Suamiku Bukan Jodohku

Suamiku Bukan Jodohku
bab 56


__ADS_3

Keesokan harinya, Kirana bangun dengan tergesa-gesa. Sekali lagi, suaminya sudah tidak ada disampingnya. Membuat Kirana sedih dan kecewa.


Kirana segera pergi ke kamar mandi. Setelah selesai dengan ritualnya, dirinya kemudian bersiap-siap karena tak ingin terlambat. Kirana bercermin setelah dirasa sempurna.


Lalu, Kirana keluar dari kamar dan menuju dapur untuk memasak nasi goreng. Lima belas menit kemudian, nasi goreng siap di hidangkan. Kirana segera mengambil piring dan nasi goreng yang masih menempel di wajan.


Selesai makan, Kirana segera mencuci piring dan berangkat kerja. Kirana, sudah memikirkan masalahnya dengan matang. Bahwa Kirana sudah tidak peduli lagi dengan suaminya yang mau berselingkuh di belakangnya.


Kirana akan memberitahu Ilham bahwa sudah tidak tahan dengannya setelah beberapa bulan ini. Kirana sudah yakin dengan hatinya, lalu segera pulang kampung dan mengurus surat perceraian tersebut.


Kirana berangkat kerja dan menyapa beberapa tetangga yang lewat. Sesampainya di kantor divisi, Kirana menyapa Bu Ira dan membantu mengerjakan laporan.


"Selamat pagi, Bu Ira!" sapa Kirana.


"Selamat pagi juga, Kirana!" balas Bu Ira.


"Bagaimana harimu?" tanya Bu Ira di sela-sela pekerjaannya.


"Beginilah, Bu! Tidak ada yang berubah. Tetap sama." jawab Kirana dengan bahu terangkat.


"Terus, kamu sudah bilang sama suamimu soal kamu melihatnya berduaan di kantor kemarin!" tanya Bu Ira lagi.

__ADS_1


"Belum, Bu! Aku belum mencari waktu yang tepat untuk bilang ke suamiku." ucap Kirana.


"Segera diselesaikan masalahmu itu, agar tidak berlarut dan makin runyam masalahnya kalau tidak segera di katakan." tutur Bu Ira menasehati Kirana.


"Iya, Bu. Akan aku usahakan." 


Seperti biasanya, selesai mengerjakan. Mereka segera berangkat ke kantor untuk menyerahkan laporan mandor ke kantor pusat untuk di masukkan ke data komputer.


Bu Ira dan Kirana berboncengan. Setelah sampai di kantor pusat, mereka segera masuk lewat pintu belakang. Sebab, staff admin tanaman posisi berada di belakang, agar para kerani lebih mudah menyerahkan laporan tersebut.


Kali ini, Kirana tidak melihat suaminya ada di kantor tersebut. Namun, Kirana sering mendengar beberapa staff lainnya membicarakan suaminya itu dengan Ani.


"Oya, Ani, bagaimana hubunganmu sama Pak Ilham? tanya salah satu teman Ani.


"Ciieee, yang di datangin pacar merona merah wajahnya," goda teman Ani.


Kirana yang mendengar hal tersebut, nampak menahan emosi dan cemburu. Betapa malu Kirana, mendapati suaminya menghianati pernikahan mereka yang telah berjalan enam tahun.


Selesai dengan urusan Admin Tanam, gantian dengan para kerani yang lain. Untuk Kirana dan Bu Ira segera kembali ke kantor divisi.


Sesampainya di kantor, Kirana sudah tak tahan dan menangis lagi. Untung suasana kantor sepi hanya Bu Ira dan dirinya yang berada 

__ADS_1


"Sabar, Kirana! Segera selesaikan masalahmu. Menangislah sepuasmu disini. Sepulang dari sini, bicarakan baik-baik dengan suamimu. Jangan terbawa emosi." tutur Bu Ira mengusap pelan bahu Kirana agar gadis itu tenang.


Kirana hanya diam menanggapi apa yang diucapkan Bu Ira. Namun, dirinya akan menyelesaikan masalah tersebut saat suaminya pulang nanti.


Kirana benar-benar sudah tak tahan dan ingin segera pulang kampung. 


"Bu Ira, terimakasih. Bu Ira sudah mau mendengar keluh kesahku dan mengajariku selama aku bekerja disini. Mungkin, setelah aku menyelesaikan masalahku. Aku mau mengundurkan diri dan pulang, Bu." ucap Kirana dengan wajah sendunya.


"Iya, Kirana. Ibu paham dan mengerti akan kondisimu." ucap Bu Ira.


Kirana segera memeluk erat Bu Ira. Sebab, selama di perantauan hanya Bu Ira yang membuatnya merasa nyaman dan telah menganggap sebagai Ibu keduanya selama di perkebunan sawit ini.


"Sekali lagi, terimakasih, Bu! Bu Ira sudah kuanggap seperti ibuku sendiri disini. Aku sangat senang bertemu Bu Ira." ucap Kirana yang masih memeluk Bu Ira.


"Iya, aku juga senang Kirana. Tetapi, Ibu akan sedih setelah kau pergi nanti. Jangan lupa kasih kabar selalu setelah kau sampai Jakarta nanti," ujar Bu Ira.


"Pasti, Bu! Aku akan kasih kabar kalau sudah sampai di Jakarta nanti." timpal Kirana seraya melepas pelukannya.


"Ya sudah, jangan menangis lagi. Kamu harus kuat. Kamu cantik dan masa depanmu masih panjang. Masih banyak lelaki yang mengantri di luar sana." ucap Bu Ira memberi semangat sambil menghapus air mata Kirana.


"Iya, Bu."

__ADS_1


"Ayo, kita pulang. Nanti sore kita kembali ke kantor divisi lagi untuk absen." ajak Bu Ira.


"Ayo, Bu."


__ADS_2