
***
Hari berganti hari, tak terasa sudah sebulan Kirana berada di Lampung. Ilham setiap hari berangkat pagi dan pulang sore.
Kegiatan sehari-hari, dimana membuat Kirana merasa bosan dan kesepian juga rindu keluarganya yang berada di Jakarta saat ditinggal pergi bekerja Ilham.
Seminggu sekali, Kirana akan menghubungi kedua orang tuanya karena kerinduannya pada orang tua juga adik-adiknya.
"Mas, aku bulan ini kok belum datang bulan ya? Apa haidku gak lancar?" tanya Kirana yang polos kepada suaminya.
Ilham yang sedang mengerjakan laporan di laptopnya, segera menoleh pada Kirana." Besok Mas antar ke klinik!" jawab ilham.
"Sekarang istirahatlah, nanti Mas nyusul setelah menyelesaikan tugas laporan." pinta Ilham.
"Baik, Mas."
***
Keesokan harinya, sepulang dari apel pagi Ilham segera pulang ke rumah dan bersiap-siap mengantar Kirana ke klinik yang jaraknya hanya dua puluh menit dari rumahnya.
Setelah sampai di klinik ternyata banyak yang sudah datang. Namun, petugas disana datang jam setengah tujuh pagi. Terpaksa Ilham dan Kirana menunggu dan mengantri disana.
Setengah jam kemudian, Dokter dan petugas kesehatan yang ditunggu akhirnya datang dan para anggota yang sakit dari anak-anak, orang dewasa sampai orang lanjut usia segera mengambil nomor antrian. Ilham dan Kirana mendapat nomor antrian lima belas.
"Nomor antrian lima belas," panggil petugas kesehatan.
Ilham dan Kirana segera masuk ke dalam setelah nomornya disebut.
"Selamat pagi, Bu," ucap Ilham dan Kirana bersamaan.
"Selamat pagi juga, Bapak dan Ibu," sahut Dokter tersebut.
"Siapakah yang sakit?" tanya Dokter wanita tersebut.
"Istri saya, Dok, yang sakit!" jawab Ilham.
Dokter Rina mencatat nama pasien setelah menanyakan nama pasien kepada Ilham.
"Baiklah, silahkan menuju ke tempat tidur, biar saya periksa." titah Dokter Rina nama panggilannya.
Kirana berjalan menuju tempat tidur yang disediakan untuk pasien. Kemudian, Dokter Rina memeriksa denyut nadi dan tensi darah.
Selesai memeriksa Kirana, Dokter Rina kembali ke meja dan menulis resep juga vitamin.
Kirana pun turun dari tempat tidur dan duduk di samping suaminya yang sedari tadi menunggu hasil pemeriksaan dari Dokter Rina.
__ADS_1
"Bagaimana, Dok, istri saya sakit apa?" ucap Ilham yang cemas memikirkan istrinya.
Dokter Rina tersenyum melihat wajah cemas seorang suami seperti Ilham. "Selamat Pak, Bu, istri Bapak sedang hamil. Kini, usia kehamilannya memasuki lima minggu. ucak Dokter Rina tersenyum.
"Apa, Dok, istri saya hamil?" ucap Ilham memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.
Dokter Rina mengangguk.
Ilham dan Kirana yang mendengar perkataan Dokter seketika tersenyum bahagia.
"Ini resep vitamin penambah darah, dan makan makanan bergizi agar Ibu dan juga janin yang ada dalam kandungan sehat." Dokter Rina menjelaskan.
"Baik, Dok!" ucap Ilham seraya mengambil resep dari Dokter.
Setelah selesai, Ilham dan Kirana segera keluar dari Klinik lalu pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, Ilham segera memeluk Kirana dengan erat. Kebahagiaan yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba.
Kirana tak menyangka bahwa dirinya sedang mengandung buah cintanya dengan Ilham. Lelaki yang selama ini tidak dicintainya dari perjodohan orang tuanya mampu sedikit demi sedikit mengubah posisi Ibrahim beralih ke Ilham.
Setelah mengantar Kirana dari Klinik, Ilham segera berangkat kerja. Untuk Kirana segera menghubungi orang tuanya, memberitahu berita kebahagiaan ini.
"Assalamualaikum," sapa Kirana.
"Waallaikumsalam," sahut orang di seberang telepon yang ternyata adalah Ibunya.
Bu Lastri yang mendapat banyak pertanyaan dari putrinya hanya bisa tersenyum. "Alhamdulillah, Bapak dan Ibu baik, Nak! Andika dan Laras juga sekolah dengan rajin." jawab Bu Lastri.
"Ada apa nih, pagi-pagi sudah menelpon? Kangen ya, sama Ibu?" kata Bu Lastri yang sedang menata makanan di meja.
"Iya, Bu, Kirana selalu kangen sama Bapak dan Ibu, begitu juga Andika dan Laras." sahut Kirana.
