
Kirana berjalan menuju ruang makan dimana semua sudah berkumpul dan menunggunya untuk sarapan bersama.
Kirana duduk disebelah adiknya Andika.
"Selamat pagi, Pak, Bu dan juga adik-adikku," sapa Kirana pada keluarganya seraya Kirana mengacak-acak rambut adiknya.
Andika yang merasa rambutnya diacak-acak seketika berdecak kesal.
"Ck…kakak ini kenapa selalu saja merusak rambutku yang sudah rapi sih!" kesal Andika pada kakaknya.
"Selamat pagi juga Nak,"
"Selamat pagi kakakku yang cantik jelita sepanjang hari," Andika dan Laras kompak menyapa kakaknya.
"Ayo nak sarapan dan segera antar adikmu Laras ke sekolah ya?" pinta Bu Lastri pada Kirana agar mengantar adiknya sekolah.
"Iya, Bu,"
Setiap hari Kirana mengantar Laras adiknya berangkat sekolah karena waktu yang ditempuh lumayan jauh empat puluh menit dari rumah.
Sedangkan Andika lebih memilih mengayuh sepedanya sendiri karena jarak sekolah hanya dua puluh menit saja.
Pak Tono diusianya yang sudah enam puluh tahun, kini sehari-hari pekerjaanya hanya dirumah memelihara ikan hias. Namun Pak Tono mampu menghidupi anak-anaknya dari pensiunan pegawai Perhutani.
Dan Bu Lastri membuka toko kuenya juga hasil kerja keras dari suaminya selama ini.
"Nanti sepulang sekolah jangan kemana-mana ya, Nak," pinta Pak Tono pada putranya Andika.
"Siap, Pak! memangnya mau kemana?" tanya Andika.
"Sudah, nanti saja Bapak kasih tau. Sekarang, habiskan makananmu dan segera berangkat sekolah, nanti terlambat," tutur Pak Tono
"Baiklah, Pak,"
__ADS_1
Kirana yang sudah menyelesaikan sarapannya begitu juga Laras segera mengantar adiknya berangkat sekolah. Andika pun juga sudah menyelesaikan sarapan paginya agar tidak terlambat ke sekolah.
Ketiganya tak lupa mencium kedua tangan orang tua yang telah melahirkan mereka ke dunia.
"Pak, Bu, kami berangkat dulu ya?" sapa ketiganya pada orang tuanya sambil mencium pipi.
"Hati-hati dijalan ya, Nak,"
"Iya," jawab ketiganya kompak sambil berjalan keluar rumah.
***
Sampailah Kirana di gerbang Sekolah Dasar yaitu sekolah Laras, dimana Laras kini sudah kelas enam SD dan banyak sekali ujian-ujian menjelang kelulusan.
"Aku masuk ke dalam kelas dulu ya, kak?" ucap Laras.
"Iya, Dek, sana buruan masuk. Belajar yang rajin ya," tutur Kirana pada adiknya.
Setelah mengantar adiknya, Kirana segera pulang dan membantu ibunya ditoko untuk melayani pembeli yang biasanya selalu ramai.
"Aku pulang, Bu?" teriak Kirana seraya berjalan masuk menuju rumahnya.
"Ya, Nak, sini bantu ibu dulu bikin kue karena ada pesanan kue bolu, kue mawar untuk ibu-ibu pengajian hari Minggu besok." ucap Bu Lastri.
"Alhamdulillah ya Bu, toko kita semakin ramai dan berkah," jawab Kirana seraya tersenyum lebar.
"Iya, Nak, makanya kita harus tetap bersyukur karena rejeki sudah ada yang mengatur." ucap Bu Lastri.
Sedang untuk di toko, Bu Lastri sudah memperkerjakan tiga orang karyawan demi memudahkan Bu Lastri mengurus keperluan lainnya.
"Nak, mending kamu lipat kotak kardus itu untuk kue-kuenya," pinta Bu Lastri seraya menunjuk kotak yang ada di samping Kirana.
"Baik, Bu, memang berapa kotak?" tanya Kirana pada ibunya.
__ADS_1
"Dua ratus kotak Nak,"
"Alhamdulillah," ucap Kirana seraya tangan menengadah sambil mengucap syukur.
Kirana dan ibunya dibantu salah satu karyawannya sibuk membuat kue pesanan, sedangkan Pak Tono memilih memelihara ikan hiasnya yang sudah ada beberapa akuarium di rumah.
***
Tak terasa waktu sudah semakin siang. Saatnya Kirana menjemput adiknya sekolah. Pekerjaan rutin Kirana setiap hari.
"Ya, ampun Bu! Ini jam berapa? Aku harus menjemput Laras," tanya Kirana yang sedang membantu Ibunya sampai lupa waktu.
"Jam satu siang,"
"Ya, sudah sana segera jemput adikmu," pinta Bu Lastri
"Iya, Bu," ya sudah Kirana berangkat dulu Bu.
Kirana berjalan tergesa-gesa sambil mengambil sepedanya disamping rumah.
Menempuh perjalanan selama empat puluh menit. Kirana melaju sepedanya dengan kencang takut adiknya kepanasan karena terlalu lama menunggu dirinya yang datang terlambat menjemput.
Setelah sampai di gerbang sekolah, Kirana menuju pos satpam untuk menanyakan adiknya Laras.
Akan tetapi, ternyata adiknya menunggu dirinya di pos satpam tersebut dan disambut Laras dengan wajah cemberut karena kakaknya datang terlambat 15 menit. Membuat Kirana merasa bersalah.
"Maaf, ya Dek Laras," kakak terlambat menjemput karena tadi membantu Ibu bikin kue. Soalnya ada pesanan kue.
Laras yang merasa kasian melihat kakaknya ngos-ngosan dan peluh keringat di wajahnya seketika luluh hatinya. Serta mendengar kalau Ibunya ada pesanan kue membuat Laras memaafkan kakaknya tersebut.
"Iya, Kak," Laras maafin tapi lain kali jangan terlambat lagi ya." tegas Laras.
"Ya, sudah ayo kita pulang."
__ADS_1