga tahun bekerja sebagai asisten manager di perusahaan sawit menjadi orang kepercayaan atasannya. Kini Ilham berjalan menuju ruangan atasannya dan melewati beberapa staf sambil menyapa beberapa karyawan yang berlalu lalang.


Tok…tok…tok


"Silahkan masuk," sahut orang yang berada di dalam.


Pak Beni yang melihat Ilham langsung mempersilahkan untuk duduk di sofa yang telah tersedia.


Ilham langsung masuk dan menuju sofa, saat managernya sedang mengurus beberapa dokumen untuk ditandatangani.


"Begini, Pak! saya mau mengajukan surat ijin cuti menikah," ucap Ilham yang merasa was-was takut tidak mendapatkan ijin cuti, karena tiga bulan yang lalu Ilham sudah cuti selama seminggu.


"Kamu mau menikah, Ham?" tanya Pak Beni pada asistennya itu.


"Iya, Pak, saya mau menikah." Dan semua ini atas permintaan orang tua dan sudah direncanakan sebelumnya." jawab Ilham apa adanya.


"Wah…selamat ya, Ham," Pak Beni langsung menjabat tangan Ilham, mendengar bahwa asistennya tersebut akan menikah.

__ADS_1


"Terimakasih, Pak Beni,"


Setelah mendapatkan ijin cuti menikah, Ilham bergegas keluar ruangan dan melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.


Ilham mendapatkan cuti menikah dua bulan lagi, dan dirinya hanya dapat cuti sebulan dan akan mempersiapkan segala hal di kampungnya. Dan Ilham segera menghubungi kedua orang tuanya dan juga Kirana bahwa dua bulan lagi akan kembali ke kampung halamannya.


"Assallamualaikum, Dek Kirana," ucap Ilham seraya menelpon Kirana sambil tersenyum.


"Waallaikumsalam, Mas Ilham," jawab Kirana tersenyum menyapa salam dari calon suaminya itu.


"Apakabar, Dek Kirana?" tanya Ilham disela-sela pekerjaannya.


"Alhamdulillah Kirana baik, Mas. Kalau Mas, bagaimana kabarnya?" tanya balik Kirana pada calon suaminya.


Seketika Kirana yang digoda oleh Ilham langsung tersenyum tersipu malu dan nampak semburat merah merona di kedua pipinya.


"Mas Ilham ini, kerjaannya ngegombal saja," celetuk Kirana.


"Ada apa Mas? Kok pagi-pagi sudah menelpon. Di kantor lagi gak ada kerjaan ya?" tanya Kirana.

__ADS_1


"Iya, Mas sebentar lagi mau berangkat bekerja, Dek Kirana." Mas menelpon cuma mau mengabari kalau dua bulan lagi balik ke kampung untuk pernikahan kita.


Kirana yang mendengar calon suaminya begitu semangat melanjutkan perjodohan ini, menjadi tidak tega menyampaikan perihal masalahnya.


"Ya sudah, Mas buruan berangkat kerja, nanti telat loh," tutur Kirana menasehati calon suaminya itu.


"Sebentar lagi ya, masih pengen ngobrol-ngobrol dahulu," ujar Ilham yang masih nampak kaku dan sedikit grogi saat berbicara dengan calon istrinya.


***


Setelah beberapa menit berlalu, Ilham berangkat kerja dengan senyuman menghiasi wajahnya karena mendapat perhatian dari calon istrinya.


Sedangkan Kirana hanya bisa pasrah dan tak tahu harus berbuat apa. Karena takut Ibrahim suatu saat datang secara tiba-tiba ke rumahnya untuk melamarnya juga.


Aku takut kalau sewaktu-waktu Ibrahim tiba-tiba datang kerumah dan Bapak pasti akan shock bila tahu semua masalahku. Dan semua jadi kacau karena diriku." gumam Kirana saat memikirkan rencana Ibrahim.


Saat Kirana sedang asyik melamun dan memikirkan Ibrahim di dalam kamarnya. Ibunya datang mengetuk pintu untuk meminta Kirana makan siang bersama keluarga.


Tok … tok … tok

__ADS_1


"Kirana, waktunya makan siang, Nak!" pinta Ibunya seraya memanggil Kirana untuk segera bergabung dengan yang lainnya.


" Iya, Bu sebentar," teriak Kirana saat tersadar ada yang memanggilnya dan segera menyahuti panggilan ibunya dan bergegas keluar kamar.


__ADS_2