
Kirana segera turun dari ranjang dan membuka pintu untuk Ibunya.
Setelah pintu terbuka, Bu Lastri segera masuk dan bertanya pada putrinya itu.
"Kirana, tadi kamu berbicara dengan siapa? Ibu tadi mendengar kamu menyebut nama Ibrahim!" tanya Bu Lastri menatap mata putrinya.
"Ehm..i-itu, ta-tadi Kirana mengobrol dengan Mas Ilham Bu di telepon," ucap Kirana gugup dan terbata-bata seraya meremas jemarinya takut jika Ibunya mendengar kalau dirinya mengobrol dengan Ibrahim.
"Yakin, kamu dengan Ilham?" tanya Bu Lastri sekali lagi seraya menatap tajam pada putrinya bahwa apa yang didengarnya tadi tidak salah.
Kirana yang ditatap hanya memasang wajah datar, akan tetapi Kirana tetap meyakinkan Ibunya bahwa apa yang dipikirkan Ibunya benar.
"Iya, Bu benar, Kirana tadi berbicara dengan Mas Ilham!" Walau dalam hati Kirana merasa tak enak harus membohongi Ibunya.
"Kenapa Kirana menyebut Ibrahim karena Mas Ilham bertanya, siapa nama mantanku." tegas Kirana untuk meyakinkan Ibunya.
Selama ini Kirana adalah anak yang jujur, ramah, ceria dan mandiri. Itu semua berkat didikan dari kedua orangtuanya.
Akan tetapi semenjak perjodohan, Kirana lebih banyak diam dan menjadi tak ceria seperti dulu. Dan juga menjadi tak terbuka tentang masalah yang dialaminya.
"Ya, sudah, ayo keluar, di depan ada calon mertuamu datang, segera dandan yang rapi dan temui mereka ya?" pinta Bu Lastri pada putrinya.
Deg … deg … deg
Jantung Kirana langsung berdetak cepat, saat mendengar perkataan Ibunya. Bahwa calon mertuanya sedang berkunjung dirumahnya.
"Baik, Bu," ucap Kirana seraya tersenyum tipis.
Bu Lastri segera meninggalkan kamar Kirana untuk menemui Pak Darman dan Bu Susi di ruang tamu.
__ADS_1
Kirana langsung terduduk lemas di kursi dan tak tahu lagi harus berbuat apalagi untuk membatalkan perjodohan ini.
Kirana sudah tak mampu lagi berpikir dan tumpahlah air matanya.
Di ruang tamu, Bu Lastri kembali bergabung dengan suaminya dan besannya untuk melanjutkan obrolan mereka yang tertunda.
"Dimana, Kirana Bu?" Kok, keluar sendirian?" tanya Pak Tono yang melihat istrinya hanya sendirian akan tetapi tidak dengan Kirana.
"Kirana lagi berdandan, Pak. Sebentar lagi keluar kok," ucap Bu Lastri langsung duduk di sebelah suaminya.
Beberapa menit kemudian, di kamar Kirana segera mengambil tisu untuk menyeka air matanya.
Kirana segera membuka lemari pakaian dan mengambil satu set baju gamis hadiah ulang tahun pemberian Ibunya setahun yang lalu.
Di depan cermin Kirana hanya memakai bedak natural dan lipstik tipis.
Setelah selesai Kirana segera keluar dari kamarnya dan menemui calon mertuanya.
Pak Darman dan Bu Susi yang sedang bercengkerama dengan besannya, seketika menoleh saat Kirana berjalan menuju ruang tamu.
"Waaah..cantiknya calon menantuku," ucap Bu Susi yang begitu terpana melihat Kirana yang tampil beda dan tampak anggun.
Pak Tono dan Bu Lastri seketika ikut menoleh ke belakang saat Kirana datang.
Kirana begitu melihat calon mertuanya datang, langsung mencium tangan kedua orang tua calon suaminya itu.
Kini Kirana duduk diantara kedua orang tuanya.
"Pak Tono, sangat beruntung ya mempunyai putri yang begitu cantik alami," ucap Pak Darman yang ikut terpana juga melihat penampilan Kirana.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Pak, saya sebagai orang tuanya juga sangat beruntung memiliki putri seperti Kirana," timpal Pak Tono seraya tersenyum dan mengelus kepala Kirana.
Kirana yang mendapat pujian dari calon mertua hanya tertunduk malu dan tampak semburat merah merona di kedua pipinya.
"Oh, ya, Pak. Mumpung, Nak Kirana sudah berada disini, saya lanjutkan obrolan kita yang tertunda tadi." ucap Pak Darman menjelaskan maksud kedatangannya.
"Ah, iya saya sampai lupa, Pak," ujar Pak Tono.
"Baiklah, silahkan Pak."
"Begini, Pak, maksud kedatangan saya beserta istri adalah untuk membicarakan tanggal pernikahan anak-anak kita nanti." ucap Pak Darman.
"Menurut Pak Tono, baiknya hari dan tanggal yang baik hari apa?" tanya Pak Darman ke besannya tersebut.
Kirana yang mendengar ucapan calon mertuanya seketika menegang dan terdiam kaku.
Apa tanggal pernikahan? Kenapa hatiku menjadi sakit dan hancur saat mendengar kata tanggal pernikahan. Apa yang harus aku lakukan? batin Kirana.
"Untuk tanggalnya saya sudah memikirkannya, yaitu tanggal 5 Juni 2022, tepatnya hari Minggu" ucap Pak Tono menjelaskan pada Pak Darman.
"Bagaimana, Bu?" tanya Pak Darman pada istrinya.
"Setuju aku Pak," timpal Bu Susi.
"Baiklah, karena semua setuju tanggal 5 Juni 2022. Selanjutnya untuk kegiatan yang lain kita serahkan pada istri kita masing-masing." ujar Pak Tono.
Pak Darman dan Bu Susi mengangguk setuju dan tersenyum lebar karena tanggal pernikahan sudah ditentukan.
Sedangkan Kirana hanya tersenyum getir dan seketika tubuhnya terasa lemas. Kirana tak banyak bicara dan hanya sesekali menjawab bila ditanya.
__ADS_1