
"Ilham, apa yang terjadi dengan Kirana?" tanya Erik saat sudah masuk ke dalam ruang rawat Kirana.
"Pelankan suaramu! Kirana sedang tidur." ucap Ilham.
"Apa yang terjadi pada Kirana? Aku diberitahu oleh tetangga kita saat melihatmu membawa Kirana ke klinik." tanya Erik sekali lagi pada Ilham.
"Kirana pingsan di kamar mandi saat aku menemukannya dan anakku tak bisa diselamatkan." jelas Ilham dengan wajah sendunya.
"Maaf, turut sedih apa yang menimpa Kirana dan anakmu." ucap Erik.
"Iya, Rik, makasih. Aku akan menjaga Kirana disini. Besok, baru bisa pulang. Sampaikan pada Pak Beni, aku ijin untuk sementara waktu." terang Ilham.
"Baiklah, nanti aku sampaikan pada Pak Beni." kata Erik menimpali.
Setelah beberapa saat, Erik segera berpamitan kepada Ilham, karena harus bekerja kembali.
Tak berselang lama, Kirana akhirnya sadar dan melihat sekelilingnya. Ternyata, suaminya masih berada disisinya di saat terpuruk.
"Mas," ucap Kirana dengan berderai air mata.
__ADS_1
"Dek, yang sabar dan kuat. Kita masih bisa punya anak lagi nanti," hibur Ilham agar Kirana tersenyum dan tak memikirkannya sampai berlarut.
Kirana menganggukkan kepalanya tanda dia mengerti dan akan tegar menjalani ini semuanya. Akan tetapi, sebagai seorang Ibu perasaan Kirana tetaplah hancur dan kecewa. Dia merasa bodoh dan kurang menjaga buah hatinya dengan baik.
Kemudian, Ilham segera berpamitan kepada Kirana karena akan mengganti baju sekalian mandi.
Setelah selesai mandi, Ilham segera kembali ke klinik dan membawakan baju ganti dan juga makanan untuk Kirana.
Sesampainya di klinik, Ilham menyerahkan baju kepada Kirana agar mau mengganti bajunya. Setelah ganti baju, Kirana diminta makan kepada Ilham.
"Dek, makan dulu ya? Dari tadi pagi belum makan!" pinta Ilham.
"Sedikit saja, dek!" bujuk Ilham agar istrinya mau makan.
Akhirnya setelah beberapa saat Ilham membujuk, Kirana mau makan dan disuapi Ilham dengan penuh kasih sayang.
Selesai makan, Kirana kemudian kembali tidur. Sedangkan, Ilham memilih keluar dari kamar dan memikirkan bagaimana cara menghubungi kedua orang tua dan juga mertuanya.
Perasaan mereka pasti akan kecewa dan juga hancur bila mendengar berita ini. Akhirnya, Ilham lebih memilih diam dan akan memberitahu disaat hati dan pikiran sudah tenang.
__ADS_1
Kemudian, Ilham kembali ke kamar dimana Kirana berada dan menemaninya tidur.
***
Keesokan harinya, Ilham telah bangun begitu pula Kirana. Tak sabar rasanya, Kirana ingin segera pulang ke rumah dan menumpahkan segala rasa sedihnya di kamar yang sangat di rindukannya.
"Selamat pagi, Pak, Bu!" ucap Dokter Rina saat datang ingin memeriksa keadaan Kirana.
"Selamat pagi juga, Dok!" sahut Ilham dan Kirana bersamaan.
"Saya periksa dulu ya, Bu!" kata Dokter Rina berjalan menghampiri tempat tidur Kirana.
"Keadaan Bu Kirana sudah lebih baik dan boleh pulang hari ini. Jangan lupa untuk diminum obatnya." kata Dokter tersebut dengan tersenyum.
Selesai memeriksa, Dokter Rina segera pergi dan melanjutkan memeriksa pasien lain.
Ilham dan Kirana, segera berkemas dan kembali ke rumah. Sebelumnya, Ilham menghubungi Erik agar menjemput dirinya dan juga Kirana ke klinik karena fisik Kirana yang masih lemah.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Erik tiba di klinik dan membawa barang pasangan suami istri tersebut ke mobil. Kemudian, Erik segera melajukan kendaraannya menuju rumah.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan setengah jam, sampailah mereka di rumah. Ilham dan Kirana segera turun dari mobil, namun Erik segera berpamitan kepada sepasang suami istri itu untuk kembali bekerja.