
Alisa, tidak pernah ingin mengenang masa lalu dia mencoba bangkit dari keterpurukan, saat ini bahkan dia sibuk dengan studi nya saat ini karena kini dia memiliki cita-cita yang tinggi untuk menjadi seorang wanita karir, tanpa adanya cinta yang begitu menguras emosi.
Alisa, sudah hampir selesai dengan S1 nya kini sebentar lagi dia akan kembali kuliah menyelesaikan S2 , nya Alisa setiap hari hanya fokus dengan itu, sekalipun ia weekend,itu hanya di isi dengan membawa keponakan kembar'nya itu bermain di taman Mension, selebihnya dia kembali untuk belajar dan terus belajar, Elena, hanya bisa memberikan support kepada adiknya itu.
sementara Anisa, dia masih kuliah di Hongkong, sesuai keinginan Daddy, nya saat itu, dia tinggal bersama dengan kedua orang tua Aditya, saat ini hari nya dilalui dengan begitu santai tidak seperti sang kakak, yang mengejar mimpi nya itu.
Lima tahun berlalu Alisa, saat ini sudah menyelesaikan kuliahnya, dan ia memutuskan untuk kembali ke Indonesia, saat ini keponakan nya begitu sedih, saat tau aunty nya akan pergi, mereka kini sudah berusia tujuh tahun.
Alisa, bahkan sempat menitikkan air mata, dan memeluk erat keduanya , mereka adalah pelipur lara di saat, Alisa, terpuruk.
"jangan sedih sayang, aunty, hanya pergi menemui Oma, dan opa,lain kali kita bisa berkumpul lagi, kalian harus janji jadi anak yang rajin, dan harus nurut pada mommy, dan Daddy kalian ok"ujar Alisa, sambil tersenyum mengacak rambut mereka berdua.
"sayang hati-hati di jalan Oya salam buat semua nya, lain waktu kakak, akan kesana bersama dengan mereka"ujar Elena.
"tentu saja kak"jawab Alisa.
Alisa, pun pergi menuju pesawat pribadi nya milik, Aditya, yang sengaja menjemput nya, untuk pulang, tapi dia hanya di jemput oleh asisten pribadi Ayah nya itu.
singkat cerita Alisa, sudah tiba di Indonesia, dia bahkan sudah sampai di Mension, seluruh keluarga menyambut nya dengan suka cita bagaimana tidak, Alisa, tidak pernah pulang selama lima tahun terakhir, hanya sesekali Soraya menjenguk nya bersama dengan Aditya, suaminya itu.
"aku bahagia, kamu benar-benar, membuktikan bahwa kamu mampu, adikku"ujar Edgardo.
"iya,kak aku akan mulai bekerja, setelah melepas penat nanti"ujar, Alisa.
semua berkumpul bersama mereka mengadakan makan bersama,di Mension, tersebut, dan suasana nya begitu riang gembira, hanya Ardan, yang terlihat sedang tidak baik-baik saja, sesekali ia mengumpat dan mengetik sebuah pesan, saat ini bukan tanpa alasan, Ardan, tengah kesal dengan wanita nya, yang sangat ia cintai tapi rasa gengsi nya lebih besar walaupun hanya sekedar untuk mengatakan perasaannya, selama dua tahun ini, Ardan, hanya memperlakukan wanita dengan perhatian dan pemberian nafkah lahir batin, walaupun tanpa ikatan jelas.
wanita itu adalah gadis belia berusia 19 tahun, saat ini mereka berhubungan intim, semejak Sarah , duduk di bangku SMA, bukan tanpa alasan, Ardan, melakukan semua itu, karena Sarah, yang mencari sugar Daddy, untuk biyaya pengobatan ibunya dan juga kelangsungan pendidikan nya, awal nya Ardan, menolong nya dengan ikhlas, tapi Sarah, tidak ingin berhutang Budi, dia berjanji akan membayar semua itu sekalipun harus dengan tubuh nya, dan selama ini Ardan, sebenarnya, sudah memiliki kekasih, yang jauh lebih cantik dan seksi bahkan dia memiliki derajat kekayaan yang hampir sama, tapi Ardan, semakin sadar , hanya Sarah ,lah yang bisa membuat iya nyaman.
