Suamiku Bukan Jodohku

Suamiku Bukan Jodohku
bab 27


__ADS_3

Di ruang tamu, Bu Lastri dan Kirana masih saling berpelukan.


Setelah beberapa saat, Bu Lastri melepaskan pelukan dan menghapus air matanya dan juga Kirana.


"Kirana," panggil Bu Lastri memegang bahunya ambil menatap mata putrinya yang masih nampak mengeluarkan air mata.


"Kamu lihat sendiri 'kan? Apa yang terjadi atas sikap dan juga kesalahanmu membuat Bapak menjadi marah dan kecewa." kata Bu Lastri masih dengan memegang bahu putrinya.


Kirana mengangguk dan mengerti akan kesalahannya saat ini.


"Apa yang telah ditakdirkan pada kehidupan kita, jalani dengan ikhlas, sabar dan bersyukur atas nikmat yang di berikan kepada sang pencipta. Jodoh, harta, dan tahta hanyalah titipan yang diberikan kepada kita dari sang pencipta untuk dijaga dengan baik. Buang egomu, Bapak dan Ibu mencarikanmu jodoh yang terbaik demi masa depanmu yang lebih baik, agar kamu tidak salah memilih dan melangkah." tutur Bu Lastri menasehati Kirana memberi pengertian pada putrinya.


"Maka jagalah hati dan juga perasaanmu terhadap calon suamimu kelak. Akan tetapi, hargailah Bapak dan Ibu ya, Nak, jangan buat kecewa kami lagi!" timpal Bu Lastri masih menasehati seraya membelai rambut Kirana.


Kirana yang mendapat nasehat dari ibunya seketika menangis lagi dan memeluk Ibunya erat-erat.


"Maafkan Kirana, Bu. Kirana janji tidak akan mengecewakan Bapak dan Ibu. Kirana akan menerima Mas Ilham dengan ikhlas," sahut Kirana di sela-sela isak tangisnya.

__ADS_1


"Sekarang, pergi ke kamar Bapak dan minta maaflah dengan benar. Ibu akan membuat minuman dulu untuk Bapak dan juga menyiapkan makan siang," ucap Bu Lastri sambil menghapus air mata di pipi putrinya.


Kirana menganggukkan kepala dan segera pergi ke kamar Bapaknya. Sedangkan, Bu Lastri ke dapur untuk masak.


Kirana diam mematung di depan kamar kedua orang tuanya selama lima menit, karena takut Bapaknya akan menolak menemuinya.


Setelah beberapa saat, Kirana memberanikan dirinya mengetuk pintu.


Tok … tok … tok


Pak Tono yang sedang merebahkan tubuhnya di ranjang mendengar suara Kirana dari luar. Namun, lebih memilih berpura-pura tidur dan sedang ingin sendiri serta tak ingin diganggu.


Di luar kamar, Kirana yang tak mendapat jawaban dari dalam membuat dirinya semakin merasa bersalah lalu pergi ke kamar dan menutup pintu serta menguncinya.


Kirana segera membanting tubuhnya dan menangis sejadi-jadinya. Betapa bodoh dan ceroboh dirinya.


Cinta pertamanya harus kandas di tengah jalan, akibat perjodohan dari orang tuanya. Akan tetapi, Kirana tak mau menyalahkan takdir cintanya yang saat ini jatuh kepada Ilham lelaki pilihan orang tuanya.

__ADS_1


Kirana mencoba meresapi nasehat dari Ibunya. Karena, selama ini hanya Ibunya yang mampu memahami perasaannya.


Saat sedang berkelana dengan pikiran yang kalut, tiba-tiba suara dering ponsel Kirana berbunyi.


Kirana segera melihat siapa yang menelpon. Ternyata, Ilham menelpon dan Kirana lalu menghapus air matanya seraya menerima panggilan telepon dari calon suaminya.


"Hallo assalamualaikum, 'Dek Kirana," sapa Ilham melalui telepon.


"Waallaikumsalam, Mas Ilham," balas Kirana menjawab salam dari Ilham.


"Dek Kirana sedang apa?" tanya Ilham yang sedang menahan rindu pada calon istrinya itu.


"Ini lagi rebahan Mas," sahut Kirana menjawab pertanyaan Ilham.


"Hmmm…Mas rasanya sudah tidak sabar 'Dek, menanti hari pernikahan kita nanti di gelar." ucap Ilham yang merasa senang sebentar lagi pernikahannya terlaksana.


Kirana yang mendengar suara Ilham begitu bahagia akan pernikahannya, membuat dirinya hanya bisa tersenyum tipis dan berusaha menerima calon suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2