
"ya ampun,kak, lama banget kita udah kaya tiang jemuran tau"ucap Alisa.
"Ya ampun bentar juga , suruh siapa kalian baru hubungi kakak"ucap Elena.
"ya mana aku tau kakak, sedang di rumah kak, Edgardo, kalau aku tidak menghubungi Daddy Edward"ucap Ardi.
"ya, sudah sekarang masuk mobil barang nya bereskan sendiri di bagasi "ucap Elena.
"ia bawel "ucap Ardan.
Elena, hanya geleng-geleng kepala, saat ini dia masih tidak percaya adiknya sudah Segede gini, rasanya baru kemarin dia pergi dari Indonesia, dan kini adik laki-laki nya, sudah mau masuk kuliah dan yang perempuan udah kelas satu SMA.
"kalian,di beri makan apa sih sama mommy, dan Daddy "ucap Elena.
"ya makan nasi lah masa makan orang"ucap Anisa, yang kini baru bersuara, biasanya dia paling kalem.
"sama ternyata hehehe ucap Elena,sambil menyetir, tidak terasa dengan candaan mereka sepanjang perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di full house, dan mereka berempat begitu terkagum-kagum, melihat keindahan hunian tersebut, yang di tunjang dengan keindahan alam nya.
"Owh ya ampun tau gini, aku ikut pindah dengan kak, Edgardo"ujar kedua gadis ABG tersebut.
"memang nya, siapa yang mau nampung gadis rusuh kaya kalian berdua"ujar Elena, cuek.
"ih... dasar Elena, syirik"ujar Alisa mencabik.
Edgardo, pun datang, setelah menemani istri nya yang kini tengah tidur siang.
"owh,adik kecil kakak, kalian sudah datang rupanya,ayo masuk sayang"ucap Edgardo setelah memeluk, kedua gadis kesayangan nya itu.
"owh jadi cuman mereka yang di suruh masuk, heuhhhhh,dasar kakak,durjana "ujar Ardi dan Ardan kompak sambil nyelonong masuk, mereka tidak perduli dengan Edgardo, yang kini geleng-geleng kepala, melihat tingkah, konyol adik laki-laki nya itu.
"udah jangan di pikirin, mereka memang tidak ada ahlak"ujar Elena,sambil tertawa, Edgardo pun ikut tertawa,sambil menggandeng kedua adik kesayangannya itu.
"kalian, pilih kamar kalian sendiri, tapi tidak boleh kamar yang sudah ada nama depan pintu nya"ujar Edgardo, yang mewanti-wanti sebelumnya.
"baik kak, terimakasih"ujar keduanya,sambil mencium pipi Edgardo,kanan kiri masing-masing, sesuai tempat mereka berdiri.
"owh,adik manis"ujar Edgardo,sambil mengacak rambut keduanya, sementara yang laki-laki, jangan di tanya mereka berlaku sesuka hati, saat ini bukan nya memilih kamar mereka malah mengerjai para pelayan yang hendak menyiapkan kebutuhan mereka, akhirnya mereka tertawa terbahak-bahak, sementara itu Edgardo, sedikit kesal.
"kalian, jangan kurang ajar, mereka juga manusia sama seperti kita, minta maaf atau aku telpon mommy"ujar Edgardo.
"iya-iya,bawel "ujar keduanya bersamaan, mereka memang kadang usil tapi masih bisa di nasehatin seperti saat ini, dan akhirnya mereka memilih kamar mereka masing-masing.
ada dua belas kamar di rumah tersebut, enam di atas dan enam di bawah, rumah itu sangat megah, rumah berlantai tiga, full kaca di bagian tertentu,memang benar-benar sangat indah,ke empat adik nya saat ini begitu menikmati liburan nya saat ini.
pagi dan sore Edgardo, menyempatkan untuk memasak di bantu ketiga wanita kecuali istrinya yang benar-benar,ia manja kan saat ini.
