
“Hei, apa kau sudah tidur?” Bocah jailangkung itu memencet-mencet hidungku. Ia sudah ada di sampingku, terbaring berhadapan denganku.
“Astaga!” Aku kaget, memukul wajahnya, “Te-tembus?” Keringat dinginku menetes, badanku tak bergerak. “Di-dia benar-benar se-setan?” lanjutku dalam hati.
“Kau ini, galak banget jadi perempuan. Nanti jadi perawan tua loh.” Ia menepuk-nepuk kepalaku.
Aku tidak menggubris saat dia meledek sambil menyentuhku.
"Aku ‘kan cuma ingin berteman, tidak akan menyakitimu. Aku sudah lama tidak bermain bersama perempuan,” lanjutnya dengan mengusap-usap pipiku.
Badanku masih kaku, ia menyentuh wajahku. Dingin yang kurasakan. “Jangan takut, tidurlah. Aku akan menjagamu,” ucapnya, tersenyum.
“Berjanjilah, kau tidak akan meninggalkanku seperti ibu.”
“I swear.” Ia memyodorkan kelingkingnya, aku menyambut dengan kelingkingku. Kami mengaitkan kedua kelingking dan menyatukannya.
Seperti terhipnotis, aku pun terlelap malam ini. Mungkin karena hari yang sangat panjang telah kulalui. Kehilangan ibu, bertemu orang-orang misterius, batin yang tertekan, atau tubuhku yang sudah sangat lelah.
🔫💣🔪
Di ruang penelitian.
“Tuan Muda Vandro.”
“Ada apa?”
“Makhluk itu, datang lagi."
Vandro yang sedang mempelajari struktur DNA Lee bergegas melihat ke monitor.
“Tapi kali ini lonjakan energinya stabil, tidak seperti sebelumnya.”
“Terus awasi mereka! Terutama makhluk itu. Kita belum tahu kemampuannya sejauh apa dan siapa yang mengirimnya?” Vandro ikut mengamati Lee dengan Makhluk yang mendatangi ruangannya.
“Baik, Pak.”
“Oh ya, besok saya akan membawanya ke Institute.”
“Apa kau yakin?”
“Yeah. Lee memilih mengikuti jejak ayahnya.”
“Baiklah, aku akan menyiapkan materinya.”
“Materi untuk dia sekolah atau berburu?”
“Keduanya.”
Semua orang di ruangan menoleh ke arah Vandro dan Security cctv.
“Kenapa kalian melihat kami dengan tatapan begitu? Tidak ada kerjaan? Selain memandangi kami?”
Mereka kembali bekerja.
“Baiklah. Apa Daddy yang menyuruhmu melakukannya?”
“Benar sekali. Semua dilakukan sesuai perintahnya.”
“Baguslah kalau begitu, lanjutkan kerjamu. Jangan kecewakan Daddy!”
Suara alarm berbunyi.
“Ada apa?”
__ADS_1
“Tuan Muda Vandro pertahanan kita ada yang memasuki.”
“Tidak mungkin!” Vandro berlari melihat cctv pagar depan. Ia melihat segerombolan orang masuk dengan tank baja lengkap membawa senjata berat.
“Mereka sudah merusak kamera pengaman dan berhasil menjebol pagar.”
“Cari tahu siapa mereka dan apa yang mereka inginkan?”
“Baik Tuan.”
“Yang lain cepat lakukan tugas masing-masing sesuai perintah komandan setiap regu.”
“Kau akan kemana, Tuan?”
“Aku akan menyelamatkan Lee. Kalian cepat evakuasi semuanya, termasuk barang-barang berharga kita.”
“Siap, laksanakan, Tuan.”
“Kita bertemu di Mansion Evakuasi. Jangan sampai tertangkap atau mati, ya!”
“Yes, Sir!” Semua staf menjawab serentak memberi hormat.
🔫💣🔪
“Hei, Lee. Bangunlah.”
Aku menggeliat, “Jam berapa?” Satu mataku terbuka, melihat setan itu nampak gelisah.
“Jam 03.00 am.”
“Serius?”
“Iya.”
“Kau tidak sedang bercanda ‘kan?
“Belum juga pagi, mataku masih mengantuk.”
“Jika kau tidak bersiap sekarang, mereka akan membawa dan menjualmu.”
Aku meloncat dari kasur, kaget campur panik.
“Ka-kau serius?” Dia hanya tersenyum.
“Sangat serius, sayangku.”
Suara ledakkan, pintu terbuka. Beberapa orang berseragam militer masuk dengan senjata lengkap di badan dan tangan mereka.
“Kau sudah bangun rupanya.”
“Ka-kalian siapa?” Mereka terlihat berbeda dengan orang-orang yang membawaku ke sini.
“Cepat bawa dia.” Perintahnya pada beberapa orang yang membawa senjata api laras panjang. Sepertinya pria itu adalah kapten mereka.
