
HAPPY BIRTHDAY MAMA
Heni dan Ilyas yang mendengar teriakan dari belakang seketika menoleh bersamaan.
"Kalian…"
Heni menutup mulutnya tak percaya apa yang terjadi. Kedua anaknya, mengingat hari ulang tahunnya. Bu Marsinah, pembantu yang sudah melayani belasan tahun ikut meramaikan suasana bahagia ini.
"Selamat Ulang Tahun Mama," ucap Pak Ilyas seraya memeluk dan mencium kening istrinya.
"Terimakasih Pa. Aku sampai tak ingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku." ucap Bu Heni di dalam pelukan suaminya.
Kemudian, Fahiz, Dwi dan Bu Marsinah meletakkan kue, camilan dan piring juga minuman di meja.
Fahiz dan Dwi, memeluk mamanya secara bergantian.
"Happy Birthday Mama ku sayang," ucap Fahiz memeluk mamanya. Begitu pula Dwi yang memeluk mamanya dengan erat.
"Kalian masih mengingatnya?" tanya Bu Heni tersenyum memandang kedua anaknya.
"Tentu Ma!"
"Ini kejutan untuk Mama, semua ide ini dari Mas Fahiz. Papa, juga ikut andil Ma." ucap Dwi dengan senyum lebarnya.
Heni yang mendapat kejutan seketika menoleh pada suaminya. Lalu, Pak Ilyas pun hanya menganggukkan kepala dan membenarkan pernyataan dari putrinya.
"Nyonya, Selamat Ulang Tahun. Semoga Nyonya dan keluarga selalu bahagia dan diberkahi." ucap Bu Marsinah dengan tersenyum memandang majikannya.
"Terimakasih, Bi." ucap Bu Heni yang langsung berdiri dan memeluk pelayan yang telah melayaninya belasan tahun itu.
"Ayo Bi, ikut bergabung dengan kita. Untuk merayakan hari bahagia ini." ucap Fahiz dengan senyuman.
"Baik Tuan Muda."
"Hadiah untuk mama mana?" tanya Bu Heni memasang wajah sendu.
"Mama minta hadiah apa? Akan kami turuti keinginan mama kali ini," ucap Fahiz bertanya pada mamanya.
"Mama mau…" ucapnya terhenti memandang Fahiz, Dwi dan suaminya bergantian.
__ADS_1
Fahiz, Dwi dan Pak Ilyas yang di pandang merasa penasaran saat wanita yang ada dihadapannya berhenti.
"Apa Ma!"
"Mama mau Fahiz menikah tahun ini juga." ucap Bu Heni dengan tegas dan senyuman terukir di kedua sudut bibirnya.
Fahiz yang mendengar permintaan mamanya seketika terdiam dan tak tahu harus bagaimana lagi memberitahu mamanya.
"Kenapa diam Fahiz!" ucap Bu Heni melihat wajah putranya yang terlihat biasa saja.
Fahiz nampak berpikir, mencerna keinginan mamanya itu. Dirinya seakan lelah berkali-kali diminta untuk segera menikah. Namun, kali ini demi kebahagiaan mama dan hadiah spesial untuk mama tercinta, tidak ada salahnya Fahiz menuruti keinginan mamanya itu.
"Baiklah Fahiz mau. Tapi, Fahiz tidak mau dijodohkan, Fahiz ingin mencari jodoh Fahiz sendiri tanpa bantuan mama dan papa." ucapnya dengan tegas.
"Oke, mama tunggu kabar baik itu." ucap Bu Heni yang tersenyum lebar dan bahagia dalam hatinya.
Kemudian, acara potong kue pun berlanjut dengan suasana sederhana. Semua, bercanda tawa dan mengobrol tentang kenangan saat awal pernikahan papa dan mamanya sampai larut malam.
***
Keesokan harinya.
Beberapa saat kemudian, kendaraan yang ditumpangi Erik sampai di tujuan. Lalu, keduanya turun dan sama-sama masuk ke dalam kantor.
