Suamiku Bukan Jodohku

Suamiku Bukan Jodohku
bab 50


__ADS_3

Kirana segera berjalan masuk ke kamarnya, dia masih terkejut dan kecewa akan dirinya sendiri.


Sedangkan, Ilham memilih pergi ke dapur membuatkan makanan untuk Kirana. Ilham berpikir, dengan membuat sesuatu yang spesial untuk Kirana akan membuat istrinya bisa tersenyum lagi.


Setelah bertarung di dapur selama satu jam, akhirnya jadilah kue tart kecil untuk Kirana dengan rasa strawbery yang menggugah selera. Berharap istrinya akan kembali ceria dan tersenyum.


Setelah sampai di depan pintu kamar, Ilham segera masuk tanpa mengetuk pintu karena hanya mereka berdua dirumah ini.


Ilham berjalan menghampiri istrinya yang sedang melamun dan duduk di sisi tempat tidur. "Dek, aku buatkan kue tart kecil kesukaanmu!" ucap Ilham saat menunjukkan kue di hadapan istrinya.


Kirana melihat kedatangan suaminya yang membawa kue hanya melirik sekilas. Tak ada senyuman dan wajah ceria yang diperlihatkan Kirana.


"Aku suapin ya?" pinta Ilham.


Ilham pun menyuapi Kirana secara perlahan-lahan dan memberi motivasi dan juga nasehat bahwa semua itu hanyalah titipan sang pencipta. Kalau sudah rejekinya, Allah pasti akan memberi kita anak.

__ADS_1


Kirana yang mendengar kata-kata dari Ilham sedikit mencerna bahwa apa yang dikatakan suaminya benar adanya.


***


Ditempat yang berbeda, setelah Ilham memberi kabar bahwa Kirana keguguran. Semua keluarga nampak kecewa namun juga sekaligus sedih atas apa yang menimpa Kirana.


"Pak, sebenarnya apa salah kita! Kenapa Kirana harus menderita disaat kita jauh seperti ini." ucap Bu Lastri yang menangisi keadaan Kirana.


"Sabar, Bu! Ini semua sudah takdir, tandanya belum rejekinya Kirana. Kita semua disini hanya bisa mendoakan, semoga Kirana dan Ilham segera diberi momongan lagi." tutur Pak Tono.


Awalnya, Bu Susi marah kepada Ilham dan juga Kirana. Akan tetapi, setelah mendengar penjelasan dari putranya, Bu Susi segera menyadari bahwa semua itu sudah takdir dan masih bisa punya anak lagi walau setelah keguguran.


***


Tak terasa tiga bulan telah berlalu semenjak Kirana keguguran, Kirana akhirnya bekerja di kantor divisi sebagai kerani. Hal ini dikarenakan pekerjaan kerani yang sedang banyak dan membutuhkan satu orang lagi untuk membantunya merekap laporan.

__ADS_1


Ini semua berkat Ilham yang tak tega melihat Kirana hanya duduk dirumah dan kadang melamun walau kesedihan masih dirasakan Kirana. Akhirnya, meminta ijin kepada atasannya agar mau membantu istrinya masuk ke krani divisi saja.


Hanya dalam waktu dua minggu saja, Kirana berhasil mempelajari sistem dan cara kerja laporan buah sawit yang diberikan para mandor kepada kerani.


"Bu Ira, ini laporannya sudah selesai saya kerjakan!" kata Kirana seraya menyerahkan beberapa lembar laporan dari para mandor.


"Ow, sudah selesai. Terimakasih, Kirana. Kamu sangat membantu sekali disini. Bila tidak ada kamu aku pasti sudah kewalahan mengerjakan laporan yang tak ada abisnya." jelas Bu Ira apa adanya menjawab.


"Ya, sudah. Ini sudah sore, mari kita pulang bersama-sama." ajak Bu ira seraya melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul empat sore.


"Baik, Bu. Ayo!" sahut Kirana lalu beranjak berdiri disusul Bu Ira.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju motor Bu Ira yang terparkir di kantor krani divisi. Kebetulan, rumah Bu Ira dan Kirana searah. Jadi, Kirana selalu di jemput Bu Ira untuk suatu hal pekerjaan.


Bu Ira segera menghidupkan motornya dan Kirana duduk di belakang. Kemudian, Bu Ira segera melajukan kendaraan motornya dengan pelan-pelan menuju rumah mereka.

__ADS_1


__ADS_2