Sugar Daddy

Sugar Daddy
#Kandas#


__ADS_3

Aryanti, langsung masuk dan dengan lantang nya berbicara"owh jadi ini yang dimaksud oleh tuan bara,bahwa anda akan bertanggung jawab, atas perbuatan anda terhadap saya yang kini tengah mengandung anak anda"ucap Aryanti.


Bara langsung berdiri dan menghampiri Aryanti, dia hendak memeluk, wanita itu, tapi Aryanti, menolak dan berlari pergi sambil menangis begitu saja, dia menuju ke atas gedung perkantoran tersebut dia hendak bubuh diri namun aksi nya langsung di hentikan oleh bara dan Bara , pun membawa Aryanti dalam dekapan nya.


"maaf kan, saya tadi kamu salah paham, akan semua nya dia mantan pacar saya yang minta balikan lagi, kamu ingat malam dimana kejadian kita berdua, dia lah orang nya yang telah membuat saya terluka hingga gelap mata dan kamu adalah korban nya, maafkan saya juga karena satu bulan ini saya tidak sempat memberikan kabar pada mu, karena saya sedang mengurus perusahaan milik saya di Kanada dan hari ini baru bisa kembali, saya juga tidak tau dia ada di sana"ucap Bara, Aryanti, hanya diam dalam dekapan bara dia pun turun bersama bara saat itu juga.


"Aryanti, mungkin kamu akan mengalami penolakan dari seluruh keluarga saya tapi percayalah, aku akan selalu ada untuk mu, dan aku minta jangan menyerah apa lagi putus asa dan melakukan hal seperti tadi, aku akan selalu berusaha menjaga kalian berdua dan untuk anak Daddy, bersabar lah Daddy janji sebetar lagi Daddy, akan meresmikan hubungan Daddy dan mommy mu , Daddy nunggu waktu yang tepat mungki beberapa hari ini tapi Daddy, janji tidak akan pernah meninggalkan kalian seperti kemarin"ucap Bara lembut dan kata-kata itu mampu membuat Aryanti tenang.


hari-hari pun di lalui dengan semangat hingga satu hari sebelum pernikahan sebuah insiden terjadi.


dua orang wanita cantik datang mencegah langkah Aryanti, dia bahkan sempat menyeret Aryanti dan menamparnya berkali-kali, hingga seorang dari mereka hendak menusuk Aryanti, tapi tiba-tiba Aryanti menghindar dan pisau itu menembus perut Siska mantan bara dan langsung terkapar bersimbah darah, sementara pelakunya yang tak lain adalah sahabat Siska, langsung tancap gas melarikan diri, Aryanti yang tidak tega langsung menggenggam tangan Siska, yang juga tengah menggenggam gagang pisau tersebut, dan tiba-tiba orang-orang datang dan menghakimi Aryanti, menyeret nya ke kantor polisi, dan Siska, yang tewas saat itu juga di bawa ke rumah sakit, untuk di otopsi.


Aryanti pun harus menelan pil pahit, Bara, bahkan tidak pernah hadir di sana untuk sekedar membesuk atau bertanya tentang kejadian tersebut, tapi asisten nya hadir dan memberikan sepucuk surat dari Bara.


yang isinya, mbuat dia sangat kecewa,bara mengatakan, bahwa dia mundur dari pernikahan dan menyalahkan Aryanti atas kejadian tersebut, bahkan bara menolak menerima anak seorang pembunuh.


"yang mulia, mohon izinkan saya untuk memberikan pembelaan atas terdakwa, dan menujukan beberapa bukti, sebelum Anda menjatuhkan hukum pada wanita lemah yang tidak bersalah ini"ujar Elena, dengan nada lantang karena berkali-kali pembelaan nya di tolak.


"saya persilahkan"ucap hakim ketua di persidangan tersebut.