Ardan,marah pada Sarah , karena ia mendapat foto Sarah , yang sedang berduaan dengan seorang dosen, yang cukup tampan di sebuah kafe, saat ini padahal dia baru bertemu dengan Ardan, di apartemen milik nya.
pria yang, sudah berusia dua puluh sembilan tahun itu, merasa sangat murka saat ini,biar bagaimanapun juga Ardan, tidak rela milik nya di ambil orang.
"momm... aku pergi dulu,ada sedikit gangguan, aku janji besok pagi pulang "ujar Ardan.
"yah kakak,ko,, pergi sih memangnya kakak, tidak kangen dengan ku"ujar Alisa.
"kangen sayang, tapi kakak,ada yang harus di selesaikan saat ini,kakak janji besok mau ngajak kamu jalan-jalan sebagai gantinya, ok sekarang Kakak, pergi dulu"ujar Ardan.
"ya baik'lah"ujar Alisa.
__ADS_1
mereka pun lanjut makan malam bersama, suasana begitu riang sementara Ardan, langsung menuju apartemen pribadi yang kini ditempati oleh Sarah, dia hanya ingin memberikan sedikit pelajaran pada wanita nya tersebut.
Ardan, duduk di sofa ruang TV, saat ini tanpa melakukan apapun, bahkan dalam keadaan gelap, Ardan, sengaja tidak melakukan apa-apa, hingga dua jam kemudian, Sarah, datang membawa papar bag berisi makanan,Sarah , masuk dan langsung menyalakan lampu, dia bahkan tidak menoleh kearah sofa, dia langsung menuju meja makan.
hingga suara, Ardan, membuat nya terkaget saat ini, Sarah, langsung menoleh.
"kak, Ardan, kapan datang kenapa tidak menyalakan lampu"ujar Sarah.
"dari siang"ujar Ardan dingin, sambil terus menatap wajah Sarah, yang kini tersenyum di paksakan.
"maaf aku tidak tau itu"ujar Sarah, sambil mendekat dan memeluk Ardan.
"bersihkan tubuh mu, aku tidak suka bekas sentuhan pria lain"ucap Ardan, yang langsung membuat Sarah, menitikkan air mata, apa se hina itu Sarah Dimata Ardan.
"kak, aku tidak mengerti apa yang kamu maksud, aku tau aku menggadaikan tubuh ku padamu, selama ini, tapi apa se hina itukah aku di matamu, sumpah demi apapun aku tidak pernah melakukan hubungan itu dengan pria manapun kecuali kamu kak, dan hanya kamu, aku tau aku bukan wanita baik-baik karena, seorang wanita baik tak akan melakukan apapun dan menghalalkan segala cara demi uang, aku sadar diri kak, dan jika kamu sudah muak dengan ku kamu bisa bicara baik-baik pada ku, aku sadar aku bukan wanita itu yang selama ini kamu cintai, aku hanya ****** bagi mu yang sewaktu-waktu bisa kamu buang begitu saja"ujar Sarah, Sambil, berlari ke arah tangga menuju kamar utama dengan derai air mata yang tidak bisa berhenti,Sarah memasukkan pakaian lama milik nya, saat ini dia bahkan tidak mengambil apapun yang diberikan oleh Ardan, selama ini bahkan dia meletakkan kartu pemberian Ardan, Sarah, hendak pergi tapi tangan kekar Ardan, menghentikan nya.
"siapa yang menyuruh mu pergi heuhhhhh, apa karena kamu sudah mendapatkan laki-laki yang memiliki segalanya, makanya kau ingin pergi begitu saja ia, jawab!!!""""teriak Ardan.
