
“Dasar anak ja*lang!” Perempuan yang biasa kusebut ibu itu menjambak rambutku. Saat kakiku baru saja memasuki ruang tamu.
“Bukankah sudah kubilang berulang kali? Sepulang sekolah jangan keluyuran.” Tangan kanannya melayang cepat dan mendarat di pipi kiriku.
“Pekerjaanmu banyak! Temanku sebentar lagi datang. Cepat sana bereskan rumah! Jangan lupa cuci bersih semua pakaian, piring dan gelas kotor itu!”
Belum puas menamparku. Jemarinya memegang kedua pipiku hingga aku memiliki moncong seperti anjing. Mungkin memang lebih pantas disebut anjing dibandingkan anak kandung.
Cerita yang beredar tentangku, perempuan itu menolak kehadiranku yang tanpa ayah. Sejak lahir, satu tetes air susunya pun tak pernah ada dalam tubuhku.
Bahkan aku dibesarkan oleh seorang temannya yang tidak memiliki anak. Perempuan yang sama jalangnya dengan dia namun masih memiliki jiwa keibuan.
Entah, karena cek-cok mulut atau berebut pelanggan. Akhirnya perempuan itu pun meninggalkanku dengannya, lagi. Berdua di rumah yang lebih pantas disebut gudang.
Saat dalam kandungan pun, ia berulang kali ingin melenyapkanku. Namun, aku yang saat itu masih berwujud janin rupanya cukup kuat untuk disingkirkan.
Bisa jadi sudah takdir Tuhan. Kalau aku harus terlahir di keluarga yang tak lengkap ini.
Lebih tepatnya neraka dunia yang berada dalam gudang barang bekas, tempat tinggalku.
🔫💣🔪
Terdengar suara riang gembira di balik tembok pemisah antara gudang dengan pemilik rumah.
“Andai aku memiliki ayah, mungkin ibu tidak akan seburuk itu. Sayangnya aku tak pernah tahu siapa suami ibu itu. Jangankan ayah, keluarga ibu pun, aku tak tahu.”
Aku melanjutkan mencuci piring setelah puas mengintip tetangga sebelah rumah yang sedang bermain dengan anak mereka bersama dua ekor anjing peliharaannya.
“Cuci ini juga!” Lagi, dia melemparkan cucian kotornya padaku.
Terkadang tak hanya pakaian kotor yang dilemparkannya. K*nd*m bekas pelanggannya pun dia gunakan untuk melampiaskan kekesalannya padaku.
Jika emosinya tak terbendung lagi. Tangan dan kakinya pun ikut bermain. Ia memukuliku habis-habisan hingga akhirnya puas dan kehabisan tenaga.
Perempuan yang tadinya berambut acak-acakan dengan sisa make up bercampur alk*h*l di pipinya kini sudah terlihat cantik.
Terlebih pakaian minim ketat yang dikenakannya. Orang yang melihat tak akan menyangka kalau dia sudah memiliki anak ABG sepertiku.
__ADS_1
“Tumben jam 15.00 sudah mau kerja, biasanya pukul 19.00 atau 20.00 baru ke luar rumah," ucapku setengah menyindir.
“Jangan mencampuri hidupku!” Ibu jarinya membuka tutup botol minuman beralk*h*l di tangannya. Dengan wajah penuh kebencian, ia menuangkan sebagian isinya ke kepalaku hingga membasahi beberapa pakaian yang sedang kupeluk.
Aku hanya terdiam menutup mata. Minuman itu terasa dingin saat menyentuh kulit pipiku namun mataku perih dibuatnya.
Lebih pedih lagi, hatiku. Dengan semua perlakuannya selama ini.
Wajah perempuan itu tersenyum sinis, sambil membakar rokok dengan pematik.
“Aku pulang nanti malam. Pokoknya sebelum jam 6 sore, kamu harus sudah selesai bikin kandang binatang ini jadi Istana.” Ia membalikkan badan dan melempar puntung rokok ke arahku.
Percikan api menyambar pakaian yang sedang kupegang. Dengan cepat aku meloncat ke dalam ember besar berisi pakaian yang sedang di rendam dengan detergent.
Aku menyaksikan seragamku terbakar habis.
“Ha-ha-ha,” Pelacur itu tertawa senang, meninggalkanku sambil menenggak botol minuman.
