Suamiku Bukan Jodohku

Suamiku Bukan Jodohku
bab 38


__ADS_3

Ilham dan Kirana bergandengan tangan saat sampai di ruang keluarga.


Bapak dan Ibunya, menonton televisi melihat acara komedi. Ilham dan Kirana ikut bergabung dan duduk di sofa.


"Kalian baru keluar?" tanya Pak Darman saat melihat Ilham dan Kirana duduk.


"Iya, Pak, kami bangun kesorean," kata Ilham menunjukkan rentetan giginya.


"Ya, sudah, ayo kita makan malam, Bapak dan Ibu sudah menunggu sejak tadi." ajak Bu Susi lalu berdiri dan menggandeng tangan Kirana untuk makan malam bersama.


Kirana merasa bersalah karena sejak tadi dikamar terus. Namun, Kirana berusaha tersenyum dan mencoba mencairkan suasana. Akan tetapi, Ibu mertuanya ternyata memahami dirinya karena masih pengantin baru. 


Kirana mengambil nasi, lauk pauk dan juga opor ayam di piring lalu menyerahkan kepada suaminya. Begitu juga Bu Susi, mengambilkan nasi dan juga lauk pauk untuk suaminya.


Mereka berempat makan dengan tenang dan tak ada yang bersuara selama makan.


Selesai makan, Kirana segera membawa piring yang kotor ke dapur bersama Ibu mertuanya.


Sedangkan, Pak Darman dan Ilham duduk di teras.


"Ham, besok jam berapa kalian pulang ke rumah mertuamu?" tanya Pak Darman.


"Agak siangan Pak, memang ada apa? jawab Ilham memandang Bapaknya.


"Tidak ada apa-apa! Bapak tak bisa mengantar kalian! Bapak dan Ibu hanya berpesan, jaga Kirana baik-baik selama merantau di sana. Bapak mendoakan keselamatan kalian berdua dari segala mara bahaya." tutur Pak Darman.


"Iya, Pak, Ilham akan menjaga Kirana sebaik-baiknya." ucap Ilham.


Saat mereka berdua mengobrol, Kirana datang membawa dua cangkir kopi dan gorengan untuk mertua dan suaminya.


"Silahkan, diminum Pak dan Mas," ucap Kirana.

__ADS_1


"Terimakasih, nak."


"Wah, pas banget ya? Ada kopi dan juga gorengan. Cocok banget dengan suasana dingin kayak gini." kata Pak Darman seraya mengambil kopi dan menyeruput kopinya yang masih mengepul panas.


"Pas banget, Pak! Sudah lama ya kita gak ngobrol dan duduk sambil minum kopi dan makan gorengan yang masih hangat." ujar Ilham mengambil gorengan dan menggigitnya.


Kirana segera kembali masuk ke dalam bersama Bu Susi yang sedang berada di dapur.


"Ibu bahagia banget dan gak salah pilih memilih kamu sebagai menantu Kirana. Udah cantik, pinter masak pula." ujar Bu Susi tersenyum di sela-sela membersihkan dapur yang berantakan.


"Ibu bisa saja, Kirana masih harus banyak belajar Bu. Terimakasih, Ibu sudah menerima Kirana." sahut Kirana yang membantu Ibu mertuanya membersihkan dapur.


Selesai membersihkan dapur, Ibu mengajak Kirana ke kamarnya. 


Saat memasuki kamar Ibu mertuanya, Kirana merasa canggung. Bu Susi segera membuka lemari dan mengambil kotak perhiasan mendiang Ibunya atau nenek Ilham.


"Kirana, ini sebagai hadiah dari mertua untuk menantunya. Kamu sudah kuanggap seperti anak sendiri. Kamu tahu 'kan Ilham hanya anak tunggal, Ibu bersyukur akhirnya Ilham menikah dengan wanita baik-baik dan cantik seperti dirimu." kata Bu Susi.


Kirana yang mendengar nasehat Ibu mertuanya, hanya tersenyum dan menganggukan kepala dan menerima pemberian dari Ibu mertuanya itu.


"Jaga diri kalian baik-baik nanti ya, selama di Lampung," kata Bu Susi sambil memegang tangan Kirana.


"Baik, Bu."


Kemudian, Bu Susi memakaikan kalung ke leher Kirana. "Cantik sekali! Ibu tidak salah memilih kamu, nak!" ujar Bu Susi memegang dagu Kirana dan tersenyum lalu memeluknya.


Kirana yang mendengar nasehat Ibu mertuanya, nampak terharu dan bahagia. Kirana sangat bersyukur memiliki mertua yang sangat menyayangi dan mudah bergaul.


Akhirnya, Kirana pamit kepada Ibu mertuanya karena sudah mengantuk. Sedangkan Bu Susi, keluar menemani suaminya menonton televisi lagi.


Saat Kirana masuk ke kamar, ternyata suaminya sudah berada di kamar dan sedang menelpon seseorang.

__ADS_1


Ilham yang melihat Kirana datang, segera menyudahi obrolan bersama teman kerjanya, lalu menutup telepon dan meletakkan ponselnya di atas nakas.


Lalu, Kirana segera merebahkan tubuhnya di samping suaminya.


Saat akan memeluk istrinya, Ilham melihat ada kalung di leher Kirana. "Itu, kalung dari siapa, dek? tanya Ilham dengan lembut.


"Oh, ini pemberian hadiah dari Ibu untuk menantunya Mas," jawab Kirana lalu menunjukkan kalung tersebut pada Ilham.


Ilham tidak menyangka, kalau Ibunya sangat perhatian dan sayang kepada Kirana. Ilham sangat bersyukur memiliki keluarga yang sangat harmonis dan bahagia.


"Mas, kapan kita berangkat ke Lampungnya?" tanya Kirana menatap wajah suaminya.


"Hari sabtu dek, kita berangkat. Jadi masih ada waktu untuk kita jalan-jalan disini," ucap Ilham juga menatap wajah Kirana dalam.


Jantung Kirana dan Ilham sama-sama berdetak tak karuan saat sedang berdua seperti ini. Sejak tadi Ilham masih menahan gejolak melihat Kirana yang selalu tampil cantik.


Kirana mengangguk dan beranjak berdiri. "Mau kemana?" tanya Ilham saat melihat istrinya berdiri. "Mau ke kamar mandi Mas!" sahut Kirana.


Kirana masuk kamar mandi dan menutup pintu. Kirana melihat di cermin, lalu menepuk pipi berkali-kali. Jujur saat ini, jantungnya sedang tidak baik-baik saja saat sedang berhadapan dengan suaminya.


Setelah bisa menguasai hati dan jantungnya, Kirana segera keluar dari kamar mandi dan membuka pintu pelan-pelan lalu mengintip apakah suaminya sudah tidur.


Kirana menutup pintu dan berjalan pelan menuju tempat tidur. Ternyata, suaminya sudah tidur. Membuat Kirana merasa lega dan bisa tidur nyenyak malam ini.


Tanpa disadari Kirana, Ilham hanya berpura-pura tidur karena menunggu istrinya yang lama di kamar mandi.


Saat Kirana merebahkan tubuhnya, Ilham membuka matanya sebelah dan tersenyum samar. Lalu, Kirana menarik selimut sampai ke lehernya. Akan tetapi, sebelum Kirana menariknya, Ilham sudah menahan dan mengambil selimut itu dan membuangnya ke lantai.


Kirana terkejut dan matanya membulat sempurna, karena suaminya ternyata belum tidur. Terjadilah, kegiatan panas dan malam yang panjang bagi kedua pasangan pengantin baru.


***

__ADS_1


__ADS_2