"sekarang atau nanti, kamu juga akan membuang ku,lalu dimana salah nya, jika aku pergi lebih dulu, sebelum kamu mengusir ku,kak, aku tau hutang ku begitu banyak padamu, tapi aku akan berusaha untuk melunasi nya, dengan cara mencicil nya, aku akan bekerja sebagai TKW, di Hongkong"ujar Sarah.
Ardan, yang mendengar hal itu, semakin murka dia melepaskan koper dari pegangan tangan Sarah, dan melemparkannya ke sembarang arah, Ardan, langsung mendorong kasar tubuh Sarah keatas ranjang, saat itu juga, Ardan, bahkan tidak membiarkan Sarah , untuk berbicara, Ardan, langsung mengungkung tubuh Sarah, dan pergulatan panas itu terjadi di jam tujuh malam, saat ini Sarah , hanya bisa pasrah dia bahkan terus mengalihkan pandangan ke arah samping, dengan derai air mata, hingga Ardan, menghentikan aksinya, saat itu juga.
"aku memang wanita hina, dan rendahan, kamu bisa melakukan apa pun pada ku, bahkan mungkin aku sudah tidak berhak atas hidup ku saat ini, aku hanya ******"ujar Sarah, tiba-tiba Ardi melempar asbak nya,ke arah meja rias hingga,kaca itu pecah berhamburan menjadi butiran kecil,di lantai, Sarah, hanya bisa menangis, sambil menutup seluruh tubuh nya dengan selimut.
Sarah menangis sesenggukan di balik selimut nya itu.
"dengarkan aku, Sarah, jangan pernah berkata sesuatu yang sangat aku benci, ingat itu"ujar Ardan, sambil berjalan mengambil sebotol wine, dari bawah meja kaca tersebut dan membawa nya pergi ke arah balkon, dia bahkan langsung menenggak minuman tersebut, tanpa menggunakan gelas.
🌹💖💖💖🌹
malam semakin larut, Ardan, masih tidak beranjak dari tempat duduknya saat ini,ada rasa perih yang menusuk dadanya, bagaimana tidak Ardan, sebenarnya tidak pernah ingin melukai perasaan, Sarah, tapi ego nya terlalu tinggi, saat ini.
sementara itu Sarah, hanya bisa menangis dalam diam, hingga jiwa nya terasa lelah ia pun tertidur meringkuk, seperti bayi, bergulung selimut tebal tanpa menggunakan sehelai benang pun di tubuh nya, hanya selimut tersebut yang menutupi seluruh tubuh nya, Ardan, berjalan mendekat ke arah Sarah, dia langsung mendarat kan kecupan,di puncak kepala Sarah, saat ini lalu dia pun membaringkan tubuhnya di samping Sarah , dan Ardan, memeluk wanita nya, membawa Sarah, kedalam dekapannya saat itu juga.
Sarah, masih setengah sadar dia bisa merasakan perlakuan lembut yang Ardan, berikan saat ini, tapi dia enggan untuk membuka mata, Sarah, hanya bisa menahan tangisnya saat ini, dia bingung dengan laki-laki di hadapan nya, yang sebenarnya sudah lama meluluh lantakkan perasaan nya, tapi dia tidak pernah berani mengatakan itu, Sarah,sadar dia hanya pemuas nafsu, bagi Ardan, dan ia juga tau Ardan, memiliki kekasih selama ini.
pagi, menjelang kini kedua insan itu,baru membuka mata, Ardan, mengecup kening Sarah, dia berkata maaf, tapi Sarah, hanya bisa berurai air mata.
"jangan pernah jatuhkan setetes pun, Air mata mu , aku tidak ingin melihat itu, sampai kapan pun dan satu lagi, lahir kan anak untuk ku, setelah itu hutang mu baru lunas"ujar Ardan.