sementara para pelayan hanya bertugas membersihkan tempat tersebut, Edgardo, memiliki kantor sendiri di rumah tersebut, jadi dia pergi ke kantor pusat hanya sesekali saja, itupun jika Senny, tidak ada keluhan, karena, Edward membantunya sesekali untuk menghadiri meeting penting, dia tidak mau terjadi apa-apa, dengan calon cucunya itu, Edward , begiitu bahagia saat ini, karena akan mendapatkan cucu pertama nya dari si bontot.
sementara itu di full house, mereka tengah berada di halaman rumah, yang cewek sibuk berfoto dengan berbagai sport sementara yang cowok,sibuk dengan game online sambil sesekali mengerjai pelayan, minta ini itu yang gak penting yang penting mereka bahagia, dan tertawa riang.
sementara itu Edgardo, sedang sibuk dengan laptop nya sambil duduk selonjoran di tempat biasa dengan istri nya, berbeda dengan Elena, yang kin tengah melakukan yoga.
masih di halaman, sementara Ardi, yang usil langsung mengangkat tubuh Elena, yang sedang melakukan gerakan mengangkat satu kakinya, hingga ia kaget dan memukul-mukul adiknya itu.
"Hey, Ardi kamu itu usil banget sih kakak, sedang konsentrasi juga, dasar adik gak ada ahlak"ucap Elena. yang gagal melakukan yoga kini kedua adik laki-laki nya menghimpit nya di sofa, mereka memperlihatkan mobil sport keluaran terbaru, Ardi, dengan manja nya minta di belikan itu.
"kakak, lihat ini deh, aku mau yang ini sekarang juga"ujar Ardi.
"aku juga Elena"ucap Ardan.
"owh ya ampun, kalian ini kakak, kira ada apa, kalian dengar ya, Elena,belum bekerja, saat ini, masih cari kerja tepat nya, jadi belum bisa belikan yang kalian mau, kenapa tidak minta Daddy, saja"ujar Elena,sambil mengusap puncak kepala keduanya.
"ah malas minta Daddy,paling dia berkata kerja dulu baru dapat, sementara itu kita harus kuliah"ujar Ardi.
"gini, aja Elena,janji akan usaha kan yang kalian mau tapi janji harus kuliah dengan benar dan hanya satu mobil ok, kalian harus berbagi"ujar Elena.
"iya deh gak apa-apa, yang penting kita dapat iya kan de.."ucap Ardi.
"heumm, Ok lah"ujar Ardan.
"tapi kapan Elena, aku udah gak sabar"ucap Ardi.
"nanti, setelah gaji Elena, keluar"ucap Elena,sambil tersenyum manis dan pergi kedalam untuk memberikan diri yang masih keringetan setelah Yoga yang sempat terganggu.
__ADS_1
Elena, pun melamun, dia memegang kartu pemberian Wiliam, black cards, tersebut dan berulang kali berpikir untuk menggunakan itu atau tidak, sebenarnya Elena, juga punya kartu yang sama dari Edward dan Soraya, hanya saja dia tidak ingin terus bergantung pada keluarga nya, walaupun mereka orang super kaya.
Elena, ingin menghasilkan uang sendiri, walaupun tidak sebesar milik Daddy, dan mommy nya saat ini.
akhirnya, Elena, mengirim sebuah pesan pada Wiliam, meminta izin untuk menggunakan kartu tersebut, dan Elena, janji akan segera mengganti uang nya setelah bekerja kembali.
Wili, yang mendapat kan pesan setelah sekian lama ia akhirnya langsung membalas.
✉️"itu milik mu honey , gunakan lah sesuka hati mu"Wiliam.
✉️"aku akan segera mengganti nya"Elena.
✉️"jangan pernah lakukan itu, jika kamu masih ingin tinggal dengan bebas di sana"Wiliam.
