
sementara Al Bara, yang tidak pernah menyerah untuk mendapatkan cinta dari Aryanti, dia terus menerus berusaha tanpa henti seperti saat ini dia selalu mengirimkan bunga dan makan siang kesuksesan Aryanti, walaupun dia tidak pernah mencantumkan nama nya di sana tapi Aryanti,tau kalau itu adalah perbuatan bara, tapi Aryanti, masih enggan untuk membuka pintu hati nya yang terlanjur sakit.
"aku tau kamu tidak akan pernah berhenti tuan bara tapi, hati ini sudah terlanjur sakit, mungkin untuk perbuatan mu yang pertama masih bisa kumaafkan karena dengan kejadian itu kini ada cinta yang hadir di hidup ku, aku mencintai putra kita, yang ada di sini"ucap Aryanti sambil mengelus perut buncitnya saat ini.
sementara itu di New York, Wiliam, hanya bisa menunggu saat yang tepat untuk dia kembali bertindak , agar bisa kembali memiliki Elena, tanpa sepengetahuan istrinya kini yang begitu mendominasi, semenjak sembuh dari sakit nya, dia begitu mengendalikan Wiliam, dari mulai urusan pekerjaan dan urusan ranjang, Wili, tidak punya kebebasan seperti sebelumnya istrinya begitu posesif , bahkan jika sedikit saja Wili terlambat pulang kerja dia pasti ngambek dengan alasan Wili, sudah berubah, dan itu membuat Wili , harus ekstra membujuk nya, istrinya benar-benar manja saat ini.
hati Wili, selalu diliputi dilema yang berkepanjangan bagaimana tidak di sisi lain Wili,sangat bersyukur istrinya kembali sehat, tapi di sisi lain Wili, memiliki cinta yang begitu besar untuk wanita yang kini jauh darinya bahkan dinyatakan hamil, oleh pria lain, yang di rekayasa oleh Edgar,sang kakak, dan Wili, tidak tahu itu.
satu tahun berlalu, kini Aryanti, dan Senny, sudah melahirkan anak yang kini berusia sembilan bulan anak Edgardo, dan empat bulan anak Aryanti, mereka selalu berpegian bersama seperti saat ini mereka sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan, sedang Elena, yang datang menyusul setelah menyelesaikan persidangan, saat ini dia langsung menghampiri putra nya , yang di lahirkan oleh Aryanti.
"anak mommy, sayang mommy , begitu merindukan mu, apa kabarmu hari ini sayang ku muachh muachh muachh"ucap Elena,sambil mengangkat tubuh putra kesayangannya itu dan menghujani dengan ciuman.
"aduh yang baru punya anak sampai lupa dengan keponakan nya sendiri"ucap Senny, pura-pura merajuk.
"owh, ya ampun aunty, minta maaf sayang ku aunty, tadi tidak melihat mu"kata Elena,sambil memeluk putra Edgardo , tersebut dan menghujani dengan kecupan dan gigitan gemas di pipinya, hingga bayi berusia sembilan bulan itu menangis kencang.
"aduh aunty, jahat nih mana ada sayang nya di gigit begitu"ucap Senny.
"maaf kan aku habisnya kamu itu gemesin banget aunty, jadi semakin bersemangat untuk ciuman kamu"ucap Elena, sambil tersenyum manis bayi itu seperti mengerti dia membalas senyuman Elena.
"tuh kan dia goda aku banget"ucap Elena, tanpa Elena,sadari bahwa di belakang Elena, Wiliam sudah mendekat bersama beberapa bodyguard nya.
"Elena, aku ingin bicara"ucap Wiliam, tiba-tiba Elena,terpaku tanpa menoleh ke belakang, dia mengenali suara pria yang selama ini berusaha ia lupakan.
"Elena, apa kamu tidak mendengar ucapan ku"ucap Wili.
Elena, menahan sekuat hati untuk tidak melirik ke arah mereka, dan dia sibuk menggedong Addrian putra Al Bara,di dekapan nya.
