
Hari minggu adalah hari yang sangat senang untuk berjalan-jalan bagi setiap pasangan muda mudi.
Seperti saat ini, Fahiz siap pergi kerumah Kirana dan ingin mengajaknya ke suatu tempat.
"Pa, Ma. Fahiz pergi dulu." ucap Fahiz saat duduk di depan kedua orang tuanya setelah selesai sarapan.
"Kamu mau pergi kemana? Kenapa rapi dan wangi sekali?" tanya Mama Heni penuh selidik.
"Mama lupa untuk memperjuangkan hati seorang wanita yang masih beku, aku harus berusaha keras lagi Ma." kata Fahiz menjelaskan.
"Begitu ya,"
"Tentu."
"Fahiz pergi dulu Ma, doakan terbaik untuk anakmu ini." ucap Fahiz yang langsung berdiri dan berlalu dari hadapan orang tuanya.
Pak Ilyas dan Heni hanya bisa tersenyum saling memandang akan tingkah putranya itu yang seperti remaja menyatakan cintanya.
Fahiz melajukan kendaraannya menuju rumah Kirana. Dirinya harus bisa mendapatkan hati Kirana apapun yang terjadi.
Menempuh perjalan satu jam, Fahiz telah tiba di rumah Kirana dengan membawa bunga mawar yang pernah dibawanya dulu.
"Assallamualaikum," ucap Fahiz saat berada di depan pintu rumah Kirana.
"Waallaikumsalam," sahut orang yang membuka pintu tersebut ternyata adalah Pak Tono.
"Silahkan masuk, Nak Fahiz," pinta Pak Tono melihat siapa tamu yang datang.
"Terimakasih Pak," ucap Fahiz.
Fahiz mendaratkan bokongnya di kursi dan Pak Tono kemudian menuju dapur agar istrinya membuatkan minuman untuk Fahiz dan memanggil Kirana.
__ADS_1
Sekembalinya dari dapur, Pak Tono mengobrol dengan Fahiz membahas pekerjaan dan hal lainnya.
Sedangkan di dapur, Bu Lastri segera memanggil Kirana yang sedang berada di belakang rumah.
"Kirana, ayo cepat bersihkan dirimu! Di depan ada Nak Fahiz datang!" panggil Bu Lastri kepada Kirana yang sendang membersihkan halaman belakang.
"Haah! Mas Fahiz datang Bu!" kaget Kirana karena mendengar Fahiz datang dari ibunya.
"Iya, sepertinya mau menenuimu. Temuilah dulu sana!" kata Bu Lastri.
"Baik Bu, Kirana cuci tangan dan kaki dulu. Lalu, kita sama-sama ke depan," ucap Kirana sambil mencuci tangannya yang kotor.
Setelah membersihkan diri, Kirana segera ke dapur dan membawa minuman dan camilan yang telah disiapkan Ibunya tadi.
Kirana berjalan beriringan bersama Bu Lastri ke ruang tamu dimana suaminya menemani Fahiz mengobrol.
"Ini Mas, silahkan diminum. Sudah lama datang ya?" tanya Kirana yang duduk berhadapan dengan Fahiz yang disusul oleh Ibunya yang juga duduk disebelah suaminya.
"Tidak juga hanya beberapa menit yang lalu," ucap Fahiz tersenyum.
"Terimakasih Mas,"
Kemudian Fahiz mengambil cangkir dan meminumnya sedikit untuk melepas dahaganya setelah beberapa saat menunggu Kirana.
"Pak, saya minta ijin mau mengajak Kirana keluar boleh?" tanya Fahiz kepada Pak Tono yang diajaknya mengobrol beberapa menit yang lalu.
"Silahkan Nak Fahiz, tidak masalah." kata Pak Tono tersenyum senang.
"Mas, emang kita mau kemana? Aku belum mandi dan bersiap-siap!" ujar Kirana dengan wajah polosnya.
"Kemana saja asalkan kamu senang," ucap Fahiz tersenyum lebar.
__ADS_1
"Baiklah, tunggu aku bersiap-siap dulu." ucap Kirana yang langsung berdiri meninggalkan Fahiz dan kedua orang tuanya untuk mandi.
Satu jam kemudian, Kirana telah siap dengan baju gamiz namun terlihat modis dan tampilan natural alami hanya dengan polesan sedikit sudah membuat Kirana semakin cantik.
Kirana keluar dengan menggunakan tas selempang yang biasa dirinya bawa kemanapun dalam bekerja.
"Ayo Mas, Kirana sudah siap!" ucap Kirana berdiri di hadapan mereka bertiga.
Fahiz terpana akan penampilan Kirana yang tampak berbeda daripada biasanya.
"Mas..."
"Mas Fahiz,"
Fahiz tersadar dari terpesonanya, karena Kirana memanggilnya.
Pak Tono dan Bu Lastri yang melihat Fahiz bengong hanya bisa tersenyum geli saat Kirana putrinya begitu cantik dengan balutan busana yang begitu cantik.
"Ah, iya baik. Ayo kita jalan!" ucap Fahiz yang langsung berpamitan kepada kedua orang tua Kirana.
"Kirana pergi dulu Pak, Bu." pamit Kirana.
"Iya nak hati-hati dijalan ya!" kata Pak Tono melihat kepergian Kirana dan Fahiz.
Keduanya masuk ke dalam mobil dan Fahiz melajukan kendaraannya membelah jalanan untuk menyenangkan hati Kirana.
"Semoga Nak Fahiz jodoh yang diberikan Tuhan kepada anak kita Kirana ya Pak," ucap Bu Lastri yang memeluk suaminya di teras.
"Aamiin Bu, semoga saja." kata Pak Tono.
Maaf ya baru bisa up sekarang, sebenarnya kemarin mau up, akan tetapi keadaan author tak memungkinkan.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote ya teman-teman.
Selamat Membaca 🤗