__ADS_1
Sarah, semakin terisak, saat ini"aku...aku tidak ingin melakukan hal itu, dia bukan barang untuk penebus hutang jika kamu ingin aku melunasi hutang ku,maka besok aku akan pergi, untuk bekerja, aku harap kamu bisa sabar menunggu ku untuk melunasi hutang ku yang menumpuk itu"ujar Sarah.
"tidak, sudah ku katakan aku hanya ingin kamu melahirkan anak ku,itu saja, apa sulit nya??"ujar Ardan, tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"aku tidak ingin, anakku menderita karena terlahir dari ibu yang hanya seorang wanita ******, hiks hiks hiks, aku tidak ingin itu terjadi, kumohon mengertilah"ujar Sarah.
"orang tidak akan pernah tau, karena, aku akan segera menikah dengan nya, dan mereka hanya akan menganggap anak itu sebagai anak kami"ujar Ardan, berdusta, sebetulnya dia sangat merasa terluka dengan perkataan sadis nya itu.
"kenapa, kamu tidak minta dia saja yang menjadi ibu dari anak mu, akan jauh lebih sempurna, dia punya segalanya, identitas yang jelas dan kecantikan nya tidak tertandingi, aku sudah siap kapanpun harus pergi dari sini"ujar Sarah,sambil tersenyum getir.
Ardan, menatap tajam kearah Sarah, saat ini perkataan Sarah , menggores batinnya, Ardan, benar-benar tidak bisa menerima jika Sarah, benar-benar bertekad untuk pergi dari hidup nya.
"itu tidak akan pernah terjadi, meski dalam mimpi mu sekalipun sebelum kamu melahirkan anak ku"ujar Ardan , kekeuh.
Sarah hanya bisa menangis dalam diam, dia pergi menuju kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin, saat itu juga dia benar-benar, lelah dengan jalan yang ia ambil selama ini, dia pernah berpikir untuk mengakhiri hidup nya, jika memang tidak ada lagi harapan atau jalan keluar untuk masalah ini.
"tuhan, kenapa kau takdir kan hidup ku,se hina ini, aku sudah terlalu banyak dosa, dan aku tidak ingin menambah dosa lagi aku mohon, ambilah nyawa ku saat ini juga"ujar Sarah, lirih, tidak sampai lima belas menit, Sarah, keluar dengan menggunakan bathroob, bahkan rambut basah nya dibiarkan tergerai begitu saja, Sarah, berjalan mendekati meja rias yang sudah hancur berantakan dan pecahan kaca itu berserakan, tanpa rasa takut, dia langsung mengambil pecahan kaca, yang sedikit lebih besar, saat ia akan menggores kaca itu di leher nya, Ardan langsung menepis tangan Sarah dengan kuat hingga kaca itu terjatuh,Sarah , masih tak bergeming di tempat duduknya saat ini.
"apa, kamu sudah gila heuhhhhh, apa kau ingin mati,agar kau terbebas dari hutang mu itu, heuhhhhh, jangan mimpi Sarah, sekalipun kamu mati, keluarga mu yang akan membayar nya, dan asal kamu tahu, aku akan membuat mereka lebih menderita dari apa yang kamu rasakan saat ini"ancam, Ardan, yang kini mati-matian, menahan rasa sakit nya, wanita yang di cintai nya, saat ini nekad ingin melepaskan diri dari nya.
"aku harus apa, lagi aku tidak bisa mengganti semua uang yang sudah kamu keluar kan, dan aku tidak bisa mewujudkan permintaan mu, sekalipun aku sudah jatuh cinta pada mu, selama ini, tapi aku hanya ****** pemuas nafsu mu, aku tidak punya hak untuk itu,hiks hiks hiks, aku sudah berusaha untuk tidak jatuh cinta pada mu, karena aku sangat sadar siapa aku ini"ucap Sarah,sambil berjalan meninggalkan Ardan, yang mematung saat ini, Sarah, mengambil koper nya dan mengambil baju ganti nya, setelah itu dia memakai nya langsung di sana, bahkan Sarah, tidak mempedulikan keberadaan Ardan, dia benar-benar menganggap dirinya hanya seorang pelacur yang sama sekali tidak berharga.
setelah selesai berpakaian, Sarah, langsung berkata"aku pamit, semoga pernikahan kalian, selalu dilimpahkan kebahagiaan, aku janji akan mulai membayar semua hutang ku, walaupun harus menghabiskan seumur hidup ku untuk bekerja"ujar Sarah.