Aku berontak, menangkis tangan yang akan memborgolku. Dengan gesit aku menghajar wajah, menyikut perut dan menendang lutut. Mereka terjatuh. Aku mematung tak percaya dengan yang kulakukan sambil memandangi kedua tanganku yang baru saja menghajar mereka satu per satu hingga tersungkur menggeliat kesakitan.
“Ba-bagaimana bisa, aku melakukan semua itu?” Setan itu menarik lenganku. Kami berlarian di koridor mencari pintu keluar. Sementara otakku masih terus berpikir apa yang sedang terjadi dengan diriku?
“Aku senang, akhirnya kau ikut bermain.” Senyum menyeringai.
“Main, huh?”
“Pasang matamu, ya.”
__ADS_1
“Memang mataku ada di mana?”
“Maksudku, jangan sampai lengah sedikit pun.”
“Kenapa?”
“Kau harus waspada.”
“Untuk apa?”
“Untuk ini semua.”
Aku melihat kekacauan sepanjang lorong, selongsong peluru berserakan di lantai. Dinding berlubang tertanam peluru, mayat dan darah di mana-mana. “Apa yang sudah terjadi?” batinku saat menyaksikan semua itu.
Kami terus berlari, hingga masuk ke ruang pertemuan untuk mencari pintu ke luar terdekat.
“Hei, berhenti! Kau sudah masuk perangkapnya.” Tuan Muda Vandro, pria pertama yang kulihat saat membuka mata pagi ini melarangku pergi bersama setan yang tak pernah menyebutkan namanya.
“Hi, Ganteng kita ketemu lagi.” Jemarinya mengeluarkan api dan melempar bola api ke arah pria itu.
“Oh ... Shitt!” Vandro berhasil menghindar, bersembunyi di balik meja.
“A-apa yang kau lakukan? Hentikan! Vandro bisa mati.” Aku mendorongnya, setan itu terjatuh. “A-aku bisa menyentuhnya?” Aku menatap jari-jari yang baru saja bersentuhan dengannya membuat kulitku melepuh terkena panas, namun tidak terasa sakit sama sekali.
Wajahnya mulai terlihat marah, “Waw, jadi namanya Vandro?”
“Iya. Apa kau tidak mengenalnya?”
Setan itu menggelengkan kepalanya, “Apa kau menyukainya?” Ia menatapku penuh kebencian.
“Tentu saja, tidak!”
“Lalu ... kenapa kau, membelanya?!” teriaknya dengan tatapan sangar.
“Ti-tidak, a-aku hanya ....” Vandro meloncat ke arahku, kami berguling, bersembunyi dari tembakan orang-orang tak dikenal.
“Apa kau bodoh pergi bersamanya?” Nadanya meninggi memarahiku.
“Kau lebih bodoh mengorbankan dirimu demi menyelamatkanku.”
“Aku tidak bodoh!”
“Kalau kau tidak bodoh, kenapa kau melakukannya?"
“Kalau kau mati.” Tangan kirinya mencekik leherku. “Aku juga mati!” Nada suaranya tegas, sementara tangan kanannya terus membalas peluru-peluru yang berdatangan ke arah kami.
“Apa kau berubah pikiran sekarang?” Mereka terus menembaki kami yang bersembunyi di balik meja. “Ingin membunuhku, seperti mereka!” Napasku tersengal, nyaris kehabisan oksigen.
“Not this time!” Vandro melempar tabung pemadam kebakaran ke arah mereka lalu menembaknya.
Duuaarr!!!
Tabung meledak, kaca jendela pecah, “Ayo!” Vandro menarikku ke luar dari persembunyian di balik meja. Kami meloncat ke luar jendela dan tercebur ke kolam renang.
“Kaauu giilaa!” teriakku.
Byuurr!
Aku terjatuh hampir ke dasar kolam renang. Sebagian air tertelan, aku tak bisa bernapas. Vandro menciumku, ia memberi napas buatan melalui mulutnya dan menarikku ke atas permukaan menuju pinggiran kolam. Kami berbaring dengan napas saling berkejaran tidak beraturan.
Belum puas menghirup oksigen setelah hampir tenggelam tadi, “Tidurnya di rumah saja, sekarang waktunya olahraga.” Ia menarikku agar kami melanjutkan berlari.
Kepalaku mendadak pusing, mungkin terlalu banyak minum air kolam atau kepalaku terbentur saat menabrak kaca jendela sebelum meloncat tadi. Semua yang kulihat berputar dan gelap.
__ADS_1
“Astaga, Lee. Kau nge-drama lagi?” Vandro mencolak-colek pipiku. “Kau pakai pingsan segala.” Ia membopongku sampai ke mobil. “Kenapa kau selalu merepotkanku?”
Kami meninggalkan rumahnya yang sudah seperti kapal pecah. Aku tak tahu apa yang terjadi setelahnya.