"Senny, sebaiknya kalian berkeliling duluan, aku ingin istirahat sejenak dengan putra kesayangan ku ini"ujar Elena, yang kini berjalan menuju kursi yang tersedia di area tempat tersebut.
Elena, duduk tanpa menghiraukan tatapan elang Wiliam, yang sudah sangat marah karena di cuekin oleh wanita yang sangat ia rindukan selama ini.
"sayang kamu tau gak mommy, hari ini memenangkan kasus persidangan lagi, dan dengan begitu berarti mommy, bisa mengajak mu untuk pergi berlibur di rumah Tante Senny yang indah itu"ucap Elena.
tiba-tiba, Wili, langsung duduk di samping nya, dan mengambil alih bayi tersebut.
"sayang kamu pergi sama mommy, kandung mu dulu ya, saat ini mommy, angkat mu mau ikut aku"ucap Wiliam, yang langsung memberikan bayi itu kepada Aryanti, yang kini di apit oleh kedua bodyguard nya Wili.
"Wiliam, kamu apa-apaan sih, dia itu putra ku satu-satunya nya"ucap Elena.
"dia anak orang lain honey , dan jika kamu ingin anak, kita bisa membuat nya sekarang juga"ucap Wiliam,sambil mendekat memeluk erat tubuh Elena, yang kini memberontak.
"Wiliam, lepas kamu sudah kembali bahagia dengan nya, kenapa harus kembali mengganggu ku"ucap Elena,pelan tapi penuh penekanan, saat ini dia tidak ingin semua orang mendengar nya.
"kamu salah sayang, tanpa mu aku tidak pernah bisa bahagia"ucap Wiliam, yang kini mencondongkan tubuhnya berbisik di telinga Elena.
"kamu itu serakah"ucap Elena, yang kini mendekat ke arah Aryanti.
"Aryanti, kamu bisa pulang bersama kak, Senny, aku ada urusan"ucap Elena, yang di jawab anggukan kepala oleh Aryanti, dan Senny.
Elena, pun melangkah pergi di ikuti oleh Wiliam, dan orang-orang yang selalu mengawal William.
__ADS_1
"Wili, apa maumu??"ucap Elena, setelah sampai di kafe, depan pusat perbelanjaan tadi.
"aku mau kita menikah sayang"ucap Wili, lembut.
"baiklah, kita akan menikah tapi dengan satu syarat, istri mu harus tau semuanya, dan dengan izin nya kita akan menikah tapi jika tidak jangan pernah bermimpi lagi untuk menikah dengan ku, karena aku tidak ingin menyakiti hati wanita lain, dan asal kamu tahu, selama ini aku tau semua kabar tentang istri mu dan kebahagiaan kalian, jadi tidak ada alasan lagi untuk mu, saat ini untuk mendekati aku"ucap Elena.
"Tidak,itu tidak mungkin, Elena,mau tidak mau saat ini juga kita akan menikah"ucap Wiliam..
"aku sudah bilang aku tidak akan menikah tanpa restu dari istri mu"ucap Elena,sambil bangkit dan beranjak pergi dari hadapan Wiliam,namun tangan nya di cekal Wiliam, dan Elena,di seret paksa menuju mobilnya.
"lepas Wili, aku tidak akan melakukan itu sebelum kamu mengikuti apa yang aku katakan"ucap Elena, tapi Wiliam, tidak menggubris kata-kata Elena dia membawa pergi Elena, saat itu juga menuju apartemen milik Wiliam, yang baru satu bulan ia beli apartemen nya sangat mewah, terlihat dari interior yang terpangpang jelas di hadapan mata.
"ini punya siapa Wili??"tanya Elena
"ini milikmu sayang,milik kita berdua"ucap Wiliam.
"jangan bohong Wili, aku tidak pernah mengharapkan apapun dari mu"ucap Wiliam.
