Suamiku Bukan Jodohku

Suamiku Bukan Jodohku
bab 80


__ADS_3

"Apa Kirana tahu akan keberadaanmu disana?" tanya Pak Darman


"Tidak Pak! Kirana tidak tahu. Ilham sengaja tidak keluar dari mobil tadi saat melihat Kirana dari kejauhan." ucap Ilham mengingat kejadian tadi sore.


"Sudahlah Ham, lupakan Kirana. Biarkan dia bahagia dengan pasangannya." tutur Pak Darman kepada Ilham agar mengikhlaskan Kirana.


"Iya Pak, Ilham sudah berusaha mengikhlaskan Kirana dan akan melupakannya pelan-pelan." kata Ilham tersenyum.


"Baguslah. Saatnya kamu mencari yang bisa membuat dirimu bahagia dan tidak melakukan kesalahan yang sama lagi." kata Pak Darman.


"Iya Pak."


Pak Darman akhirnya merasa senang, bahwa Ilham telah mengikhlaskan Kirana walau selama sebulan belum bisa melupakan Kirana.


Namun, seiring berjalannya waktu. Ilham sedikit demi sedikit mampu melupakan mantan istrinya itu.


***


Pagi hari, Fahiz dan Kirana akan bertemu sesuai janjinya hari ini di kantor Fahiz.


"Asallamualaikum Kirana," sapa Fahiz saat menghubungi Kirana pagi-pagi sekali.


"Waallaikumsalam Mas Fahiz." balas Kirana.


"Bisa kita bertemu hari ini dikantor!" kata Fahiz.


"Bisa Mas, bisa. Hanya soal pekerjaan 'kan? Tidak ada yang lain?" tanya Kirana sedikit ragu.


"Iya tentu hanya soal pekerjaan, aku ingin membicarakan soal pesanan kue ku kemarin untuk acara ulang tahun kantor. Sebab, beberapa waktu lalu aku datang. Kamu sedang tidak ada di tempat." kata Fahiz menjelaskan.

__ADS_1


"Baiklah Mas Fahiz. Untuk alamat nanti tolong share lock saja ya?" ujar Kirana tersenyum.


"Apa tidak sebaiknya aku datang menjemputmu? Sekalian bareng!" ajak Fahiz.


"Apa tidak merepotkan Mas Fahiz?" tanya Kirana.


"Tentu tidak." kata Fahiz.


"Baiklah."


Setelah menghubungi Kirana, Fahiz segera mandi dan bersiap-siap menjemput Kirana di rumahnya. Begitu juga Kirana yang bersiap-siap mandi.


Setelah beberapa saat, Fahiz kini berangkat ke rumah Kirana dan berpamitan kepada Mama dan juga Papanya.


"Pa, Ma, Fahiz berangkat kerja dulu ya!" ucap Fahiz mencium tangan orang tuanya bergantian.


"Tidak Ma, ini lebih penting dari urusan rapat." ujar Fahiz berlalu dari hadapan orang tuanya.


Pak Ilyas dan Bu Heni saling berpandangan akan tingkah putranya.


"Ma, ada apa dengan Fahiz? Kenapa Papa lihat dari tadi wajahnya selalu tersenyum?" tanya Ilyas pada istrinya Heni.


"Entahlah Pa, Fahiz sejak kemarin selalu bertingkah aneh dan senyum-senyum sendiri." kata Heni dengan mengangkat bahunya.


"Apa Mama gak merasa kalau anak kita sedang jatuh cinta?" ujar Ilyas.


"Astaga! Mama gak kepikiran sampai disitu Pa!" ucap Heni seketika wajahnya berbinar bila mengetahui anaknya sedang jatuh cinta.


Fahiz telah sampai di tempat Kirana. Keluar dari mobil, Fahiz membawa bunga untuk Kirana yang di sembunyikan di belakang punggungnya.

__ADS_1


"Assallamualaikum," sapa Fahiz seraya mengetuk pintu rumah Kirana.


"Waallaikumsalam," sahut Kirana yang sedang membuka pintu.


"Eh, Mas Fahiz. Cepat sekali datangnya?" ucap Kirana yang heran melihat Fahiz sudah rapi dan cepat datangnya.


"Iya, karena ingin segera cepat-cepat ke kantor. Oh ya, ini bunga untukmu," ucap Fahiz menyerahkan bunga pada Kirana.


Kirana yang mendapat bunga dari Fahiz, sekaligus kaget dan merasa canggung harus menerima atau tidak.


Dengan berat hati Kirana menerima bunga itu.


"Terimakasih Mas Fahiz." kata Kirana tersenyum.


"Ya ampun, ayo masuk dulu Mas Fahiz. Sampai lupa mempersilahkan tamu masuk ke dalam rumah." pinta Kirana.


Fahiz masuk ke dalam dan duduk di kursi. "Sebentar ya Mas, Kirana ganti baju dulu." ucap Kirana.


"Baiklah."


Kirana meninggalkan Fahiz sendiri dan berjalan masuk ke dalam kamar.


Maaf ya author selow melow baru bisa up hari ini, karena habis sakit. Ini belum sembuh benar sebenarnya..Maaf ya bila agak terburu-buru tulisannya.


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.


Terimakasih yang sudah mampir di karya recehku 🙏


Selamat Membaca 🤗

__ADS_1


__ADS_2