
Sesampainya dirumah, Bu Ira dan Kirana berpisah. Sebab, Kirana lebih sampai duluan.
Kirana kemudian membuka pintu rumah. Nampak suasana rumah yang telah di huninya selama enam tahun begitu sepi.
Kemudian, Kirana segera mencuci tangan dan kakinya di kamar mandi. Setelah selesai, Kirana merebahkan sebentar badannya. Lalu, Kirana menghubungi kedua orang tuanya yang sangat dirindukannya.
Kirana mengambil ponsel di dalam tas, dan mencari kontak Pak Tono lalu menekan tombol hijau.
Setelah nada tersambung, Kirana beralih ke video call. Tampaklah wajah Bapak dan Ibunya di depan layar ponsel.
"Assalamualaikum, Pak, Bu!" sapa Kirana.
"Waallaikumsalam, Kirana!" balas Bapak dan Ibu Kirana.
"Bapak dan Ibu, apakabarnya?" tanya Kirana.
"Alhamdulillah kami baik-baik saja, Nak! Bagaimana kabarmu dan Ilham, Nak?" tanya balik Pak Tono.
"Kirana dan Mas Ilham alhamdulillah disini juga sehat, Pak." sahut Kirana.
"Tumben nih, pagi-pagi sudah menelpon! Ada apa, Nak? Apa kamu gak bekerja?" tanya Bu Lastri ikut menimpali.
"Kirana, baru saja pulang, Bu! Makanya, Kirana bisa menghubungi Bapak dan Ibu, sekaligus kangen." ucap Kirana seraya bersandar di tempat tidur.
"Kapan kamu dan Ilham pulang, Nak? Sudah lama kalian tidak pulang?" tanya Bu Lastri yang samgat merindukan putrinya tersebut.
"Do'akan secepatnya pulang, Bu! sahut Kirana.
"Salam buat Andika dan Laras, Bu! Kalau aku pulang, minta dibawakan oleh-oleh apa dari Lampung!" tanya Kirana.
"Tidak usah repot membawakan apa-apa. Kamu pulang sampai tujuan dengan selamat Bapak dan Ibu sudah senang," kata Pak Tono seraya tersenyum bersama Bu Lastri.
__ADS_1
"Ya sudah, Bu. Kirana mau masak, nanti siang Mas Ilham pulang. Assalamualaikum," ucap Kirana seraya menutup ponselnya.
"Waallaikumsalam,"
Setelah menghubungi kedua orang tuanya. Kirana meletakkan ponselnya di atas kasur. Lalu, bergegas ke dapur untuk memasak. Sebab, tadi pagi Kirana hanya makan dengan telur.
Setengah jam berlalu, masakan sudah selesai dan Kirana menata nya di meja makan. Kemudian, Kirana segera pergi tidur dan mengistirahatkan badan serta pikirannya yang lelah.
***
Di tempat yang jauh, Pak Tono dan Bu Lastri setelah berhubungan melalui telepon dengan Kirana. Nampak, keduanya merasa gelisah beberapa hari ini memikirkan Kirana.
Setelah mendapati Kirana keguguran dan sampai sekarang belum juga hamil di usia pernikahannya yang sudah enam tahun, tentunya membuat perasaan was-was bagi mereka.
"Pak, Bapak lihat gak tadi, mata Kirana seperti abis menangis," ujar Bu Lastri.
"Iya, Bu. Sepertinya begitu." kata Pak Tono.
"Aamiin."
***
Ilham sedang berkeliling mengawasi anggota yang bekerja dengan teliti. Sesekali, Ilham akan menegur anggota yang sedang tiduran di bawah pohon sawit.
Kemudian, Ilham berpindah satu tempat ke tempat lainnya. Agar anggota menjadi disiplin dalam bekerja bukan bermalas-malasan.
Tadi pagi, Ilham bangun pagi-pagi sekali dan sempat makan di rumah Erik. Sebab, Kirana bangun kesiangan dan belum memasak sarapan pagi buat dirinya.
Terpaksa Ilham pergi ke rumah sahabatnya tersebut untuk minta makan.
Erik yang merasa kasihan, segera menyuruh Ilham mengambil piring dan nasi juga lauk yang dimasak Erik.
__ADS_1
"Masakanmu enak juga, Rik! Suami Idaman nih," ucap Ilham saat mengunyah makanannya.
"Thanks, Bro. Tapi sayang, aku belum ada yang mau sampai saat ini." ucap Erik dengan wajah memelasnya.
"Semoga aja setelah ini, nanti juga dapat." timpal Ilham.
Selesai makan, Ilham dan Erik segera berangkat kerja bareng-bareng agar tidak terlambat.
Siang ini, Ilham makan menahan lapar. Namun, dirinya mendapat pesan dari Ani bahwa dirinya membawa bekal untuk Ilham. Betapa senangnya Ilham tidak jadi menunda lapar.
Ilham segera menuju kantor pusat. Kebetulan kantor pusat sedang sepi, karena istirahat jam dua belas untuk staff karyawan dan masuk kembali pukul dua siang.
Mendapat waktu dua jam bersama Ani di kantor, kesempatan Ilham untuk makan siang bersama Ani berdua.
Begitu sampai di kantor, Ilham segera memarkirkan motornya sembarang, lalu masuk ke dalam.
"Siang, Dek Ani! Maaf menunggu lama!" ucap Ilham saat duduk dikursi sebelah Ani.
"Siang juga, Mas! Ayo, Mas makan dulu? Aku bawakan bekal makan siang untukmu. Kebetulan, aku sedang ingin bawa saja," ucap Ani dengan tersenyum.
"Terimakasih, Dek! Kamu sungguh pengertian sekali. Tau, kalau Mas sedang lapar," ujar Ilham seraya mengambil kotak bekal dan mencium keningnya.
"Sama-sama, Mas."
Keduanya makan dengan tenang dan sesekali mereka saling menyuapi satu sama lainnya.
Selesai makan, keduanya mengobrol dan sesekali Ilham mencium Ani di saat kesempatan seperti ini. Keduanya berciuman sangat mesra dan nampak menikmati di situasi yang sunyi dan sepi.
Namun, saat mereka melakukan hal tersebut dikantor. Tanpa mereka sadari, pintu belakang ada seseorang yang melihat dan merekam kejadian tersebut.
Orang tersebut hanya bisa menggelengkan kepala tak percaya, namun kejadian ini akan membuat hubungan Kirana dan Ilham hancur untuk selama-lamanya.
__ADS_1
Kemudian, orang tersebut pergi dari sana dan menuntun motornya pelan-pelan agar tidak terdengar oleh kedua orang yang lagi di mabuk asmara itu.