
Ilham keluar dari kamar mandi setelah menyelesaikan ritual mandinya. Kemudian, segera masuk ke kamar dan berdandan, karena malam ini dirinya sudah janjian dengan Ani saat di kantor tadi siang.
Sedangkan, Kirana pergi ke dapur membuatkan minuman teh hangat untuk suaminya.
Di dalam kamar, Ilham nampak ceria dan wajahnya begitu berseri-seri. Bahkan, Ilham bersiul menandakan hatinya begitu senang.
Kirana meletakkan minuman di meja. Tak lama, Ilham keluar dengan wangi parfum yang begitu menggoda para wanita.
"Diminum dulu, Mas teh nya," ucap Kirana saat melihat suaminya begitu rapi dengan pakaian kemeja panjang dan celana hitam.
Saat Ilham merapikan kemejanya menggulung hingga ke sikunya, Ilham melihat Kirana membuatkan teh.
Kemudian, Ilham segera menyesap minuman teh tersebut hingga habis. "Mas, mau kemana? Kok, rapi dan wangi sekali?" tanya Kirana berpura-pura tidak tahu kemana suaminya pergi.
"Mas, mau pergi bersama para Asisten yang lain kerumah Pak Manager, karena ada rapat dadakan," ucap Ilham berbohong.
"Mas, tidak makan dulu sebelum berangkat!" kata Kirana.
"Tidak, Dek! Nanti disana ada makanan," kata Ilham berbohong lagi.
"Ya, sudah. Mas, berangkat dulu! Takut kemalaman," ucap Ilham.
"Baiklah, hati-hati di jalan, Mas!" ucap Kirana mencium tangan suaminya.
__ADS_1
Ilham, kemudian segera menyalakan motornya dan melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang, karena jalanan yang tidak merata.
Setelah kepergian Ilham, Kirana langsung menangis dan terduduk lemas di kursi. Bagaimana tidak, suaminya berbohong pada dirinya.
Demi wanita itu, Ilham rela meninggalkan istrinya yang sedang menunggunya untuk sekedar berbagi cerita atau menemaninya makan bersama.
Rumah yang seharusnya ramai akan kehadiran anak-anak, seketika hening karena sampai saat ini Kirana belum juga di karuniai anak.
Hati Kirana hancur berkeping-keping, melihat suaminya pergi begitu saja kerumah wanita itu. Haruskah Kirana pergi tanpa memberitahu suaminya.
Jujur, Kirana sudah tak tahan melihat semua kejadian ini. Andai, terus dilanjutkan yang ada Kirana akan semakin hancur dan kebohongan akan terus terjadi setiap hari.
Betapa bodoh dirinya saat ini, suami yang Kirana pikir mampu membuat bahagia, ternyata hanya lelaki yang hanya membuatnya menderita.
"Pak, Bu, Kirana kangen! Kirana ingin pulang. Kirana sudah tidak tahan berada disisi Mas Ilham." gumam Kirana dengan air mata mengalir deras.
"Mas Ilham sudah mulai berbohong di awal, dan selanjutnya pun akan terus berbohong!" gumam Kirana lagi.
"Aku harus bagaimana, Pak, Bu?" gumam Kirana sambil menangis sampai akhirnya Kirana tidur terlelap dengan memeluk foto.
***
Di tempat lain, Ilham sudah sampai di rumah Ani. Kekasih yang baru di pacarinya dua bulan yang lalu.
__ADS_1
"Assalamualaikum," sapa Ilham saat berada di depan pintu.
"Waallaikumsalam," sahut orang di dalam.
Begitu pintu terbuka, Ani tampak bahagia melihat kekasihnya datang dan menepati janjinya sesuai pesan tadi siang.
"Ayo, Mas, masuk dulu! Aku sudah masakin yang enak spesial buat kamu," pinta Ani menggandeng tangan Ilham untuk duduk di ruang tamu.
Ani adalah gadis yang juga merantau di perkebunan sawit bersama kedua orang tuanya.
Ani belum tahu bahwa Ilham sudah menikah, karena saat Ani datang merantau di Lampung dan di terima sebagai kasir di kantor pusat untuk menggantikan kasir yang menikah, Ani langsung di terima.
Tiga tahun Ani di perkebunan sawit bersama orang tuanya, berharap masa depannya lebih baik nanti setelah bekerja disini.
Kedua orang tua Ani menyambut kedatangan Ilham, Ilham pun mencium tangan orang tua Ani bergantian.
"Selamat malam, Pak, Bu!" sapa Ilham kepada orang tua Ani.
"Selamat malam juga, Nak Ilham," sahut Pak Doni dan Bu Rini.
Pak Doni dan Ilham berbincang mengobrol membahas pekerjaan. Sedangkan, Bu Rini dan Ani segera pergi ke dapur membuatkan minuman. Setelah selesai, Ani segera membawa minuman ke ruang tamu untuk Ayah dan kekasihnya.
"Ini, Mas, silahkan di minum," ucap Ani saat meletakkan minuman tersebut.
__ADS_1
"Baik, Dek," sahut Ilham tersenyum.