Elena, tidak membalas lagi, dia berpikir apa maksud dari kata-kata Wiliam, saat ini.
setelah selesai mandi Elena, pun langsung memesan mobil tersebut, dan langsung membayar nya saat itu juga,.mobil tersebut akan tiba dua Minggu lagi maklum itu mobil impor.
setelah selesai Elena, turun, dan bergabung untuk makan siang, saat ini mereka sudah duduk di meja makan, dan pelayan menghidangkan makanan tersebut.
"mobil akan tiba dua Minggu lagi"ujar Elena, dan langsung di sambut kecupan di pipi oleh kedua adik laki-laki nya itu, sementara Alisa dan Anisa hanya mencabik.
"kalian kenapa mau juga"ujar Elena.
"kakak, pilih kasih"ujar mereka berdua kompak.
"satu-satu dulu itu juga kakak, pinjam uang temen,nanti setelah lunas kakak beli untuk kalian"ucap Elena, yang langsung menyendok makanan itu dan melahap nya.
sementara Edgardo, hanya diam dia tau kakak, nya sedang punya beban berat akhir-akhir ini,ya walaupun semua orang tau Elena, tidak pernah kekurangan uang.
"jangan belikan mereka mobil, mereka masih kecil, bahaya"ucap Edgardo, dan kedua adik perempuan nya itu hanya mengangguk mereka selalu menuruti keinginan Edgardo.
"lagian, aku juga belum ada uang untuk itu kalian minta yang lain saja, perhiasan misalkan atau gaun"ucap Elena.
"hemm kami bukan emak-emak yang suka dengan perhiasan kaya gitu, cukup belikan,kami sepatu, keluaran terbaru dari Gucci"ujar keduanya kompak.
"baik lah"ucap Elena, dia menyanggupi nya, karena, tabungan nya, masih cukup untuk membeli barang tersebut.
"ya,lagi seru-serunya, mati listrik lagi"ujar mereka berempat kecuali Senny, dan Edgardo, juga Elena, yang terlihat biasa saja.
"seperti nya ada perbaikan "ujar Edgardo, yang langsung meminta asisten nya untuk menyalakan tenaga listrik cadangan, yang berada tak jauh dari lokasi rumah mereka.
setelah nunggu lima belas menit, akhirnya lampu kembali menyala, tapi sayang moodnya hilang, mereka pun langsung memutuskan untuk tidur siang, begitu juga dengan Senny dan Edgardo, hanya Elena, yang duduk termenung saat ini sambil menonton film yang bahkan tidak pernah di perhatikan nya, hanya suara TV, yang berisik tapi pikiran Elena,melayang.
Elena,sangat merindukan Wili, tapi dia enggan untuk menghubungi nya terlebih dahulu, tadi pun dia lakukan dengan terpaksa, Elena, tidak ingin mengganggu, kebahagiaan Wili, saat ini.
🌹💖💖💖🌹
satu bulan berlalu, saat ini Elena, sudah mulai bekerja di firma hukum, milik sahabat Daddy nya tersebut.
dia sudah mulai di sibukkan dengan, kasus-kasus yang kini sedang di tangani nya, Elena,di tempat kan di bagian kriminal, saat ini kasus-kasus yang lumayan rumit ia selalu bisa menyelesaikan nya dengan tenang.
Elena, adalah satu-satunya pengacara wanita yang di tempat kan, untuk menangani klien, nya yang sebagian banyak terlibat kasus kriminal.
semua, klien puas dengan cara kerja Elena, saat ini, tapi tak jarang juga Elena, mendapatkan teror, dari lawan nya, saat ini tapi Elena, tidak ingin ambil pusing, dia sudah tau semua pekerjaan yang ia jalani pasti memiliki resiko yang cukup besar, tapi kembali lagi dengan tekadnya yang kuat untuk menegakkan hukum yang seadil-adilnya saat ini.
walaupun, Elena, tidak pernah mengeluh akan hal itu, Edward, dan Aditya, sudah menempatkan pengawal bayangan, untuk melindungi putri mereka saat ini, Edward dan Aditya,tau tidak mudah menjadi Elena, saat ini tapi keluarga selalu memberikan dia support.
kini adalah hari weekend, seperti biasa Elena, akan mengunjungi, Edgardo,sang adik dan melihat perkembangan Senny, yang kini tengah mengidam berat, Elena, ditemani oleh Edward,menuju full house, dan sesampainya di sana mereka di sambut dengan keadaan Senny, yang tengah menangis karena badan nya semakin gemuk, saat ini.
