
hari-hari mereka lalui, dengan penuh semangat, ketiga kakak beradik itu, saling bahu-membahu, menjalani hari-hari mereka, jadi seberat apapun kehidupan mereka tidak begitu terasa.
Lala,kini sudah dua bulan tinggal di Bandung dengan kedua adiknya, saat ini, bahkan dia sudah mulai bisa menabung walaupun tidak seberapa, karena dia mendapat kan kenaikan gaji,di kafe restauran tersebut, tidak sia-sia selama dia bekerja dengan Edgardo, dan di ajari masak masakan dari berbagai negara semua itu menjadi bekal untuk nya hingga kini.
restauran tersebut merekomendasikan Lala, sebagai koki walaupun ia hanya lulusan, SMA, tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku kuliah.
Lala, setiap hari lembur, dia bahkan kadang pulang larut, tapi semua itu ia syukuri karena dengan begitu kehidupan mereka kini, sudah jauh lebih baik, dan Reza, pun kini sudah mulai bisa berobat walaupun sekedar terapi,di tempat yang murah namun dengan semangat juang dan dukungan, saat ini Reza, sudah bisa berdiri dan berjalan walaupun masih tertatih-tatih.
satu Minggu kemudian, saat itu restauran, akan tutup, tiba-tiba, sebuah mobil sport, berwarna merah berhenti di depan restoran tersebut.
Lala, yang sudah menenteng tas nya hendak pergi, dia langsung berhenti, di tempat nya seakan kakinya terkunci, saat melihat seseorang berada di hadapan nya , Lala langsung memalingkan arah pandangan nya saat itu juga, dia berharap Ardi, tidak mengenali nya saat ini.
"selamat datang tuan, maaf sebelumnya resto kami sudah tutup"ujar salah seorang pelayan tersebut.
"tidak apa-apa, saya kira masih buka karena, belum ada tanda tutup di pintu masuk, dan satu lagi saya bisa bayar berapapun,asal kalian mau menyiapkan makan malam ku saat ini juga"ujar Ardi, sambil menatap kearah Lala, yang sedari tadi tidak ingin melihat kearah nya.
"tentu saja tuan"ujar nya lagi.
Lala, pun pergi hendak menuju dapur kembali, namun suara Ardi, menghentikan langkahnya.
"kamu, tetap di sini, temani aku"ujar Ardi, yang langsung menggenggam pergelangan tangan Lala, dengan sangat erat.
"maaf tuan kalo dia, menemani anda,lalu siapa yang akan masak, karena, dia koki nya"ujar teman Lala.
"Restauran, Segede gini hanya satu orang koki "ujar Ardi .
"tidak tuan, yang bekerja ada lima koki tapi mereka semua sudah pulang, dan tinggal Lala, sendiri"ucap pelayan tersebut.
"baiklah,kalau begitu"ujar Ardi sambil berbisik"kamu masakin aku makanan favorit ku, setelah itu aku tunggu kamu di sini jangan coba-coba untuk menghindari ku lagi, karena mereka sudah bersiap di luar"ujar Ardi, yang menunjuk ke arah luar disana sudah berjajar para bodyguard nya yang entah kapan datangnya.
Lala, tidak menjawab dia hanya diam sambil berlalu, tanpa mau menoleh.
Ardi, langsung menelpon orang kepercayaan nya untuk menyelidiki dimana Lala, tinggal saat ini.
setelah hampir tiga puluh menit lebih, semua hidangan kesukaan Ardi, saat ini sudah terhidang walaupun tidak ada di menu, tapi Lala, masih ingat betul dengan semua itu, lima menit sudah, Ardi, menunggu Lala, keluar dan menemaninya makan malam, tapi Lala,tak kunjung keluar dari arah dapur.
"dimana wanita tadi??"ujar Ardi, pada pelayan tersebut.
"dia sedang bersiap untuk pulang, tuan"ujar pelayan tersebut.
"saya tidak mau tau tolong panggil kan dia sekarang juga"ujarnya sedikit penuh penekanan.
