Suamiku Bukan Jodohku

Suamiku Bukan Jodohku
bab 90


__ADS_3

Sebulan kemudian.


Setelah mereka meresmikan berpacaran sebulan yang lalu, kini keduanya nampak menikmati masa-masa kebahagiaan mereka.


Kedua orang tua Fahiz telah merestui hubungan mereka, begitu pula kedua orang tua Kirana.


Seminggu lagi pernikahan mereka akan di gelar, akad nikah di rumah Kirana. Namun, resepsi pernikahan di salah satu gedung yang telah di sewa keluarga Fahiz.


Undangan telah tersebar baik dari pihak keluarga Kirana dan juga keluarga Fahiz. Berbagai persiapan telah dirancang sesuai permintaan keluarga masing-masing.


Fahiz juga sering mengajak Kirana kerumah orang tuanya untuk memperkenalkan orang tua dan juga adiknya.


Fahiz dan Kirana mereka sedang di pingit. Mereka hanya berhubungan lewat telepon untuk melepaskan kerinduan.


"Mas Fahiz, yang sabar. Pernikahan kita tinggal seminggu lagi, ditahan dulu ya rindunya. Tinggal menghitung hari saja." ucap Kirana yang tau akan perasaan calon suaminya itu.


"Iya dek, Mas akan tahan dan sabar. Seperti sabar menunggu jawabanmu dulu untuk menjadi kekasihku." ujar Fahiz mengingat dirinya berjuang menanti Kirana.


"Mas masih ingat saja kejadian yang telah berlalu." kata Kirana dengan tersenyum malu.


"Tentu saja masih ingat. Kenangan itu tak akan terlupakan." ucap Fahiz.


"Ya sudah Mas. Kirana tutup dulu teleponnya! Ada pembeli datang mau beli kue." kata Kirana menyudahi obrolannya dengan Fahiz.


"Baiklah, selamat bekerja dan jangan terlalu capek ya!" tutur Fahiz memberi perhatian kepada Kirana.


"Iya Mas Fahiz sayang. Assallamualaikum," ucap Kirana.

__ADS_1


"Waallaikumsalam."


Setelah mengobrol dengan Fahiz di telepon, Kirana segera membantu Ibunya yang saat ini toko kue Bu Lastri semakin ramai pembeli.


***


Sedangkan untuk keluarga Pak Darman. Nampak, mereka telah mendapat undangan dari mantan besan, kalau Kirana akan menikah dalam waktu dekat.


"Pak, lihat undangan ini. Dikirim dari keluarga Pak Tono, bahwa Kirana seminggu lagi akan menikah." ucap Bu Susi.


"Akankah kita memberitahu hal ini pada Ilham Pak?" tanya Bu Susi pada suaminya yang tampak bingung antara datang dan tidaknya.


"Entahlah Bu, Bapak juga bingung. Apakah kita memberitahu Ilham atau tidak. Takutnya, Ilham akan kecewa bila mengetahui undangan Kirana akan menikah." sahut Pak Darman.


Sedangkan disisi lain, Ilham yang tengah sibuk kerja tak mengetahui tentang pernikahan Kirana. Sebab Kirana tak ingin mengundang mantan suami yang telah tega menyakitinya.


Ilham menikmati pekerjaannya, bahkan sampai lembur demi melupakan mantan istrinya itu.


Ilham tak hanya bekerja sebagai karyawan travel, akan tetapi juga bekerja di sebuah cafe yang ada shiftnya.


"Bro, gak pulang sudah malam ini." ucap salah satu teman Ilham yang bareng lembur dengannya.


"Iya sebentar lagi selesai, duluan saja kalian." ucap Ilham sambil mengelap meja yang sudah kosong pelanggan cafe tersebut.


"Oke bye duluan ya!" pamit salah satu teman kerjanya.


Selesai menyelesaikan pekerjaannya, Ilham segera pulang dan berpamitan kepada teman kerjanya yang masuk shift malam.

__ADS_1


Ilham pulang dengan mengendarai motornya yang telah menemaninya bekerja selama setahun ini.


Menempuh perjalanan panjang, Ilham sampai di rumah dan memasukkan motor tersebut ke garasi.


"Assallamualaikum," sapa Ilham saat masuk kerumah.


"Waallaikumsalam," sahut Pak Darman dan Bu Susi yang masih menunggu kepulangan putranya itu.


"Baru pulang Ham?" tanya Pak Tono sambil menonton televisi ditemani istrinya.


"Iya Pak. Ilham langsung ke kamar dan mandi dulu ya? Gerah nih!" ucap Ilham setelah mencium tangan kedua orang tuanya.


"Lihat Pak Ilham, Ibu kasian melihat Ilham pulang malam terus! Kapan nikahnya kalau dia sendiri gak mau mencari, malah sibuk kerja terus." kata Bu Susi saat melihat punggung putranya yang berlalu pergi.


"Entahlah Bu, kita jangan terlalu ikut campur urusan Ilham. Biarlah dia sendiri yang mencari jodohnya." tutur Pak Darman tanpa menoleh ke istrinya.


"Bapak ini, peduli gak sih sama anak! Kok malah santai aja melihat anak lagi menikmati kesendiriannya." ketus Bu Susi yang langsung melipat tangannya.


"Bapak peduli, tapi kita sebagai orang tua mau berbuat apa Bu kalau Ilham sendiri yang mau memilih jalannya untuk sendiri dulu." tutur Pak Darman.


"Iissh Bapak."


Hai semuanya, maaf ya baru update. Harap maklum keadaan author di real. Gak nyangka udah sampai di bab 90 loh. Dan mungkin beberapa bab lagi novel ini akan tamat. Terus kasih semangat author ya agar tetap berkarya.


Jangan lupa like, komen dan hadiahnya


Selamat Membaca 🤗

__ADS_1


__ADS_2