Sarah menyimpan ponsel dan kartu debit,milik Ardan,di atas nakas, dia langsung berjalan menuju pintu keluar kamar saat itu juga, tanpa menghiraukan panggilan Ardan, yang meminta nya, untuk berhenti, Ardan, berusaha mengejar nya, namun Sarah, tidak terkejar saat ini Ardi, hanya bisa melupakan kecewanya dengan membanting setiap barang yang ada di hadapannya, bahkan dia tidak kembali ke Mension nya, dan mengingkari janji nya pada Alisa, adiknya itu untuk membawa nya, jalan-jalan.
sementara itu jangan lupa dengan Sarah, dia pergi mengunjungi ibunya,di kampung saat ini dengan uang seadanya, bahkan dia tidak menghiraukan rasa sakit yang menderanya akibat, mag nya kambuh karena, sedari kemarin tidak makan sedikit pun.
sesampainya di rumah petak yang teramat sederhana, Sarah, langsung masuk dan menghambur memeluk tubuh wanita paruh baya tersebut, dia bahkan bersujud memohon ampun, kepada ibunya, atas dosa, yang telah ia perbuat selama ini, Sarah, bahkan menceritakan semua nya, saat itu juga tidak ada yang ia tutupi, ibunya, hanya bisa menangis sesenggukan, bagaimana tidak perbuatan anak nya itu, adalah akibat, ketidakmampuan dirinya sebagai orang tua nya,puas mengadu pada sang ibu, Sarah, langsung tidak sadarkan diri, saat ini, ibunya berteriak meminta tolong kepada tetangga dan mereka pun langsung datang, memberikan pertolongan, saat itu juga, Sarah, dibawa ke puskesmas terdekat, setelah dua jam lamanya, Sarah,baru siuman saat ini dia mengedarkan pandangannya ke arah ibunya.
"Bu, kenapa ibu membawa ku kemari, kita bahkan sudah tidak memiliki uang sepeser pun"ujar Sarah,sendu.
"jangan khawatir kan itu nak ibu masih ada simpanan, walaupun hanya sedikit, kamu harus segera sembuh,ibu tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu,di dunia ini,adik mu bahkan sudah pergi, dia tidak ingin ingin lagi tinggal dengan kita saat ini karena, dia tau sumber uang sudah tidak ada lagi"ujar sang ibu, menatap sendu, sambil menyeka air matanya.
"ibu, aku janji akan berjuang untuk hidup ibu sampai kapan pun, dan setelah aku keluar dari sini, aku akan segera mendapatarkan diri, untuk menjadi TKW, sekalian agar bisa melunasi hutang kita, pada Ardan, tapi aku mohon jaga kesehatan ibu, dan kembali lah tinggal di kampung halaman ayah,di sana adalah tempat yang aman untuk ibu"ujar Sarah.
"baiklah nak ,ibu akan turuti semua keputusan mu, tapi ada syarat nya, jangan pernah lupa mengabari ibu,di setiap waktu senggang"ujar ibunya.
"tentu Bu"ujar Sarah, saat ini Sarah tengah di suapi oleh sang ibu.
__ADS_1
sementara itu di apartemen, Ardan, meminta orang kepercayaan nya, untuk mencari keberadaan Sarah, namun Sarah, tidak bisa ditemukan keberadaan nya, bahkan rumah kontrakan ibunya sepi, saat ini, ya Sarah, sudah berangkat satu jam yang lalu menuju kampung halaman ayah nya, bersama dengan sang ibunda, saat ini.