"baik tuan"jawab pelayan tersebut.
tidak menunggu lama Lala, pun tampak di hadapan Ardi, saat ini.
"duduk lah"ujar Ardi.
"heumm"ujar Lala,malas sambil duduk walaupun terpaksa.
"temani aku makan" ucap Ardi, lagi.
"maaf tuan saya, sudah makan"tolak Lala.
"aku tidak suka penolakan"ujar Ardi lagi sambil menyodorkan sendok berisi makanan di hadapan Lala.
"maaf tuan saya benar-benar kenyang"ujar Lala, lagi.
tiba-tiba saja Ardi membanting sendok tersebut keatas piring,sontak semua orang kaget.
"apa susah nya, kamu temani aku makan, apa itupun harus dengan mengemis!!"ujar Ardi.
Lala, tiba-tiba berdiri dan hendak pergi, dia menahan sesak di dada nya, tangis nya hampir tidak bisa ia bendung, tapi lagi-lagi tangan Ardi, menghentikan nya.
"satu langkah saja, aku akan hancurkan tempat ini"ujar Ardi, yang sedari tadi menahan emosi.
"apa mau kamu, heuhhhhh, kamu itu bukan siapa-siapa aku, dan lagi kamu sudah menikah tidak pantas mengurusi wanita lain"ujar Lala, sambil menatap kearah Ardi.
"ikut aku"ujar Ardi, sambil memberi kode, pada asisten nya untuk membayar semua pesanan nya sekalian minta mereka untuk membungkus nya, Ardi, tidak ingin menyia-nyiakan makanan, yang sudah di masak oleh wanita yang selama ini ia rindukan.
"kamu mau bawa aku kemana tuan aku harus segera kembali, adikku menunggu ku di rumah"ujar Lala.
"aku akan mengantarmu mu pulang"ujar Ardi, sambil langsung tancap gas, tapi bukan pulang kerumahnya melainkan, kesebuah rumah mewah,berlantai tiga, tepat nya rumah peninggalan nenek nya Ardi, yang dulu sempat Soraya dan Aditya,tinggali begitu juga dengan Edward, rumah itu begitu penuh sejarah, Soraya, tidak pernah membiarkan rumah tersebut tanpa perawatan.
"rumah siapa ini, aku bilang aku mau pulang, adikku menunggu ku"ujar Lala.
"ini rumah kita,tenang saja adikmu sudah tau kamu tidak kembali malam ini karena aku sudah meminta anak buah ku, menjaga mereka.
__ADS_1
"Tuan, aku mohon, aku mau pulang"ujar Lala, sambil mencoba membuka pintu mobil, tapi sayang, Ardi tidak mengizinkan nya, bahkan mobil tersebut memasuki, garasi tertutup, hingga Lala, tidak bisa pergi.
"apa mau mu heuhhhhh,katakan sekarang"ujar Lala.
"kamu"ujar Ardi.
"kamu sudah punya istri, yang cantik dan sederajat dengan mu, kurang apa lagi, tolong buka pintu nya, aku mau pulang"ujar Lala, lagi-lagi dia berusaha mencari jalan keluar.
"berhenti bertindak sembarangan atau adikmu dua-duanya akan dalam bahaya"ucap Ardi tegas. seketika Lala langsung mematung saat itu juga, Lala tau Ardi, bukan orang sembarangan.
Ardi, langsung merangkul pinggang Lala , saat itu juga walaupun Lala, berontak dan minta di lepaskan, tapi Ardi , tidak mau perduli, Ardi , langsung membawa Lala, masuk kedalam kamar nya.
"Ardi, aku mohon, jangan macam-macam, kamu sudah punya istri, dan ini tidak pantas kamu lakukan!!"teriak Lala.
"jangan terus mengulang kata itu"ucap Ardi,tegas.
"kenapa apa aku sa..emmm"ucapan Lala, terhenti saat Ardi, membungkam bibir nya dengan ciuman yang begitu penuh gairah, Ardi, tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, setelah sekian lama ia memendam rasa cinta dan rindu nya selama hampir empat bulan lebih.