"mungkin saat ini tidak sayang tapi jika kita sudah memiliki anak kamu akan mengerti semua nya"ucap wili.
Wiliam,membawa Elena, kedalam kamar utama nya sesampainya di sana Wili langsung mengunci pintu kamar nya dengan sidik jari nya.
"Wili, aku mau pulang, aku harus segera memberikan Addrian susu "ucap Elena.
"kau tidak melahirkan anak itu jadi susu itu hanya alasan mu saja"ucap Wili,tegas, dia langsung memeluk Elena, dan mencium bibir Elena, dengan lembut Elena hanya diam tak membalas sama sekali hingga Wiliam, menggigit bibir bawahnya, dan Elena, langsung memekik dan akhirnya bibir nya terbuka Wiliam, langsung memperdalam ciuman itu.
🌹💖💖💖🌹
satu jam berlalu kini Elena, sudah hampir kehabisan akal agar bisa menghindari Wiliam, yang semakin menggila, saat ini berkali-kali,Wili mencoba menjamah tubuh elena namun Elena, selalu menolak nya dengan halus.
"Wiliam, semua itu sudah tidak pantas lagi kita bicarakan kamu sudah bahagia dengan istri mu, dan dia sudah sembuh total, apa lagi yang kurang, aku tidak akan menerima cinta mu lagi, tolong tinggalkan aku Wil... aku tidak akan pernah bisa bahagia jika kamu masih se egois ini, aku memang mencintai mu, tapi aku sudah berusaha melupakan mu, setelah milihat betapa bahagianya"ucapan Elena, terpotong dengan ciuman Wiliam, yang benar-benar, tidak bisa lagi di tolak, Elena pasrah dengan perlakuan Wili, dia akan berikan yang Wili ,mau setelah itu dia akan pergi jauh dari Wili untuk selamanya.
malam pertama Elena, pun terjadi, Wili begitu terhanyut di dalam nya, saat ini ia bahkan begitu bahagia, saat ini karena sudah mendapatkan Elena, seutuhnya, tanpa Wiliam tau Elena, punya rencana lain setelah ini, setelah mencapai puncak berkali-kali,kini Wiliam, pun terkulai lemas,di samping Elena, dia menyelimuti tubuh mereka berdua dan memeluk Elena, saat itu juga Wiliam, terlelap dalam tidur nya.
sementara itu Elena berusaha bangkit dan berjalan sedikit menyeret langkah nya dia berusaha mengambil pakaian nya yang berserakan namun saat ia lihat bajunya tidak lagi utuh saat ini, Elena pun langsung bergegas menuju lemari yang tersedia di sana sambil sesekali menoleh ke arah Wiliam, yang masih tertidur, Elena, mengambil kemeja putih milik Wiliam, saat ini dan memasang kan ke tubuh nya saat itu juga, dan berjalan menuju pintu kamar, saat dia sedang berusaha membuka pintu, tiba-tiba lengan kekar sudah melingkar di pinggang nya saat ini.
"aku tau kamu akan melakukan hal ini, Elena, tapi apa kamu pernah berpikir dengan semua ini apa masalah bisa selesai"ucap Wiliam, Elena, hanya diam tanpa kata dia menangis dalam diam, lalu apa gunanya cinta yang Wiliam, selalu katakan jika saat ini dirinya bahkan hanya dijadikan pelampiasan dan harus puas hanya dengan menjadi yang kedua.
setelah mereka saling diam Elena, menatap Wili,lekat wajah tampan itu semakin membuat hati nya terluka.
"wil, aku harus bekerja, jadi harus segera pulang dan putra ku tak akan pernah bisa tidur tanpa aku di sisi nya"ucap Elena, lembut.
"kamu bisa pergi bekerja dari sini, dan jadikan anak orang lain, sebagai alasan.
"dia putra ku, Wiliam, bukan orang lain"ucap Elena, tegas.
"putramu,baru akan tumbuh saat ini sayang ku, ngerti gak sih"ucap Wiliam, yang kini membawa Elena kedalam pelukannya.