Elena, langsung turun sendiri dari tempat nya kini berada dia menyerahkan beberapa bukti, dari keseluruhan yang ia dapatkan dari hasil penyelidikan nya,dibantu oleh orang kepercayaan kedua Daddy nya saat itu, walaupun Elena, berkali-kali, mendapatkan ancaman untuk tidak meneruskan pembelaan terhadap Aryanti.


disana,bara dan orang tua nya hadir sebagai pihak Siska, mendampingi keluarga Siska, bahkan Bara,menyewa pengacara handal yang kini menjadi lawan Elena.


setelah semua jajaran penurut umum melihat semua bukti dan rekaman cctv yang diputar berulang-ulang, hakim pun memutuskan.


"dengan bukti, yang sangat akurat yang di berikan oleh pengacara terdakwa, saat ini terdawa dinyatakan tidak bersalah, dan di bebaskan dari tuntutan hukum, dan nama terdakwa kembali bersih"ucap hakim agung.


tiba-tiba pihak keluarga Siska, tidak terima dengan kenyataan pahit itu, dia sudah kehilangan putri semata wayangnya, ditambah rasa malu pula karena korban sebenarnya adalah tersangka, dan sahabat nya kini berhasil di tangkap polisi di apartemen milik nya.


seketika Aryanti memeluk Elena, dan menangis sesenggukan Elena, pun menitikkan air mata nya,sambil membalas pelukan tersebut dan berjalan keluar mengandeng Aryanti, Elena, membela Aryanti tanpa pamrih, tanpa dibayar pula, dia tergerak saat melihat wajah Aryanti yang duduk di salah satu sel tahanan sambil menyeka air matanya dia bulan sudah Aryanti, menghubungi jeruji besi tersebut, penderitaan yang dialami nya sungguh berat saat itu apa lagi ditengah kehamilan nya yang baru menginjak satu setengah bulan.


Elena,membawa Aryanti, duduk di taman depan gedung pengadilan saat ini ia bahkan memberikan Aryanti, pakaian dan beberapa kotak susu ibu hamil dan dia juga memberikan satu kotak makanan yang istimewa seperti rencana Elena, saat sebelum pergi ke persidangan,ia menyuruh asisten nya untuk membawakan itu semua.


Bara, yang kini berada di depan parkiran, dia memandang ,penuh penyesalan, pasalnya dia sudah berlaku tidak adil pada Aryanti , yang jelas-jelas, tidak bersalah, dia bahkan sudah menyakiti hati Aryanti, dengan mengatakan bahwa dia menolak darah daging seorang pembunuh.


tiba-tiba saja seorang wanita paruh baya menghampiri mereka berdua, dan hendak menghajar Aryanti, tapi langsung dicegah oleh anak buah Elena, yang sedari tadi membayangi Elena.


alhasil hanya caci maki yang keluar dari bibir ibu Siska, terhadap Aryanti.


"hey nyonya, apa anda buta dan tuli, apa Anda tidak sadar kalau putri anda adalah seorang pembunuh yang sebenarnya, dimana letak hati nurani anda sebagai seorang wanita, Aryanti , adalah korban ketidakadilan yang kalian perbuat, apa perlu saya memberikan bukti yang lebih memberatkan keluarga anda, dan menggiring Anda ke tahanan seperti yang di alami Aryanti"ancaman Elena,ibu Siska yang sadar akan kesalahannya langsung pergi karena malu dan takut atas ancaman Elena.


sementara itu Bara, masuk dengan langkah gontai kedalam mobilnya, dia tidak tau apa kesalahan nya akan termaafkan.


"Aryanti, saat ini kamu akan pulang kemana,biar aku antar"tawar Elena.


"aku tidak ada tempat tinggal,di sini, kedua orang tua ku, ada di kampung, dan aku sangat malu untuk kembali, dengan keadaan ku seperti ini aku tau orang tua ku akan sangat kecewa bahkan, aku tidak tau apa kabar aku di penjara sudah sampai di sana atau tidak"jawab Aryanti.


"begini saja Aryanti, kamu ikut aku pulang ke rumah ku,ke kebetulan di sana aku hanya tinggal sendiri bahkan terkadang aku kosongkan karena selalu mengunjungi Daddy, dan mommy ku"ucap Elena , menawarkan tempat tinggal.