🌹💖💖💖🌹
tangis, seorang wanita cantik pecah, tepat di samping ranjang ia terduduk lemas menopang kepala nya di atas lutut, hanya berbalut selimut untuk menutupi tubuh nya yang polos, saat ini.
Ya, dia adalah Lala,satu malam penuh Ardi, melakukan hal yang tidak seharusnya terjadi di antara mereka, tapi Ardi, melakukan semua itu karena tidak ingin lagi, kehilangan wanita yang sangat di cintai nya itu.
"kamu tega, Ardi,tega kenapa kamu lakukan ini pada ku, aku salah apa padamu,hiks hiks hiks, sementara itu Ardi,tampak merasa bersalah tapi dia juga sangat bersyukur, karena dengan begitu dia akan memiliki Lala, untuk selamanya
Ardi, yang sempat tertidur, beberapa menit,kini dia langsung bangun dan mendekat ke arah Lala.
"sayang maafkan aku, aku lakukan semua ini agar kamu tidak pernah pergi lagi dari ku"ujar Ardi, sambil mencoba merangkul pundak Lala , hendak membawa nya dalam pelukan tapi Lala, menepis nya, dia langsung berdiri menyeret langkah nya hendak menuju ke dalam kamar mandi.
"sayang, aku mohon jangan begini, setidaknya kamu cintai aku sedikit saja"ujar Ardi.
"cinta macam apa untuk pria yang sudah beristri dan juga merenggut mahkota ku yang paling berharga"ujar Lala, sambil mengusap kasar Air mata nya.
"Lala, please, aku tidak menikah, dan aku akan membatalkan nya, setelah ini, hanya kita yang akan menikah"ujar Ardi.
"kau hanya bermimpi Ardi, sampai kapan pun kita tidak akan pernah bisa menikah, dengan wanita miskin seperti ku, tidak ada yang akan setuju"ujar Lala, dari dalam kamar mandi.
"aku akan buktikan pada mu sayang, kamu tunggu saja"ucap Ardi.
Lala kini terduduk di lantai kamar mandi, Isak tangis nya kembali pecah bagaimana tidak, bahkan saat ini dia merasa dirinya sangat kotor, walaupun yang merenggut mahkota nya adalah pria yang sangat di cintai nya, tapi untuk berharap Ardi, akan bertanggung jawab, dia sangat sadar itu hanya mimpi.
"sayang kamu ngapain aja lama banget mandi nya"ujar Ardi, yang kini sudah terlihat segar dan rapi walaupun hanya memakai pakaian santai nya hanya T-shirt dan celana pendek nya, tapi ketampanan nya tidak pernah berkurang.
"Tuan, kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau, bukan sekarang aku bisa pulang"ucap Lala,datar sambil memungut pakaian nya yang berserakan di lantai, walaupun sebagian sudah tidak utuh lagi.
"apa maksud mu!!!!"teriak Ardi, sangat keras hingga Lala, menundukkan kepalanya.
"KA Kamu sudah mengambil nya, dan aku sekarang bisa pergi"ujar Lala, yang hendak masuk kedalam kamar mandi.
"stop di situ,dengar kan aku Lala, mulai saat ini dan selamanya aku tidak akan pernah melepaskan mu"ujar Ardi,tegas.
"Kamu egois, Ardi, keterlaluan, hiks hiks hiks hiks"tangis Lala kembali pecah.
"aku egois, ya aku memang egois, karena aku sangat mencintaimu kamu dengar itu, tapi apa yang ingin kamu lakukan, setelah ini, tidak akan ada yang mau menerima wanita bekas"ujar Ardi, sengaja menekan kan kata-kata itu agar Lala, berubah pikiran.
"ya... anda benar tuan wanita bekas seperti ku memang tidak akan ada yang menginginkan nya, tapi itu tidak masalah aku masih bisa hidup tanpa laki-laki di sisi ku"ujar Lala, dengan derai air mata nya.
"La,tatap aku apa ada aku disini walaupun hanya sedikit saja"ujar Ardi , sambil menunjuk dada Lala, dengan telunjuk nya, lagi-lagi Lala menggeleng, dia tidak ingin mengakui nya.