"Eehm… Bu, Kirana mau memberitahu berita bahagia," ucap Kirana.
"Berita bahagia apa, Nak?" ucap Bu Lastri yang mendengar perkataan putrinya.
"Aku hamil, Bu! Usia kehamilanku sudah lima minggu," ujar Kirana tersenyum bahagia.
"Apa, hamil? Alhamdulillah, dijaga dan hati-hati selama disana ya, Nak!" nasehat Bu Lastri pada Kirana.
"Ya, sudah Bu, Kirana tutup teleponnya. Sampaikan salamku pada Bapak, Andika dan juga Laras. Assalamualaikum," ucap Kirana seraya menutup telepon.
"Waallaikumsalam."
***
__ADS_1
Keluarga di Jakarta sangat senang mendengar kabar bahagia ini. Ilham, sehari-hari menjadi suami siaga dan pulang ke rumah setiap istirahat siang.
Ilham, juga setiap saat mendapat nasehat dari Ibunya bahwa harus menjaga cucu pertama keluarga Darman dengan sebaik mungkin.
Kehamilan Kirana yang sudah usia dua bulan ini, Ilham sering tak bisa tidur dengan nyenyak. Kirana ngidam dan membuat suaminya begadang malam hari. Untung saja, ngidamnya tak terlalu aneh-aneh.
Terkadang, Kirana minta dibuatkan roti cake. Terpaksa, Ilham membuat roti cake malam hari. Beruntung Ilham bisa membuatnya, karena selama di perantauan Ilham memasak dan membuat kue. Itu semua belajar dari Ibu-ibu di mess perkebunan sawit ini.
Kirana, dirumah setiap pagi selalu jalan-jalan dan saling bertegur sapa dengan tetangga agar kehamilannya berjalan lancar nantinya.
Kini, Kirana sedang duduk menonton televisi sambil menunggu suaminya pulang kerja.
"Assalamualaikum," sapa Ilham saat masuk ke dalam rumah.
"Waallaikumsalam," sahut Kirana yang sedang menonton televisi.
"Baru pulang, Mas?" tanya Kirana seraya mencium tangan suaminya.
"Iya, dek, Mas capek sekali! Tadi rapat di kantor bersama manager dan beberapa staf karyawan lain." Ilham menjelaskan seraya melepaskan sepatu boot kerjanya.
"Mas, mandi dulu ya? Rasanya lengket dan bau asem," ujar Ilham seraya menuju kamar mandi.
Setelah selesai mandi dan badan terlihat segar, Ilham bergabung kembali bersama istrinya di sofa.
Beruntung, di masa kehamilan pertama Kirana tak merasakan mual yang berlebihan hanya ngidam.
Saat malam tiba, keduanya makan malam bersama di meja makan. Selesai makan, Kirana segera membawa ke dapur dan membersihkan piring yang kotor. Kirana merasa ngantuk dan badan terasa pegal setelah aktifitas seharian di rumah.
"Mas, aku ngantuk mau tidur dulu. Pinggangku rasanya mau copot tadi masak dan ngepel rumah." cecar Kirana lalu beranjak berdiri menuju kamar.
"Iya, dek, istirahatlah. Mas, mau kerumah Erik dulu ya!" pamit Ilham pada istrinya.
"Iya, Mas, jangan lupa tutup pintunya kalau mau keluar!" teriak Kirana saat sudah sampai di kamar.
"Oke."
Ilham menutup pintu, lalu berjalan ke samping rumah Erik. Ternyata, Erik sedang duduk sendirian di teras.
"Melamun aja, bro? Awas kesambet, loh nanti!" tanya Ilham yang langsung duduk di sebelah Erik.
"Enggak melamun aku! Cuma hidupku ini kenapa kayak begini terus! Pacaran juga gak jelas arahnya kemana? Kamu, enak sudah ada istri ada yang menemani. Sedangkan, aku kapan?" keluh Erik yang merasa sedih dan iri terhadap Ilham sahabatnya.
"Makanya, cari calon istri yang bener dan mau diajak serius. Kamu sih, pacaran sering gonta ganti melulu, makanya gak jelas arahnya." tutur Ilham menasehati Erik agar berubah tak mempermainkan wanita.
Ilham yang mendengar curahan hati sahabatnya, seketika menepuk bahunya pelan dan memberi semangat dalam mencari jodoh.
__ADS_1
Mereka berdua mengobrol dan bercanda tawa bersama. Menceritakan kisah cinta dan berbagi pengalaman. Erik dan Ilham bermain gitar untuk menghibur diri di sunyinya malam yang gelap.
Tak terasa malam telah menunjukkan pukul sembilan malam. Ilham pun berpamitan kepada Erik, karena sudah mengantuk. Begitu juga Erik segera masuk ke dalam rumah karena besok harus bekerja dan bangun pagi-pagi sekali.