__ADS_1


Elena, tidak setengah-setengah dalam urusan menolong, Aryanti, dia merasa harus membela dan melindungi sesama nya, siapapun itu.


"aku malu Nona, aku sudah berhutang banyak padamu, aku bahkan tidak akan pernah bisa membayar nya"ucap Aryanti,sambil berurai air mata.


"kau ingin membayar nya??"kata Elena.


"tentu jika saja aku mampu"ucap Aryanti lirih.


"cukup dengan menjadi saudara ku,itu sudah lebih dari bayaran"ucap Elena.


Aryanti, tiba-tiba memeluk Elena, dan menangis sesenggukan, wanita beda usia tersebut sangat saling menyayangi satu sama lain.


"dengan cara apapun akan aku lakukan meski harus membayar nya dengan nyawaku sendiri aku siap"ucap Aryanti,sambil menangis sesenggukan.


"sudah, jangan menangis lagi, nanti keponakan ku akan protes, pasti dia akan mengira aku menyakiti mommy nya, dan satu lagi dia akan menjadi anak ku juga"ucap Elena,sambil mengelus perut buncit milik Aryanti yang menginjak usia empat tiga bulan lebih.


"terimakasih terimakasih Nona"ucap Aryanti.


setelah kembali dari tempat tersebut Elena, membawa Aryanti ke apartemen miliknya, yang sudah lama kosong, dia langsung meminta asisten nya membersihkan seluruh ruangan apartemen tersebut, dan sebelum tiba dia memerintahkan harus sudah beres.


🌹💖💖💖🌹


di dalam apartemen nya saat ini Elena, dengan telaten membantu Aryanti untuk beristirahat di kamar nya, yang sudah di bersihkan, bersebelahan dengan kamar Elena.


"nah, Aryanti, mulai saat ini juga kamu akan tinggal di sini, dan jangan pikirkan apa pun, semua kebutuhan mu, sudah tersedia di sini kamu juga harus membuang, semua pakaian, lama mu, semua sudah tersedia di sana ucap Elena, menunjukkan lemari pakaian nya .


"terimakasih Nona, hanya itu yang bisa saya ucapkan"ucap Aryanti.


"baiklah kak, jika kamu laper kamu bisa pencet tombol ini dan pelayan akan datang membawa makanan untuk mu, selama satu Minggu ini kamu dilarang keluar, dan hanya boleh menjaga kesehatan tubuh dan juga bayi mu dan jika aku sedang berada di luar rumah kamu akan di temani oleh kedua pelayan di sini"ucap Elena menjelaskan.


"aku mengerti, terimakasih banyak untuk semua nya"ucap Aryanti.


"sama-sama, saudara ku"ucap Elena lembut.


Aryanti pun mulai tertidur dengan pulas, mungkin karena rasa lelahnya yang teramat, atau mungkin juga karena kenyamanan yang diberikan oleh Elena saat ini.


sementara itu, Elena, pun tersenyum bahagia setelah menyelesaikan tugas nya hari ini, bahkan Elena, mendapatkan kebahagiaan baru yaitu saudara nya itu Aryanti plus baby nya.


Elena, pun tertidur dengan tenang saat ini tanpa memikirkan satu dan yang lain nya.


dua bulan berlalu, saat ini Elena, dan Aryanti, tengah berada di sebuah klinik untuk memeriksa kondisi kehamilan Aryanti, yang sudah masuk enam bulan jalan.


Elena,terharu melihat baby boy, yang kini sudah bergerak di dalam sana, dia bahkan tak henti mengelus berut Aryanti.


"tumbuh sehat sayang, mommy menunggu kelahiran mu"ujar Elena, yang sudah tidak sabar ingin menimang bayi tersebut.


"kak, kamu sudah menyiapkan nama untuk dia??"ujar Aryanti.


"tentu, dia akan ku beri nama Adrian"ucap Elena, begitu antusias.