"sayang kamu kenapa??"ucap Edward, yang baru saja masuk.
"Daddy, badan ku jadi gendut, aku malu dengan Edgardo"ujarnya, padahal sang suami selalu memujinya.
Edward pun tersenyum.
"sayang, wanita hamil itu sudah biasa, seperti itu, dan lagi itu adalah hal yang wajar"ujar Edward sambil mengelus punggung menantunya itu.
"iya kan sudah aku bilang sayang, apa pun keadaan mu saat ini kamu tetap cantik dan seksi di mata ku dan aku sangat mencintaimu"ujar Edgardo, yang kini memeluk dan mencium nya.
sementara itu Elena, hanya geleng-geleng sambil tersenyum.
"Daddy, Daddy mau minum apa"ucap Edgardo.
__ADS_1
"heumm, Air putih saja sayang, Daddy tidak terlalu suka dengan kopi akhir-akhir ini"ujar Edward.
"hemm, Daddy,memang sudah seharusnya berhenti merokok dan minum kopi, harus banyak minum air putih dan juga vitamin"ujar Elena.
"iya sayang, Daddy , akan mencoba nya"ucap Edward.
mereka pun berbincang dengan hangat saat ini hingga malam tiba, setelah makan malam mereka bubar ke kamar masing-masing saat ini, saat Elena, hendak merebahkan tubuhnya, ponsel nya berdering panggilan video masuk my love, nama yang muncul setelah sekian lama .
"sayang, kamu apa kabar"ucap Wili.
"aku , seperti yang kamu lihat, Oya, apa kabar dengan anak dan istri mu??"ucap Elena,
"sayang, penting kah itu??"ucap Wiliam, yang sebenarnya tidak ingin membahas orang lain selain mereka.
"maaf kalau aku salah"ucap Elena.
"kamu tidak pernah salah, justru aku yang bersalah maafkan aku Elena, sayang aku belum bisa memberikan mu setatus yang jelas"ujar Wiliam, yang langsung menarik nafas dalam-dalam.
"jangan pikirkan hal itu, aku tidak pernah meminta nya"ucap Elena,sambil membuang pandangannya.
"sayang, aku sangat merindukan mu, tidak bisakah kamu kembali ke sisiku saat ini"ucap Wiliam.
"Wili, aku sudah putuskan untuk tinggal di sini, aku bahkan sudah mulai sibuk dengan pekerjaan ku saat ini, kuharap kamu selalu bahagia bersama nya"ucap Elena, lirih.
"bagaimana cara nya aku bisa bahagia semetara separuh jiwaku pergi,menjauh dari ku bahkan tanpa seizin ku"ucap Wiliam, yang ki masih duduk di kursi kebesaran nya, Wili,kini tengah berada di kantor nya.
"Wil, aku mohon jangan bahas itu, aku harap kamu bisa mengerti"ujar Elena.
"ya, aku selalu mencoba untuk mengerti itulah kenapa aku tidak datang untuk menjemput mu dengan paksa, saat ini"ucap Wili, sedikit penuh penekanan di balik kata-kata nya.
"Wil, aku sudah transfer uang yang waktu itu aku gunakan, maaf kalau aku keterlaluan, sudah memakai nya untuk membelikan adikku mobil"ujar Elena.
"aku tidak akan pernah menerima semua nya,aku akan kembali kan uang nya jika kamu masih ngotot untuk membayar nya, aku akan datang untuk membawamu kembali, dan jangan harap kamu bisa terbebas dari ku"ujar Wiliam, marah.
"Tapi, Wili,..."
"tidak ada tapi-tapian dengarkan aku atau kamu akan tau akibat nya"ucap Wili, dengan wajah merah menahan amarahnya.