"baiklah, kamu bisa pergi sekarang juga, aku tidak akan pernah menghalangi mu, tapi ingat jika nanti kamu berbalik dan menyesali semua nya , aku harap kamu tidak akan pernah menangisi kuburan ku"ujar Ardi , sambil menggenggam pisau tajam, yang entah sejak kapan berpindah ke telapak tangan nya, yang kini bercucuran darah segar.
"Ardi, apa-apaan ini lepas kamu bisa mati"ujar Lala, yang hendak merebut pisau tersebut.
"pergilah, bukan kah ini yang kamu mau"ujar Ardi, yang berkali-kali menepis tangan Lala.
"Ardi, aku mohon lepas ,ini bahaya lihat lah darah kamu bisa habis"ujar Lala, yang terus berusaha merebut pisau tersebut yang semakin di genggam erat oleh Ardi.
"pergi!!!"""teriak Ardi.
"aku akan pergi setelah kamu melepaskan itu, Ardi, aku mohon jangan lakukan ini, aku akan sangat bersalah jika kamu kenapa-napa "ujar Lala, tapi Ardi , tidak perduli.
"baiklah Ardi, aku mohon lepaskan pisau nya, aku tidak akan pernah menghindari mu lagi, setelah ini tapi aku juga tidak bisa tetap berada di sisi mu, aku punya tanggung jawab, yang harus aku lakukan hingga nanti, aku mohon lepas pisau nya"ujar Lala, yang kini memeluk erat tubuh Ardi, sambil terisak.
"aku ingin kita secepatnya menikah"ujar Ardi.
"baiklah-baiklah tapi aku mohon lepaskan pisau itu"ujar Lala, tanpa sadar telah mengatakan ia pada Ardi, dan akhirnya Ardi melepaskan pisau tersebut yang sudah melukai telapak tangan nya, saat pisau itu terjatuh Lala, langsung mengambil pisau tersebut dan melemparkannya jauh dari jangkauan Ardi.
__ADS_1
Lala, langsung memegang tangan Ardi, dan membuka nya terlihat darah mengalir deras dari tangan nya saat ini, Lala langsung berkata.
"ayo ikut aku ke dokter"ujar Lala, yang kini masih mengenakan bathroob.
"aku tidak mau"ujar Ardi.
"ayolah Ardi, jangan keras kepala nanti kamu kehabisan darah"ujar Lala, yang kini duduk di hadapan Ardi, sambil mencoba menghentikan pendarahan dengan mengikat luka di tangan Ardi.
"aku tidak mau siapa pun, melihat tubuh istriku"ujar Ardi, sambil menatap wajah Lala, dan Lala yang tersadar langsung menutup bagian dadanya yang sedikit terbuka.
"tunggu aku pakai baju dulu"ujar Lala, yang panik..
"paper bag itu, isinya baju ganti mu"ujar Ardi, yang menahan perih.
"terimakasih,tunggu aku"ujar Lala, sambil berlari menuju kamar mandi.
setelah memakai dress selutut berwarna putih, Lala, langsung keluar, tanpa menghiraukan penampilan rambut nya yang masih menggunakan handuk.
"sayang, kamu terlalu terburu-buru, rambut mu belum kering"ujar Ardi, yang kini bersandar di sofa.
"kelamaan Ardi, aku takut kamu kenapa-napa"ujar Lala.
"sayang aku tau kamu cemas tapi lihat lah lehermu itu"ucap Ardi, sambil menunjuk bekas perbuatan Ardi, semalam.
"ya ampun bagaimana ini Ardi, tapi kamu berdarah hiks hiks hiks"akhirnya tangis Lala, kembali pecah, Ardi langsung berdiri dan membawa Lala, kedalam dekapannya.
"jangan khawatir aku sudah menghubungi dokter pribadi ku, sebentar lagi dia sampai, dan aku tidak ingin dia melihat mu dalam keadaan begini, ambil jas di lemari, dan pakai itu untuk menutupi tubuh mu aku tidak ingin mereka menikmati kecantikan tubuh mu"ujar Ardi.