__ADS_1


"nama yang bagus"ucap Aryanti.


mereka pun kembali tapi saat di perjalanan Elena, melihat Aryanti, seperti mengidamkan sesuatu.


"Aryanti, apa ada yang kamu inginkan"ucap Elena lembut.


"heumm, iya kak, aku ingin beli rujak itu"ucap Aryanti, yang menunjuk gerobak rujak tersebut.


"kamu yakin, tapi itu kurang sehat bagaimana kalau menyuruh pelayan membuat kan nya untuk mu"ucap Elena, yang khawatir.


"tapi kak, seperti nya itu enak banget"ucap Aryanti, yang melihat nya dengan mata penuh damba, Elena, pun langsung memarkir mobil sport nya di pinggir jalan dan ia mengajak Aryanti turun.


"bang rujaknya satu yang pedes banget"ujar Aryanti"kakak yakin gak pengen??"tanyanya meyakinkan.


"tidak aku tidak sedang ngidam jadi tidak ingin makan itu buat kamu saja"ucap Elena,sambil mengacak rambut Aryanti, dengan sayang.


sementara itu sepasang mata tengah memperhatikan mereka berdua, dia adalah bara, yang berada dalam mobil nya, dia melihat wanita yang selama ini mengisi hati nya, terlihat lebih bahagia, dan penampilan nya jauh lebih anggun saat ini dengan mengunakan dress selutut berwarna pink, senada dengan baju yang Elena kenakan bahkan Bara, melihat perut buncit Aryanti yang sudah membesar rasanya bara ingin menemui nya dan bersujud di kaki wanita itu untuk memohon maaf.


keduanya kini, sudah berlalu dengan mobilnya, Elena, tersenyum bahagia saat melihat Aryanti begitu menikmati rujak tersebut.


selama kehadiran Aryanti,di sisinya, dia bahkan bisa melupakan cinta nya yang rumit selama beberapa bulan ini, sementara itu di New York, kini Wiliam, sedang berbahagia pasalnya istri yang baru sadar dari koma selama dua bulan lebih itu, saat ini dinyatakan sembuh total dari penyakit yang ganas yang selama ini diderita oleh nya, mungkin berkat doa, dari Elena, juga saat terakhir kali ia temui di hotel itu.


Wiliam, tiba-tiba, merasa bersalah pada Elena, karena sudah dua bulan lebih Elena, tidak ia hubungi, dia juga rindu wanita itu, tapi Wiliam,kini lebih dilema lagi, pasalnya, istrinya sudah kembali sehat dia sangat bersyukur untuk itu, tapi dilain sisi dia sudah sangat mencintai Elena nya.


Wiliam, sempat menghubungi kekasih nya itu ratusan kali, tapi tidak bisa di hubungi saat ini bahkan ponsel Elena, tidak aktif, Wiliam merasa frustasi saat ini, dia tidak ingin kehilangan Elena, tapi dia juga tidak mungkin meninggalkan istrinya itu.


Wiliam, mendatangi kediaman Edgar, saat itu juga tapi bahkan Edgar , bilang sudah beberapa bulan ini dia juga tidak bisa menghubungi Elena, bahkan Daddy, nya bilang Elena, tidak menggunakan posel dia sibuk dengan kehamilan nya, dan itu membuat Wiliam salah paham, dan mengamuk di dalam mension Edgar,dia tidak terima Elena, hamil anak orang lain dan berjanji akan membunuh pria yang menghamili Elena.


Edgar, hanya bisa tersenyum saat ini dia berharap dengan begitu Wiliam, akan menyerah pada Elena, karena Edgar,tahu bahwa istrinya Wiliam sudah sembuh total dari penyakit nya itu, jika Elena, tidak lepas dari nya ,maka dia hanya akan melihat adiknya menangis seperti dulu sebelum dia kembali ke Indonesia.


sementara itu di kantor Elena, tengah menerima klien baru mereka juga tengah berbicara prihal kasus yang akan di selesaikan oleh Elena, tiba-tiba, seseorang masuk dengan paksa kedalam ruangan Elena, saat ini mau tidak mau Elena, menghentikan pembahasan nya saat ini karena Elena,tau siapa yang datang ke hadapan nya.