"terserah kamu saja, aku tidak mau, seperti ini"ucap Elena, sambil mematikan sambungan telepon nya, tapi hanya sepersekian detik, Wili langsung menghubungi nya lagi.
"Elena, kamu sudah berani, memutuskan telpon, saat ini aku sudah sangat bersabar jika kamu seperti ini terus jangan salahkan aku, aku akan segera menikah dengan mu saat itu juga"ucap Wiliam.
"Wil, kamu emosional, aku tidak ingin melihat itu, sebaiknya telpon aku saat kamu tenang"ucap Elena.
"jangan pernah berani mematikan ponsel nya lagi atau aku akan langsung terbang ke sana saat ini juga"ujar Wiliam.
"Wil, kamu bisa nggak bicara baik-baik, aku cape", ucap Elena.
"aku sudah bicara baik-baik, sayang tapi kamu yang selalu mancing aku terus, aku juga tidak ingin marah sayang, aku tak ingin marah pada mu, tapi aku mohon, please, jangan bahas yang lain,selain cinta kita, aku mencintaimu"ucap William,sambil mengusap layar ponsel nya, dia begitu rindu ingin membelai wajah cantik,milik wanita yang sangat di cintai nya, dan bibir Elena, yang selalu menjadi candu untuk nya.
"aku tau ... tapi maafkan aku, mungkin untuk saat ini aku belum bisa membalas nya"ucap Elena, yang menitikkan air mata, Elena, cinta dengan pria ini tapi Elena, harus berusaha menutup atau membuang semua nya, karena William tidak akan pernah menjadi miliknya seutuhnya, Elena, hanya akan jadi penghancur hubungan suami istri yang saling mencintai itu.
"jangan menangis sayang, aku tak ingin melihat mu menangis saat ini"ujar Wiliam.
"aku hanya sedih kenapa harus seperti ini, apa aku terlalu jahat karena telah hadir di antara kalian"ucap Elena,lirih.
"jangan katakan itu , Elena, sudah bertapa kali aku katakan, jangan bahas yang lain nya"ucap Wiliam,sambil memeluk meja emosi nya, saat ini benar-benar tidak bisa di kendalikan, Wiliam, melempar semua barang yang ada di atas meja selain ponsel yang kini tengah menampakkan tangis Elena yang pecah, karena sakit hati melihat Wiliam, begitu emosi saat ini.
"cukup Wil, hentikan maafkan aku, aku minta maaf semua salah ku,hiks hiks hiks aku minta maaf"ucap Elena, yang kini menutup wajahnya membenamkan wajahnya itu di bantal dia tidak menghiraukan Wili ,yang kini memanggil nama nya.
"baiklah jika itu yang kamu mau, aku akan menjemputmu saat ini juga"ucap Wiliam.
"Wil, aku mohon jangan lakukan itu"ucap Elena, yang langsung melihat ke arah ponsel nya, Elena, memohon kepada Wiliam, agar tidak melakukan hal yang ia katakan.
"aku tidak mengerti dengan kamu saat ini Elena, kamu bahkan tidak ingin bertemu dengan ku lagi, apa salah ku Elena,ayo katakan apa salah jika aku mencintaimu dan benar-benar menginginkan mu untuk tetap di sisi ku.
"Wil, kamu tidak pernah salah, aku yang salah di sini aku telah jatuh cinta pada pria yang jelas-jelas memi"ucapan Elena terpotong
"stop, Elena, jangan di terus kan , harus berapa kali aku katakan, jangan bahas itu lagi, aku benci"Wili melempar laptop nya, hingga tercerai berai, lagi-lagi Elena, hanya bisa menangis dalam diam, saat ini.
"aku tidak akan menunda lagi sekarang juga aku akan segera kesana"ucap Wili tegas.
Elena hanya diam tanpa kata sekeras apapun ia melarang Wili, semua akan percuma, Elena, hanya tidak ingin lagi berdebat dengan nya.
__ADS_1