Suamiku Bukan Jodohku

Suamiku Bukan Jodohku
bab 68


__ADS_3

***


Setelah surat perceraian keluar, Ilham memutuskan untuk kembali ke Lampung mengambil barang-barangnya yang berharga.


Sehari sebelum berangkat, Ilham menghubungi Erik untuk menata kembali pakaian dan hal lainnya. Itulah kenapa, Ilham menitipkan kunci rumahnya pada Erik.


"Erik, aku akan berangkat besok ke Lampung. Tolong, persiapkan semuanya barang-barangku." kata Ilham pada Erik.


"Oke."


"Hati-hati kamu di jalan, Ham." ucap Bu Susi seraya memeluk Ilham.


"Iya, Bu."


Ilham juga berpelukan kepada Bapaknya yang memandang putranya dengan wajah sendu.


"Pak, Ilham berangkat dulu." ucap Ilham melepaskan pelukannya.


Setelah berpamitan kepada orang tuanya, Ilham segera berangkat menuju terminal. Ilham tidak mau merepotkan orang tuanya, lebih baik dirinya naik angkutan umum.


Sebab, sekarang Ilham sudah berstatus duda. Jadi, dirinya bebas pergi kemana saja.


Menempuh perjalanan satu jam, Ilham akhirnya sampai di terminal. Bis menuju Lampung ternyata tepat dihadapannya saat turun dari mobil angkutan umum.


Ilham kemudian berlari dan naik Bis tujuan Lampung.


"Aahh, akhirnya sampai juga di terminal dan Bis yang aku tumpangi." gumam Ilham sambil memejamkan matanya.


Setelah beberapa saat, Bis melajukan kendaraannya setelah penumpang naik semua.


Dalam perjalanan, Ilham banyak merenungkan kisah perjalanan hidupnya. Mulai dari awal perkenalannya dengan Kirana sampai pernikahan. Walau karena perjodohan, tetapi dirinya bahagia.


Namun, entah karena setan darimana. Hanya karena keegoisan, seorang Ilham tega berselingkuh dari Kirana mantan istrinya. Kini, hanya tinggal penyesalan yang di dapatkannya setelah bercerai dari Kirana.


Mungkin, ini jalan terbaik bagi Ilham dan Kirana. Dengan pergi ke luar jawa, Ilham akan menata kembali hidupnya yang berantakan.

__ADS_1


Tak berselang lama, Ilham akhirnya tertidur setelah berkelana dengan pikirannya. Lelah jiwa dan hatinya yang dirasakannya saat ini.


***


Di tempat lain, Kirana yang sekarang kegiatannya membantu Ibunya di toko nampak sibuk melayani pembeli.


Toko Bu Lastri semakin ramai pembeli, banyak pesanan membuat Bu Lastri kewalahan. Karyawannya saat ini ada lima orang dan dibantu Kirana sedikit meringankan beban Bu Lastri.


Kirana yang sedang duduk di meja kasir segera berdiri saat ada pembeli masuk ke dalam toko.


"Permisi, saya mau membeli kue ulang tahun?" tanya Fahiz saat berada di toko Bu Lastri.


"Baik Mas, ukuran berapa dan mau ditulis bagaimana?" tanya Kirana seraya mencatat pesanan membeli.


"Ukuran sedang saja dan tulis nama Happy birthday mama tercinta," ujar Fahiz sambil tersenyum.


"Baik, ditunggu sebentar," kata Kirana berlalu dari hadapan Fahiz.


Fahiz terpana saat melihat gadis yang ada dihadapannya. Akan tetapi, kenapa dirinya tak pernah melihat gadis tersebut.


"Eh, Nak Fahiz. Sudah lama tidak kesini? Mau membeli kue apa?" ucap Bu Lastri bertanya pada Fahiz.


"Iya Bu Lastri, maklum kesibukan Fahiz yang membuat tidak ada waktu untuk bersantai sejenak." ujar Fahiz sambil tersenyum.


"Fahiz membeli kue ulang tahun untuk mama," ucap Fahiz.


Namun, pandangan matanya melihat ke arah Kirana yang sedang memberi arahan kepada karyawannya.


"Oh, salam buat Jeng Heni ya! Selamat Ulang Tahun. Semoga panjang umur dan bahagia. Sudah lama sekali mama mu tidak pernah kesini." ucap Bu Lastri tersenyum bahagia.


"Baik, Bu. Nanti disampaikan."


Kemudian, Kirana berjalan menuju Ibunya yang sedang mengobrol bersama pembeli tadi.


"Ini Mas, kuenya sudah jadi." kata Kirana menyerahkan kue tersebut kepada Fahiz.

__ADS_1


"Terimakasih," ucap Fahiz sambil menyerahkan uang kepada Kirana untuk membayar kuenya. Lalu, Kirana segera berlalu pergi dari hadapannya. Sebab, tak ingin mengganggu obrolan antara Ibu dan pembeli nya.


Bu Lastri yang melihat Fahiz nampak menatap Kirana lekat, hanya bisa tersenyum geli saat mata Fahiz tak lepas memandang Kirana walau sudah berlalu dari hadapannya.


"Itu, karyawan baru ya Bu?" tanya Fahiz saat melihat Kirana duduk di meja kasir.


"Yang mana?" canda Bu Lastri bertanya yang pura-pura tak tahu kalau anaknya sedang di perhatikan.


"Itu Bu, yang sedang duduk di meja kasir." ujar Fahiz.


"Oh, yang itu! Itu anak Ibu, namanya Kirana. Memang kenapa?" tanya Bu Lastri yang masih tersenyum geli dalam hati.


"Tidak apa-apa, Bu. Anaknya cantik." ucap Fahiz yang nampak salah tingkah saat mengetahui bahwa seorang gadis yang dikira karyawan, ternyata anak pemilik toko kue Bu Lastri.


"Ya sudah, Bu. Fahiz permisi pulang, mau kerumah mama dan memberi kejutan nanti malam." kata Fahiz yang langsung berpamitan kepada Bu Lastri.


"Baiklah, hati-hati dijalan Nak Fahiz." ucap Bu Lastri tersenyum bahagia.


Dalam perjalanan pulang ke rumah, Fahiz masih memikirkan wajah Kirana yang begitu cantik. Fahiz kemudian menggelengkan kepalanya pelan. Dirinya belum waktunya untuk memikirkan hal menikah untuk saat ini. Walau berkali-kali mamanya meminta Fahiz untuk segera menikah.


Fahiz adalah seorang pengusaha sukses dan memiliki beberapa restoran di Jakarta dan Bandung. Fahiz juga sudah memiliki apartemen mewah di Jakarta.


Papa Fahiz juga masih aktif di perusahaan dan sesekali meminta Fahiz untuk meneruskan usaha papanya yang telah dirintis dari nol. Namun, Fahiz menolak semua itu.


Setengah jam menempuh perjalanan, akhirnya Fahiz sampai di rumah orang tuanya.


Satpam, segera membuka gerbang saat majikannya membunyikan klakson.


Mobil yang dikendarai Fahiz, masuk ke dalam halaman rumah yang begitu luas.


Fahiz kemudian turun dan menutup pintu mobilnya, lalu berjalan ke rumah.


"Assallamualaikum Ma," sapa Fahiz saat memasuki rumah mewah milik orang tuanya.


"Waallaikumsalam," sahut seseorang dari dalam.

__ADS_1


__ADS_2