
"Siapa Kirana, Fahiz?" tanya Heni yang mulai penasaran.
"Ehmm… itu… ehmm… anu, Ma" ucap Fahiz yang gelagapan saat mamanya memberi pertanyaan.
"Apakah aku harus bilang sekarang tentang Kirana." ucap Fahiz dalam hati.
"Itu loh, Ma Kirana anaknya Bu Lastri langganan toko kue mama yang dulu." kata Fahis dengan cepat.
"Ow, anaknya Bu Lastri ya? Cantik gak?" tanya Heni dengan mata berbinar.
"Cantik sih Ma, tapi sayang…!" ucapan Fahiz terhenti saat akan melanjutkan perkataan berikutnya.
"Tapi apa Fahiz!" gerutu Heni yang mulai penasaran. Sebab, putranya ini susah sekali bila harus mendapatkan jodoh yang sesuai kriterianya.
"Tapi sayang jutek, Ma. Dia selalu mengabaikan Fahiz saat kirim pesan lewat sms dan bunga kemarin." ucap Fahiz dengan wajah memelas.
"Astaga, Fahiz. Mama kira apaan! Kamu itu sudah besar, harusnya datang langsung ke rumahnya bukan mengirim lewat pesan dan bunga." cerca Heni agar anaknya semangat dalam memperjuangkan cintanya.
"Kayak abg saja, sudah tua tapi kelakuan kayak anak remaja saja." kesal Heni karena Fahiz bukannya mendatangi ke rumah Kirana, tetapi malah main kirim pesan lewat orang lain.
"Iyaa Ma, iya. Nanti Fahiz datang ke rumahnya secara langsung untuk melamarnya. Tapi bukan sekarang, nanti Ma saat tiba waktunya." ujar Fahiz.
"Baiklah, mama tunggu kabar baiknya." ucap Heni dengan senang hati.
"Oke Ma, Fahiz kembali ke kantor dulu. Masih banyak pekerjaan yang menumpuk." kata Fahiz beranjak berdiri dan meninggalkan Mamanya.
"Hati-hati dijalan."
Sepeninggal Fahiz, Heni lalu membawa kue tersebut ke dapur dan menyimpannya di kulkas, agar di makan bareng-bareng keluarganya.
Dalam perjalanan, Fahiz memikirkan bagaimana caranya mendekati Kirana.
__ADS_1
Pucuk dicinta ulam pun tiba, Fahiz melihat Kirana yang sedang sendirian di pinggir jalan. Kemudian, Fahiz menepikan kendaraannya di depan motor Kirana yang sedang berhenti.
Ban motor Kirana bocor dan kebingungan kemana mencari bantuan. Sebab, jalanan agak lengang dan hanya beberapa warung saja yang ada di pinggir jalan.
"Ada yang bisa saya bantu mbak?" tanya Fahiz yang berdiri di samping motor Kirana.
"Kamu…"
"Kebetulan sekali kita bertemu disini. Kenapa dengan motornya?" ucap Fahiz yang senang bertemu dengan Kirana secara tak sengaja.
"Ban motorku bocor, aku bingung kemana mencari tukang tambal ban," ujar Kirana kepada Fahiz.
"Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan menghubungi pihak bengkel langgananku." kata Fahiz seraya mengambil ponsel di sakunya.
Setelah menghubungi dan memberitahu alamat yang dituju, Fahiz segera memberitahu Kirana bahwa pegawai bengkel akan datang kesini.
Beberapa saat menunggu, akhirnya yang ditunggu datang.
"Selamat siang, kamu segera tangani motor itu." pinta Fahiz.
Sedangkan Kirana, hanya duduk menunggu di trotoar sambil memainkan ponselnya.
"Sambil menunggu motormu, kita lebih baik mencari tempat warung terdekat sambil minum," ajak Fahiz kepada Kirana.
"Boleh, ayo!"
Sesampainya di warung, Kirana dan Fahiz hanya memesan minuman teh dingin untuk menyegarkan tenggorokan mereka yang kering.
"Kamu mau kemana, kok bisa sampai di daerah sini.?" tanya Fahiz yang sesekali melirik kepada Kirana.
"Aku kebetulan mau kembali ke toko kue. Soalnya banyak pesanan kue, jadi aku harus kembali terburu-buru. Tetapi, di tengah jalan malah ban motorku bocor." jelas Kirana pada Fahiz.
__ADS_1
"Oh…"
Jujur Fahiz merasa bingung dan gugup saat berhadapan dengan Kirana. Dirinya tak bisa berbicara banyak di depan Kirana yang mampu membuat seorang Fahiz terdiam seribu bahasa.
Mereka mengobrol dan membahas soal pekerjaan yang akan membuat hidup Kirana berubah menjadi bahagia.
Beberapa saat kemudian, mereka akhirnya selesai dan membayar minuman tersebut dan keluar dari warung, lalu menghampiri pegawai yang sudah menyelesaikan motor Kirana.
"Ini bayaran dan juga tips untuk kalian berdua. Terimakasih." kata Fahiz menyerahkan uang sebagai bayaran telah membantu motor Kirana.
"Terimakasih, Pak Fahiz." ucap kedua pegawai bengkel tersebut senang. Lalu, mereka meninggalkan Fahiz dan juga Kirana setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Terimakasih Mas Fahiz, telah membantu saya. Kalau tidak ada Mas Fahiz, mungkin sampai malam aku berada disini." ucap Kirana tersenyum.
"Sama-sama. Jangan sungkan untuk meminta bantuan lagi nanti padaku. Anggap saja, ini sebagai awal perkenalan kita." kata Fahiz dengan senyum mengembang di kedua sudut bibirnya.
"Baiklah, aku kembali ke toko dulu. Sekali lagi, terimakasih atas bantuannya." kata Kirana seraya naik motor dan menghidupkan mesin motornya.
"Boleh aku antar sampai toko!" pinta Fahiz.
"Baiklah."
Fahiz masuk ke mobil dan menyalakan mesin, lalu mengikuti Kirana dari belakang.
"Akhirnya, kamu berada dalam genggamanku Kirana." ucap Fahiz senang dan bahagia.
Jangan lupa like, komen dan vote.
No boom like ya, kasian othor nanti kejang-kejang.🤭
Selamat Membaca ya🤗
__ADS_1