"Wiliam,hiks hiks hiks, please mengerti aku sekali ini saja, aku tidak mau jadi yang kedua, dan aku tidak ingin memisahkan mu dari cinta kalian"ucap Elena,sambil berderai air mata, Wiliam kini menatap lekat wajah cantik yang basah dengan air mata itu.
"sayang please, bersabar lah, kita akan tetap menikah, dalam waktu dekat ini, dan sampai saat itu tiba, saat dimana hanya kamu yang akan menjadi istri ku satu-satunya, aku ingin kita tetap bersama, dan aku ingin kamu bersabar"ucap Wiliam, lembut.
__ADS_1
Elena, yang sudah sangat lelah dengan hati dan pikiran nya saat ini langsung jatuh tak sadarkan diri, dan Wili, yang langsung menahan nya, dan membawa nya ke atas ranjang mereka saat itu juga Wili, langsung meminta asisten nya untuk menghubungi dokter.
malam semakin larut, Dokter, sudah memeriksa kondisi Elena, yang dinyatakan kelelahan dan sudah memasang infus di tangan nya saat ini Elena, tapi juga masih tidak sadarkan diri.
"sayang, maaf kan aku jika aku egois, aku sangat mencintaimu dan aku sangat takut kehilanganmu"ucap Wiliam, lirih sambil mengecup puncak kepala Elena, sedikit lebih lama.
ke esokan pagi nya Elena, yang sudah sadar saat ini dia langsung mencoba bangkit, tapi dia kaget saat melihat, tangan nya terpasang infus.
"apa yang terjadi??"ucap Elena, bertanya-tanya sendiri.
"sayang kamu sudah bangun sekarang,ayo sarapan dulu"ucap Wiliam, yang kini berjalan sambil membawa nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air putih, dan tak lupa dia juga membawa vitamin, untuk Elena, saat ini.
Elena, hanya diam sejenak dan lalu berkata "Wili, aku sangat tidak nyaman tolong lepaskan ini aku ingin mandi dulu"ucap Elena.
"baiklah sayang aku akan melepaskan itu, dan setelah itu kamu bisa mandi tapi setelah itu kamu harus langsung sarapan"ucap Wiliam, yang langsung di jawab anggukan kepala oleh Elena.
dengan hati-hati Wili melepaskan jarum infus tersebut lalu menempelkan perban kecil di bekas jarum tersebut, seperti yang di sarankan oleh dokter, semalam.
akhirnya Elena pun langsung bergegas menuju kamar mandi, langkah nya masih tersendat-sendat bagaimana tidak semalam dia baru saja melepaskan mahkota nya untuk orang yang dia cintai dan Wiliam, tidak hanya melakukan itu satu kali tapi berkali-kali.
"sayang butuh bantuan??"kata Wiliam, yang bahkan tidak menunggu persetujuan dari Elena, dia langsung mengangkat tubuh Elena, dan membawanya ke dalam kamar mandi dan mengisi air dalam bathtub, dan memberikan tetesan aroma terapi kedalam nya.
"Wiliam, tinggal kan aku sendiri"ucap Elena.
"aku hanya akan membantu mu mandi sayang"ujar Wiliam.
"tidak perlu aku bisa sendiri Wiliam"ucap Elena.
"sayang jangan membantah, aku sayang kamu"ucap Wiliam.
"Wil, aku malu aku mohon pergilah"ucap Wiliam.
"malu, aku bahkan sudah melihat dan merasakan semua itu sayang"ucap Wili,sambil tersenyum kearah Elena, yang kini memalingkan wajahnya.