Saat membuka pintu, nampak semua karyawan terkejut akan kedatangan Ilham. Semua sudah tahu tentang berita heboh itu, dan tentunya semua memandang Ilham dengan tatapan tak suka.
"Gak punya malu, setelah dipecat masih berani datang kesini." ucap seseorang yang berbisik kepada teman di sampingnya.
"Iya, benar. Benar-benar keterlaluan. Kalau aku tidak akan menampakkan diri setelah kejadian memalukan seperti itu." sahut teman lainnya.
Ilham yang mendengar itu, seolah tak peduli dan niatnya hanya ingin bertemu dengan Pak Beni.
Tok … tok … tok
"Masuk," ucap seseorang dari dalam.
Ilham pun membuka pintu dan disusul Erik dari belakang.
"Permisi Pak Beni, boleh saya duduk." ucap Ilham yang masih menatap Pak Beni tanpa rasa takut.
__ADS_1
Pak Beni terkejut akan kedatangan Ilham di sini. "Silahkan duduk." ucap Pak Beni.
Ilham dan Erik pun duduk di kursi.
"Maafkan saya Pak baru bisa datang kesini. Sebab, permasalahan saya dengan istri saya harus diselesaikan terlebih dahulu." kata Ilham menjelaskan.
"Pak, saya datang kesini terus terang ingin meminta maaf atas kekhilafan saya. Sungguh saya merasa malu dan bodoh atas tindakan saya." ucap Ilham dengan tenang.
Pak Beni yang mendengar pernyataan Ilham seketika bangga, bahwa Ilham mengakui semua kesalahannya.
"Saya sudah memaafkan kamu, tetapi kesalahanmu tidak bisa saya terima diperusahaan ini. Tentunya, kamu tahu peraturannya bukan." kata Pak Beni menjelaskan.
"Tentu Pak, saya masih ingat semua peraturan tersebut." ucap Ilham.
"Ini surat pemecatanmu." ucap Pak Beni mendorong surat tersebut dihadapan Ilham.
Ilham pun mengambil surat itu dan menyimpannya di dalam tas. Erik hanya terdiam menyaksikan semua ini dan tidak bisa membantu apa-apa selain mendoakan sahabatnya itu.
"Baiklah Pak, saya permisi dan terimakasih atas kebaikan Bapak selama ini." ucap Ilham lalu menjabat tangan Pak Beni.
"Sama-sama, Ham." ucap Pak Beni menerima uluran tangan Ilham dan memeluk mantan karyawannya, dan Erik ikut menjabat tangan Pak Beni.
Ilham dan Erik, meninggalkan ruangan Pak Beni. Keduanya, berjalan beriringan tak mempedulikan tatapan sinis dari beberapa karyawan.
Keluar dari kantor pusat, Erik mengantar Ilham ke rumahnya, lalu Erik akan melanjutkan bekerja.
Setelah sampai di rumah Erik, Ilham turun dari motor dan Erik melajukan kendaraannya menuju kebun.
Ilham masuk ke dalam, dan melihat beberapa barang yang tergeletak di kamar Erik. Ilham telah menjual motor dan beberapa peralatan dapur untuk perjalanan pulangnya nanti.
Ilham ingin menenangkan diri terlebih dahulu disini, sebelum siap kembali ke Jakarta untuk memulai hidupnya yang baru. Melupakan semua kenangan indah bersama mantan istrinya.
Kemudian, Ilham merebahkan tubuhnya di tempat tidur sambil menatap langit-langit kamar. Berpikir, bahwa masa depannya masih panjang setelah pernikahannya yang pertama telah gagal.
Berharap kedepannya, Ilham tak melakukan kesalahan yang kedua kali saat menemukan seseorang pengganti Kirana.
Tak berselang lama, Ilham tertidur saat memikirkan masa depannya yang rumit dan kekecewaan dirinya terhadap Ani yang ternyata tak pernah menghubunginya sama sekali semenjak Ani di pecat.
***
__ADS_1