
Berita kehamilan Kirana segera tersebar di keluarga Pak Tono dan juga para tetangganya.
Kehamilan Kirana adalah hal yang ditunggu selama bertahun - tahun. Kebahagiaan ini membuat orang tua Kirana sangat senang.
Kirana saat ini sudah memiliki rumah sendiri. Fahiz membelikannya sebulan yang lalu setelah mengetahui kehamilan Kirana.
"Mas, pulang kantor nanti belikan seblak." pinta Kirana pada suaminya di telepon.
"Iya sayang, sekarang Mas mau bersiap - siap membereskan pekerjaan dulu. Bye sayangku dan salam buat anakku di dalam perut ya!" kata Fahiz penuh semangat.
"Hati - hati di jalan sayang."
Selesai dengan pekerjaannya Fahiz segera keluar dari restoran dan bergegas membeli pesanan istrinya yang sedang ngidam.
Kehamilan Kirana saat ini sudah berusia dua bulan. Namun, hamilnya Kirana ini sedikit manja dan membuat Fahiz kewalahan. Akan tetapi Fahiz senang melakukannya demi istri yang dicintainya.
Sampai di warung seblak, Fahiz memesan empat porsi. Selesai membayar Fahiz melajukan kendaraannya membelah jalanan menuju rumah idamannya bersama Kirana.
"Sayang, seblaknya sudah datang nih!" panggil Fahiz saat berada di ruang tamu.
Kirana yang sedang berada di dapur segera berlari mendengar suara suaminya.
"Hati - hati sayang jangan lari, kasian anakku nanti kalau ibunya tidak bisa menahan seblaknya datang." tutur Fahiz menasihati Kirana.
__ADS_1
"Maaf Mas! Kirana tidak akan mengulangi lagi. Maafkan Ibu ya nak, ini juga sesuai permintaanmu." ucap Kirana sambil mengelus perutnya.
Fahiz ke dapur untuk mengambil piring lalu kembali ke meja makan.
Kirana menuangkan seblak tersebut untuk suami dan juga dirinya.
Fahiz dan Kirana makan bersama di meja makan dengan bercanda satu sama lainnya. Selesai makan seblak, Kirana membuka sebungkus seblak lagi dan memakannya dengan lahap.
Aksi Kirana ini membuat Fahiz menggelengkan kepalanya. "Ternyata begini rasanya ngidam! Perutku langsung kenyang sekali melihat istriku makan dengan dua piring." kata Fahiz yang baru pertama kali melihat orang makan dengan rakusnya.
"Kenapa Mas melihatku seperti itu?" Kirana salah tingkah suaminya menatapnya terus menerus.
"Tidak apa - apa sayang, makan lah yang banyak untuk buah hati kita. Aku tidak menyangka sekali tempur langsung jadi dan tidak sia - sia aku berperang selama ini hahahaha…" canda Fahiz seraya mengingat malam pertama mereka.
Kirana hanya terus mengunyah makanannya betapa wajahnya sudah merah merona.
Fahiz di tempat tidur menunggu istrinya seraya rebahan sambil menerima email dari beberapa rekan kerjanya.
Keluar kamar mandi Kirana berjalan menghampiri suaminya yang sedang menatap laptop.
"Sayang, aku mau martabak," ucap Kirana bersandar di bahu suaminya.
"Apa! ' kan baru makan seblak tadi sayang dan habis dua piring. Sekarang martabak, perutmu ini terbuat dari apa?" heran Fahiz melihat perubahan istrinya semenjak hamil.
__ADS_1
"Ini kemauan anakmu Mas, jadi jangan salahkan aku ya?" manja Kirana di samping suaminya.
"Astaga, kepalaku benar - benar pusing! Baiklah, Mas pergi dulu beli martabak dan jangan nakal ya sayangku," ucap Fahiz mencium perut Kirana.
"Hati - hati sayang."
Fahiz pun memenuhi permintaan Kirana membeli martabak, walau masih menunjukkan jam sepuluh malam.
Setengah jam kemudian, Fahiz kembali membawa martabak dua bungkus sesuai keinginan anaknya tersebut.
Fahiz membawa martabak tersebut ke dapur dan kembali ke kamar dengan martabak yang sudah tertata rapi di piring.
"Terimakasih Mas martabaknya,"
Kirana makan dengan lahap dan Fahiz ikut mengambil martabak menemani istrinya makan.
Tak berselang lama, martabak habis dan Kirana merasa ngantuk setelah makan dengan porsi yang begitu banyak.
Fahiz meletakkan piring di nakas dan menemani Kirana tidur.
"Kebahagiaan ini sungguh aku tidak menyangka akan tiba, terimakasih sayangku kau hadir dalam hidupku setelah sekian lama aku menantinya." ucap Kirana dalam hati seraya memeluk suaminya dan menangis.
"Sayang, kamu menangis?" tanya Fahiz menatap wajah Kirana yang tiba - tiba menangis.
__ADS_1
"Iya Mas, aku sungguh bahagia menikah denganmu dan juga hadirnya anak kita dalam perutku." ucap Kirana tersenyum seraya memegang perutnya.
"Iya sayang, untukmu akan Mas lakukan apapun demi kebahagiaanmu dan juga anak kita nanti." kata Fahiz mencium kening Kirana.