"dengan begitu kamu bisa melepas ku pergi Wili, aku sudah memberikan apa yang kamu inginkan dan kamu bisa kembali bahagia dengan nya"ucap Elena lirih.
prang....kaca itu pecah berkeping-keping tepat di hadapan Elena"jangan pernah berpikir kau akan bebas Elena, aku bukan pria , seperti yang kau tuduh kan setelah mendapat kepuasan akan pergi ninggalin kamu begitu saja, tidak Elena, sampai aku mati pun aku tak akan pernah melepaskan mu"ucap Wiliam sambil menatap tajam kearah Elena, yang masih syok melihat kemarahan Wili saat ini darah bercucuran dari telapak tangan Wiliam, yang tergores pecahan kaca.
"Wili"ucap Elena,sambil bergetar dia tidak pernah mengira,Wili akan semarah ini, dia bahkan tidak memperdulikan luka nya"Wiliam aku mohon jangan seperti ini hiks hiks hiks, aku sangat takut, aku tidak bisa melihat mu seperti ini, William, tangan mu berdarah"ucap Elena, yang hendak memegang tangan Wili, namun Wiliam, menjauhkan tangan nya dan pergi begitu saja, meninggalkan Elena, yang kini menangis sesenggukan di dalam kamar mandi.
Elena, pun buru-buru menuntaskan mandi nya dan segera meraih, bathroob, dan memakai kan itu di tubuhnya, dia juga melilit kan handuk di kepala nya agar rambut basah nya segera kering, dia langsung keluar dari kamar mandi dia bahkan tidak memperdulikan rasa perih di bagian inti tubuh nya, dan saat dia keluar dia tidak melihat Wiliam di sana, dia langsung meraih kemeja milik Wili, dan langsung memakai kan ketubuh nya saat ini dia masih menggunakan lilitan handuk di kepala, saat itu dia langsung keluar dari kamar berjalan menuju tangga saat itu nampak Wili , sedang meneguk Wine dari gelas nya, tanpa memperdulikan keberadaan nya Elena, bisa melihat bahwa luka ditangan Wiliam, masih mengeluarkan darah segar.
Elena, berjalan menuju dapur saat itu juga dia langsung mencari kontak obat yang biasa nya ada di area itu, dan Elena pun menemukan nya,tak hanya itu dia mengambil air hangat dan juga handuk kecil di tempat lain dia menghampiri Wiliam dan duduk di samping nya menyimpan semua yang di bawa nya tadi ke atas meja, saat Elena , hendak mengambil tangan Wiliam, dia menolak.
"jangan setuh itu , aku tidak ingin di sentuh oleh wanita yang sama sekali tidak mencintai ku"ucap Wiliam.
"Wil aku mohon luka mu harus segera di obati jika tidak itu akan infeksi"ucap Elena, lembut .
"jangan pura-pura, perhatian, aku muak, kamu bisa pergi dengan bebas mulai saat ini"ucap Wiliam.
"Ok, Wili, terserah kamu jika ingin membuang ku saat ini juga, tapi tolong izinkan aku untuk mengobati luka mu saat ini"ucap Elena, yang sekuat tenaga menahan tangisnya.
__ADS_1
"aku tidak butuh"ucap Wiliam, yang kini hendak pergi, tapi langkah nya di cegah"baik'lah Wili, jika itu mau mu, aku akan pergi sekarang juga terimakasih atas semua ini aku harap kamu akan lebih bahagia lagi setelah ini"ucap Elena, yang kini berlari menuju pintu, dengan air mata yang tidak bisa di bendung lagi, dia bahkan tidak perduli dengan penampilan nya saat ini Elena, membuka pintu dan berlari ke luar menuju lift tapi tangan nya di tarik seseorang yang kini membawanya kembali masuk kedalam apartemen tersebut.
"aku tidak menyuruh mu pergi dengan pakaian seperti ini pergi dan ambil barang mu di kamar ku"ucap Wiliam, Elena, pun masuk kedalam kamar Wiliam, dan langsung memakai baju miliknya yang sedikit robek di bagian dadanya, dia juga mengambil tasnya dan kembali turun tapi lagi-lagi langkah nya terhenti saat Wiliam melempar sebuah amplop coklat berisi uang .