"maaf, obrolan kita di cukupkan sekian dulu, kita akan bicara kan itu lagi besok"ujar Elena, dengan hormat, dan tamu pun berpamitan pada nya, setelah itu Elena, mempersilahkan Bara untuk duduk.


"silahkan duduk,tuan Al Bara "ucap Elena sopan.


"terimakasih Nona Elena"ucap Bara sambil duduk menghadap Elena.


"apa ada yang bisa saya bantu??"ucap Elena.


"begini Nona, Elena,to the points saja saya ingin Aryanti, kembali dengan saya, dan saya akan segera menikah dengan nya sebelum bayi kami lahir"ucap Bara tegas.


"apa anda punya bukti,kalau Aryanti, adalah milik anda dan bayi yang di kandung nya adalah bayi Anda, bukan apa-apa,saya sudah memasukkan identitas keduanya secara sah di mata hukum sebagai anak dan keluarga saya, karena yang saya tahu ayah biologis bayi itu sudah menolak kelahiran nya dari seorang wanita pembunuh dan bukti nya sangat kuat ada di tangan saya semu"ucap Elena, sedikit menekankan kata-katanya itu.


"tapi Nona,anda tidak mengerti, aku sangat mencintai Aryanti, ya walaupun orang mungkin berpikir itu aneh tapi ini nyata saya jatuh cinta saat mendengar pengakuan nya tengah mengandung anak kami saya saat itu hendak menikah dengan nya, tapi satu hari sebelum pernikahan kami tragedi itu terjadi"ujar Bara bercerita.


"dan anda langsung menghakimi nya, saat itu juga, apa anda punya hati nurani,ok kalau anda membenci Aryanti, yang telah di tuduh membunuh kekasih anda, tapi apa anda tidak punya belas kasih pada anak anda saat itu dia juga ikut menderita,di dalam tahanan sana, mungkin anda sendiri tidak akan pernah kuat menjalani nya, bahkan anda inginkan dia membusuk di penjara, saat itu juga dengan menyewa pengacara handal, sedang Aryanti, tidak ada yang membela, dia hanya pasrah menerima tuduhan keji tersebut, beruntung saya melihat nya saat itu, dan saya rela melakukan apa saja untuk membela orang yang tidak bersalah, dan asal anda tau berapa banyak pun anda menyewa pengacara handal mereka bukan tandingan saya jika mereka berada di jalan yang salah, jadi tua Al Bara,anda harus menempuh jalur hukum untuk mendapatkan mereka berdua, dan satu lagi saya pastikan, Anda tidak akan pernah mendapatkan mereka, seberapa besar pun kekuatan yang anda miliki, dan sebanyak apapun pengacara handal yang akan anda bayar, saya tidak akan gentar membela adik saya Aryanti"ucap Elena, sangat tegas terlihat di matanya ada kilatan kemarahan.


"Nona, Elena, saya tidak akan melakukan hal itu, saya akan meminta maaf kepada Aryanti, atas perbuatan saya dan saya berharap Aryanti mau memaafkan saya, apa pun akan saya lakukan untuk mendapatkan maaf dari nya"ucap Bara .

__ADS_1


"sampai pengampunan itu datang mungkin anda akan menyerah sebelum waktunya karena yang saya tahu, Aryanti, bukan lah orang yang mudah di taklukkan saat ini, seiring penderitaan nya yang bertubi-tubi, fitnah keji hingga Aryanti kehilangan keluarganya yang sangat dia cintai dan tidak hanya itu, dia sudah bertekad untuk menutup pintu hati nya saat ini,jadi selamat berjuang untuk anda tuan Al Bara"ucap Elena,sambil berdiri dan beranjak pergi meninggalkan Bara, yang kini mematung.


__ADS_2