🔫💣🔪
“Ah, sial! Noda darah ini kenapa tak bisa hilang, dia pasti memukuliku lagi, karena tidak mencuci pakaiannya dengan benar.”
Kulit kacang menghujani kepalaku yang masih tertunduk.
“Ku-kulit kacang?”
Kedua tanganku masih mengucek noda darah di rok mini putih yang biasa dipakai ibuku.
Teringat ucapannya padaku tempo lalu, "Kau itu anak durhaka! Seperti kacang yang lupa kulitnya."
Aku mendongak, mataku tak melihat apa pun di atas kepala dan kembali ke ember cucian.
Duuaarr!
Bocah yang tadi kulihat bermain dengan ayah dan anjingnya, sudah menampakkan wajahnya tepat di hadapanku.
Aku terdorong ke belakang, kaget! Jatuh di tumpukan abu, sisa seragamku yang habis dilahap api.
__ADS_1
“Ka-kamu siapa?” Aku membersihkan diri yang menghitam terkena abu.
“Sedang apa di sini?” lanjutku, tengak-tengok mencoba menerka dari arah mana datangnya dia yang tiba-tiba muncul tanpa suara.
“Sedang membantumu.” Senyum, mengulurkan tangan, membantuku berdiri.
“Kau itu bodoh! Perbuatanmu hanya membuatku dalam masalah.” Aku menangkis tangannya, mendengus kesal menahan marah.
“Masa?” ledeknya, sambil menunjukkan rok putih yang nampak seperti baru tanpa noda sama sekali.
Aku tercengang dibuatnya. Bagaimana bisa darah itu lenyap begitu saja dari kain katun ini.
“Sulap,” jawabnya, seakan bisa membaca pikiranku.
“Hey, anak j*lang! Apa kau sudah s*nting bicara sendiri di sana?” teriak teman sekolahku yang tak sengaja melewati pekarangan belakang rumahku.
Aku menengok ke arah sumber suara, ingin tahu siapa yang berani menyebutku seperti yang ibu lakukan saat memanggilku.
Bagiku yang boleh berkata demikian hanya ibu, bukan orang lain. Apalagi teman sekolah yang biasa membullyku dengan meneriakiku sebagai anak haram.
"Dasar kurcaci banci! Beraninya keroyokan, sini hadapi aku satu per satu!"
Mereka lari sambil tertawa meledek, saat aku menyiramnya dengan air bekas cucian. Seketika aku kembali, betapa terkejutnya melihat bocah tadi bermain-main dengan cucianku.
“Apa yang kamu lakukan dengan rok ibuku?” Dia sudah menghilang, jejak kakinya pun tak ada.
Bulu kudukku berdiri, langsung kubilas semua pakaian dan menjemurnya. Kulit kacang yang beserakan pun berubah menjadi helaian kelopak bunga mawar.
Sesaat kurasakan diri ini sedang berdiri di pinggiran jalan setapak yang dihiasi barisan pohon maple, yang daunnya berguguran dan menghujani diriku.
Tercium aroma yang sangat wangi saat angin menerbangkannya. Semua itu menyadarkan lamunanku.
Aku berlari masuk ke dalam rumah tanpa menoleh ke belakang, mengunci pintu dengan rapat. Berharap yang kulihat tadi hanyalah ilusi.
Sulit kupercaya dengan apa yang kulihat. Akhirnya aku kembali ke tempat tadi. Memastikan kalau aku tidak berhalusinasi. Aku mengintip dari lubang pintu, melihat seksama di sekitar tempatku mencuci.
Benar saja, kelopak bunga mawar yang menghujani kepalaku tadi, masih berserakan di sana. Hanya saja anak lelaki itu sudah tidak ada. Bahkan seragamku yang tadinya habis terbakar menjadi abu kembali utuh dan tergantung bersih di tempat jemuran pakaian.
__ADS_1
"Aneh! Apa aku sudah tidak waras? Karena sering mengalami kekerasan fisik dan mental dari ibu? Sehingga tidak bisa bedakan antara kenyataan dengan khayalan? Kalau semua itu hanya imajinasi, sekujur tubuhku masih tercium aroma alk*hol bekas siraman tadi. Kalau semua tadi benar terjadi, lantas siapa anak lelaki itu dan kenapa ia membantuku?"
🔫💣🔪