Suamiku Bukan Jodohku

Suamiku Bukan Jodohku
bab 29


__ADS_3

Mereka berdua berjalan beriringan menuju meja makan. Namun, ternyata suasana nampak sepi dan sunyi.


Bu Lastri lantas menuju kamar putra dan putrinya, untuk mengajak makan siang bersama.


Sedangkan Pak Tono sudah di kursi sambil menunggu anak-anak dan istrinya.


Sesampainya di depan kamar Andika dan Laras yang kebetulan bersebelahan, Bu Lastri segera mengetuk pintu kamar.


Tok … tok … tok


Bu Lastri membuka pintu dan nampak melihat Laras ternyata sedang berada di kamar Andika.


Andika dan Laras yang melihat kedatangan Ibunya, seketika langsung mengambil ponsel dan main game.


"Laras, kamu sedang berada di kamar Andika ternyata," ucap Bu Lastri melihat Laras sambil main game di ponselnya.


"Iya, Bu, sejak tadi Laras berada di kamar Mas Andika." sahut Laras menjawab saat sedang fokus main game.


"Ya sudah, yuk, kita makan siang bareng-bareng. Bapak sedang menunggu di meja makan." ajak Bu Lastri kepada anak-anaknya.


"Andika, ayok makan dulu sayang. Main game nya di lanjut nanti." pinta Bu Lastri meminta Andika berhenti main game.


Begitu juga Laras diminta berhenti main game oleh Ibunya.


"Baik Bu," ucap Andika dan Laras bersamaan kemudian beranjak berdiri lalu keluar kamar bersama Ibunya.

__ADS_1


"Ibu ke kamar kakakmu dulu ya? Kalian ke meja makan dulu menemani Bapak, nanti Ibu menyusul bersama kakakmu," ucap Bu Lastri meminta Andika dan Laras ke meja makan.


"Kirana, Ibu masuk ya, Nak!" ucap Bu Lastri memanggil putrinya.


Tak mendapat sahutan dari dalam, Bu Lastri lantas membuka pintu kamar dan berjalan pelan menuju ranjang kemudian mendapati Kirana ternyata tertidur.


"Kirana, bangun sayang. Waktunya makan siang," lirih Bu Lastri membangunkan putrinya sambil menepuk pelan lengan Kirana.


Nampak ada pergerakan dari Kirana setelah Bu Lastri membangunkannya.


"Loh, Bu, ada apa?" tanya Kirana seraya mengerjapkan matanya berkali-kali.


"Ayo, sudah waktunya makan siang, Nak. Bapak, Andika dan Laras sedang menunggu kita," pinta Bu Lastri agar Kirana segera bangun dan mencuci muka.


"Baik, Bu, Kirana ke kamar mandi dulu ya?" ucap Kirana seraya berdiri menuju kamar mandi.


Sesampainya di meja makan. Kirana segera duduk di kursi yang biasanya di sebelah Andika diikuti Bu Lastri yang juga duduk di hadapan Kirana.


Pak Tono melihat kedatangan Kirana segera memasang wajah datar, yakni saat makan tidak ada yang boleh mengeluarkan suara sedikitpun.


Setelah semua berkumpul di meja makan, Bu Lastri segera mengambilkan nasi untuk suaminya dan diikuti ketiga anak-anaknya.


Mereka makan dengan tenang dan damai, hanya suara sendok yang berdenting.


Setelah selesai makan, Pak Tono dan Bu Lastri saling pandang. Bu Lastri memberi kode kepada suaminya untuk berbicara baik-baik pada Kirana.

__ADS_1


"Kirana, selesaikan makananmu. Setelah ini, temui Bapak di ruang tamu." pinta Pak Tono pada Kirana seraya berdiri pergi meninggalkan meja makan.


Kirana nampak begitu sedih dan takut, bila Bapaknya masih marah dan menyalahkan dirinya karena menentang keinginan orang tua.


"Kak Kirana, tetap semangat dan jangan bersedih lagi ya!" ucap Andika dan Laras bersamaan seraya mencium pipi kanan dan kiri Kirana.


Tak ingin menunda lebih lama lagi, Andika dan Laras segera menyelesaikan makanannya, kemudian segera pergi ke kamar melanjutkan main game lagi di ponsel.


Di meja makan, kini tinggallah Kirana dan Ibunya. "Bu, bagaimana ini! Kirana takut Bu, Bapak bakal marah lagi setelah apa yang terjadi!" lirih Kirana dengan raut wajah sendu.


"Tenang sayang, Bapak tidak akan marah 'kok, Ibu sudah memberi pengertian kepada Bapakmu. Jadi temui Bapak sekarang," ujar Bu Lastri saat menggenggam jemari putrinya agar lebih tenang.


"Tapi, Bu!"


"Sudah sana, temui Bapak dan bicarakan dengan kepala dingin!" pinta Bu Lastri agar putrinya segera menemui Bapaknya.


"Baik, Bu,"


Kirana lantas berdiri dan berjalan menuju ruang tamu. Namun, sesekali Kirana menoleh ke belakang agar Ibunya mau menemaninya.


Akan tetapi, ternyata Ibunya tak bergeming sama sekali dan hanya memandang dirinya berjalan menuju ruang tamu sendirian.


Dengan perasaan campur aduk, Kirana memberanikan diri menemui Bapaknya di ruang tamu.


Setelah melihat punggung Bapaknya dari belakang yang sedang duduk di sofa, perasaan Kirana semakin menciut dan hanya berdiri diam mematung selama beberapa menit.

__ADS_1


Dengan mengucapkan bismillah, Kirana segera menghampiri Bapaknya dan berharap semoga mau memaafkan dirinya.


"Pak," ucap Kirana kemudian bersimpuh lagi di kedua kaki Bapaknya.


__ADS_2