"ya ampun Ardi, dalam keadaan begini kamu"ucapan Lala terhenti saat Ardi, mengecup bibir Lala.
"tidak ada penolakan"ujar Ardi.
"baiklah tuan"ucap Lala, yang langsung bergerak malas meninggalkan Ardi, menuju, wal-k in closed.
saat Lala, sedang mencari sesuatu yang bisa menutupi bagian tubuh atas nya yang sedikit terbuka dan lehernya yang di penuhi jejak kepemilikan Ardi, dokter tiba, dan langsung mengobati tangan Ardi, dan menjahit luka sayatan pisau tersebut beruntung dokter nya sudah sangat ahli jadi tidak perlu dibawa ke rumah sakit.
setelah selesai menjahit luka tersebut,dokter langsung memasang infus di tangan Ardi, untuk menyuntikkan obat kedalam nya Ardi, diminta dokter untuk berbaring di ranjang nya.
sementara itu Lala, langsung membantu Ardi, berbaring, dan menyelimuti tubuh nya,tak lupa juga ia mengucapkan terimakasih kepada dokter tersebut.
asisten Ardi, langsung mengantar dokter turun kebawah, karena isyarat dari Ardi.
"Ardi, maksud aku tuan Ardi, apa tidak sebaiknya kamu dirawat di rumah sakit, saat ini agar ada yang membantu merawat mu, aku harus segera kembali, saat ini juga, adikku pasti sangat cemas"ujar Lala.
"kamu tega, ninggalin aku dalam keadaan begini"ucap Ardi, sambil menatap sayu pada Lala.
"bukan begitu Ar,eh tu tuan, tapi "ucapan Lala, terhenti, karena Ardi.
"pergilah, sudah kukatakan padamu bukan, aku tidak akan menahan mu lagi dan ini juga percuma "ucap Ardi, yang hendak melepaskan infus dari tangan nya, namun Lala, menghentikan nya.
"baiklah tuan aku tidak pergi , sekarang jauh kan tangan itu "ujar Lala, yang berkali-kali menarik nafas,agar sedikit tenang dari rasa kesalnya.
"sayang buatkan aku sarapan, aku lapar aku mohon please"ujar Ardi, yang sedikit memiringkan tubuhnya untuk menutupi ponsel nya yang berdering tertera nama Aira,di layar utama itu.
"baiklah, aku akan memasak bubur"ujar Lala, sambil bergegas pergi menuju dapur.
sesampainya di dapur, Lala, langsung menyiapkan segala bahan untuk membuat bubur, hingga bubur matang Lala, langsung bergegas menuju kamar Ardi, walaupun langkah nya masih sedikit di seret, akibat ulah Ardi.
sesampainya di kamar, Lala, melihat Ardi, langsung melempar handphone nya kesamping tubuh nya, beruntung tidak sampai jatuh ke lantai,suara seseorang masih terdengar jelas oleh Lala.
"halo sayang, aku akan kesana sekarang juga kamu tunggu aku"ujar wanita tersebut, Lala, sempat mematung, setelah itu dia berpura-pura tidak perduli walaupun hati nya terasa perih, Lala, menyimpan bubur tersebut di atas nakas.
"makan lah, kamu pasti bisa sendiri, aku pulang dulu"ujar Lala, yang hendak melangkah.
"kenapa, apa kamu sudah ingin aku mati secepatnya"ujar Ardi, sedikit mengancam.
"Tuan Ardi, semua sudah aku berikan, kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau, sekarang , kamu bisa istirahat dengan tenang dan sebentar lagi dia akan datang"ujar Lala.
prang....
pecahan gelas berisi air tersebut, berhamburan di lantai.
"pergi!!"ujar Ardi sambil mencabut infus di tangan nya.
"Ardi, apa yang kamu lakukan"ujar Lala, sambil mendekat.
"pergi aku bilang"ujar Ardi lagi.
__ADS_1
"aku akan pergi setelah dia datang"ucap Lala, mencoba menahan air mata nya.